Sekedar ikut urun rembug. Menjaga agar bara api semangat tetap menyala itu yg sering sekali sulit mas...di awal semangat, dg berjalannya waktu semangat itupun luntur. 10 orang ngedumel di belakang, ketika menghadapi kekuasaan....langsung balik arah. Tinggal 2-3 org tersisa.
Punya level militansi yg sama...sy jadi teringat mahasiswa yg dulu bergelora meneriakkan reformasi 1998 hampir dipastikan level militansinya sama, justru kini semangat beberapa dari mereka sudah luntur atau malah mundur karena menghindari hiruk-pikuknya perpolitikan Indonesia. Parahnya juga oknum mereka malah justru "jatuh cinta" / "Stockholm syndrome" dg yg dulu menyakiti, menghakimi, mempreteli dan mengucilkan mereka. "Kebagian" kue kekuasaan menyebabkan kekritisan dan militansi menurun. Pengalaman di birokrasi pemerintahan menunjukkan: mengapa para pejabat struktural mencari aman...tidak berani mengambil resiko...tidak militan...tidak ada kepedulian dst. Jawabannya cuma satu: masalah perut. gerakan politik perlu, tidak perlu alergi dg politik..sy percaya siapapun dia (geologist, dokter, birokrat, pengusaha, dll) ketika sudah berbicara dan berjuang dg tulus untuk kepentingan bangsa maka dia sudah berpolitik. Walaupun tidak berpartai...Toh akhirnya siapapun dia ketika "punya pengaruh" akan diikuti oleh masyarakat. Sepengatahuan sy: Blackberry messanger, FB mampu mempengaruhi opini publik: contoh kasus cicak buaya, bahkan merombak sistem. Maaf kalau tidak berkenan... Salam, Ery Arifullah Sent from my iPad On 20 Nov 2012, at 06:58, [email protected] wrote: > Banyak tulisan yang bagus baik dr kalangan internal (ex)BPMIGAS, kalangan > masyarakat migas, maupun kalangan luar migas yg menunjukkan kekeliruan - > salah alamatnya tuduhan2 ke BPMigas terkait dg pembubarannya oleh putusan MK > 13 nov 2012 kemarin. Bagaimana kira2 kelanjutan - follow upnya? Apakah > tulisan2 koreksi - penyadaran itu akan bisa jadi gerakan yg cukup signifikan > u/mengubah apa yg terjadi? > Untuk menghadapi gerakan politik sebenarnya tidak harus selalu frontal dg > gerakan serupa. Salah satu caranya ya dg membuat gerakan intelektual - budaya > - penyadaran yg mengalir seperti bentuk2 tulisan kawan2 BPMigas di internet, > tulisan Prof Hikmahanto, dll. Tetapi itu semua harus dengan syarat minimal: > para proponennya juga harus banyak yg punya level militansi yg sama sehingga > bisa menggumpal ujungnya jadi gerakan politik: siapapun di ujungnya yang akan > menyimpulkan dan membuat ini semua jadi "pukulan politik" untuk "melawan > balik" ... > Sama dg di kasus "pemolitikan" lumpur Lapindo dulu. Gerakan politik bisnis > untuk mengkambinghitamkan gempa/tektonik sbg penyebab utama bencana Lumpur > Lapindo tidak dihadapi dengan militansi yg sama diantara proponen2 pendukung > akal sehat intelektual yg ada, meskipun popular vote masyarakat menginginkan > adanya gerakan itu. Maka kandaslah tulisan2 analisis2 riset2 ilmiah bagus yg > punya latarbelakang independen yg mengkaitkan itu semua dg kecerobohan > pemboran dan substandard operasional Lapindonya,.... Banyak kaum intelektual > waktu itu (dan sampai sekarang) merasa tidak punya kepentingan langsung dg > usaha "melawan pembodohan akal sehat" itu sama juga situasinya dg "pembodohan > ttg pembubaran bpmigas" ini. > Maka, seharusnya kalau mau: iAGI, HAGI, IATMI, mungkin bersama Asosiasi > Pedagang Kakilima X, Persaudaraan Buruh Pasar Ikan Y, dan Ikatan Sepeda Gowes > Z, dll bersama-sama terus menerus melakukan advokasi ke masyarakat memakai > bahan2 seperti yg dituliskan oleh kawan2 semua. Itu kalau kita mau dg militan > menyelesaikan masalah politik ini. Kalau tidak,...ya dagelan politik ini akan > terus berlangsung dimanfaatkan oleh para politisi dan pemain2 kekuasaan, > kemudian nantinya akan dilupakan,..spt kasus Lumpur Lapindo,.... > > Ayo pak dhe RDP, bisa ngak kita gulirkan ide dan pemikiran semacam yg > berkembang di milis IAGInet ini jadi "gerakan politik" anti pembodohan migas > Indonesia? > > ADB > Dewan Penasehat IAGI > Powered by Telkomsel BlackBerry® -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2011-2014: Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com -------------------------------------------------------------------------------- "JCM HAGI-IAGI 2013 MEDAN, 28-31 Oktober 2013" -------------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email to: [email protected] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

