Rekan-rekan Gem-Lovers yang budiman,
Sekedar selingan usai rekan-rekan penggemar sepak bola bergadang nonton pertandingan final Bayern lawan Dortmund dini hari tadi, mang Okim kisahkan satu pengalaman yang mudah-mudahan tidak menimpa rekan-rekan Gem-Lovers di masa mendatang. Kisahnya terjadi 4 hari yang lalu, Kamis 23 Mei 2013, sekitar pukul 11.00 . Ketika itu mang Okim sedang sibuk menyiapkan materi untuk 25 anggota SEG-Student Chapter UNPAD yang hari itu akan workshop di Pusat Promosi Batumulia Indonesia. Seorang Pamen Polri berseragam lengkap tiba-tiba masuk ke ruang kerja mang Okim, diantar oleh seorang staf sipil yang kenal mang Okim. Pamen Polri tersebut membawa sebongkah batuan kristal berwarna merah jambu yang menurut beliau selalu dalam keadaan basah dan sering meneteskan air. Konon kata pemilik sebelumnya, batuan kristal tersebut adalah Giok Es ( dibeli dengan harga sangat mahal ). Pamen Polri tersebut akan kembali dalam 2 jam ( mang Okim menyanggupinya ). Melihat penampilan fisik batuan kristal tersebut, mang Okim memperkirakan paling-paling jenis Kuarsa Merah Jambu ( Rose Quartz ) atau Kalsit ( Calcite ). Mang Okim ketar-ketir juga setelah melihat hasil uji kekerasan yang ternyata tergores oleh kristal kalsit yang 3 skala Mohs, tetapi tidak tergores oleh kristal gipsum yang 2 skala Mohs. Perkiraan awal mang Okim dengan demikian menjadi gugur. Langkah selanjutnya adalah metode berat jenis yang dipercayakan kepada seorang staf mang Okim yang cukup berpengalaman. Untuk itu, batuannya harus dicelupkan seluruhnya ke dalam air ( untuk mengetahui beratnya di dalam air ). Karena hasil yang ditunggu tak kunjung datang, maka mang Okim susul ke tempat uji berat jenis. Staf mang Okim tampak kebingungan karena timbangan berat batuan kristal tersebut di air tidak stabil dan selalu berkurang dari waktu ke waktu. Setelah prosesnya mang Okim ulang, barulah mang Okim sadar bahwa batuan kristal tersebut tak lain adalah HALITE atau BATU GARAM dengan sifat-sifat yang standard yaitu kekerasan 2 Mohs, berat jenis sekitar 2, translusen, kilap menggelas, pecahan konkoidal, dan yang terpenting sifatnya yang higroskopis, terasa asin pahit di lidah, dan larut dalam air. Masalah serius yang menghadang Mang Okim sudah bisa membayangkan betapa akan kecewanya Pak Pamen Polri kalau mengetahui bahwa berat batuan kristalnya menyusut signifikan dan permukaannya menjadi " garadak " alias kasar berat. Mang Okim hanya bisa pasrah dan menyerahkan segala persoalan kepada Tuhan YMK , dengan keyakinan bahwa kalau mang Okim jujur dan menjelaskan apa adanya, insyaallah Pak Pamen akan bisa memaafkan. Tepat pukul 13.00, mang Okim lihat staf Pak Pamen telah hadir di ruang tunggu, ditemani oleh seorang berpakaian sipil. Mang Okim segera meminta staf Pak Pamen datang ke kamar kerja mang Okim dan langsung mendapat penjelasan tentang apa yang telah terjadi. Setelah staf Pak Pamen tahu permasalahannya, mang Okim diminta untuk tidak menceritakan tentang adanya penyusutan berat. Batuan kristal tersebut kemudian dibawa ke ruang tunggu. Selang beberapa menit kemudian, orang yang menemani Staf Pak Pamen datang dengan nada sangat marah. Orang tersebut ternyata Pak Pamen Polri sendiri yang karena tidak pakai seragam seperti sebelumnya, maka mang Okim tidak mengenalinya lagi. Argumentasi berat kemudian berlangsung dalam suasana sangat menegangkan. Pada awalnya mang Okim mohon beribu maaf bahwa prosedur baku dalam pemeriksaan gemologi mengharuskan batuan tersebut ditimbang beratnya di dalam air. Hal ini dilaksanakan karena mang Okim tidak tahu bahwa batuannya adalah batu garam. Mang Okim ceritakan bahwa mang Okim pernah melihat batu garam di Salt Lake City USA , hanya warnanya putih dan kristalnya mirip kembang. Setelah Pak Pamen memenuhi permintaan mang Okim untuk mencicipi batuan dengan lidah beliau, maka barulah Pak Pamen turun amarahnya. Permasalahan yang kemudian diangkat adalah permukaan batuan yang garadak. Untuk itu mang Okim minta izin memperbaikinya. Kurang dari 10 menit, sebagian permukaan batuan yang "garadak" telah halus kembali. Tanpa banyak komentar, batuan tersebut kemudian dibawa langsung ke mobil Pak Pamen. Mang Okim benar-benar merasa bersalah, apalagi setelah tahu bahwa orang yang akan membeli batuan tersebut dari Pak Pamen telah siap menunggu dengan keyakinan dan syarat bahwa batuannya bersertifikat sebagai GIOK ES. Semoga di masa-masa mendatang, Tuhan YMK berkenan memberikan signal dan perlindungan yang lebih baik kepada mang Okim dan rekan-rekan Gem-Lovers sehingga peristiwa yang mang Okim alami yaitu " tergelincir di batuan kristal merah jambu " tidak terulang lagi. Mang okim sedikit terhibur setelah mengetahu dari staf Pak Pamen bahwa bukan hanya kali itulah Pak Pamen tertipu melainkan juga di banyak transaksi sebelumnya yang nilainya aduhai, antara lain meja giok yang ternyata marmer dan juga beberapa barang yang berkaitan dengan hal-hal supra-natural. Semoga kisah ini bermanfaat, dan mang Okim ucapkan selamat berhari Minggu dalam kedamaian dan kebahagiaan. Amiin. Salam Gem-Lovers, Mang Okim

