Ya itulah Abah Problem nya yg sebetulnya kalau mau dirinci banyak sekali , Bayangin katanya kita itu kaya potensi geothermal dan semuanya berkeinginan sama untuk mengembangkan shg bisa mengurangi ketergantungan dg energi fosil kususnya untuk listrik yg semakin meningkat permintaaanya , namun dlm kenyataanya antar sektor masih menggunkan ego masing masing , shg konsistensi antara aturan yg satu dg yg lain tdk ada belum lagi prosesnya mbulet dan panjang , koordinasi tidak jalan
Kalau kita simak kebelakang kita itu sdh mulai ekplorasi geothermal sejak jaman belanda lihat saja di kawah kamojang msh ada sumur yg dibor belanda sampai saat ini masih keluar uapnya , kalau ke kamojang coba sekali kali mampir ke kawah kamojang, Kemudian PLTP pertama itu sdh beroperasi sejak 30 tahun lalu dg kapasitas 140 MW yaitu PLTP Kamojang 1,2,3 yg mulai operasi sejak 1984 , kalau nggak salah Pimpronya juga anggota IAGI dg NPA 257 yaitu Pak Vincent T Raja namun yg terjadi kemudian sampai hari ini baru kurang lbh 1300 MW , ini artinya dalam 30 th hanya nambah 1150 MW. Atau pertahun nambah cuma tdk lebih 40 MW , padahal pertumbuhan permintaan listrik saat ini yg rata rata 8 % pertahun shg membutuhkan penambahan 5000 MW lebih , Semua itu kendalanya ya spt yg Abah sampaikan tsb , Yg dibutuhkan Menteri yg paham permasalahan dan berani mengeksekusi Salam Ism Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Yanto R. Sumantri" - [email protected] <[email protected]> Sender: <[email protected]> Date: Fri, 26 Sep 2014 02:04:51 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net] Memberdayakan Migas Is. Yang membuat saya SANGAT bersedih(dan marah juga hehehe) adalah ego sektoral !!!TIDAK ADA kesamaan visi bahwa energi nasional berada dalam kondisi kritis sekritis kritisnya , tidak ada visi mereka untuk memberikan dorongan moril atau keinginan agar proses bisa berjalan cepat dan tidak membebani para kontraktor .Saya tidak bisa membayangkan sebelumnya bahwa ada BUMN yang menuntut pengembang pabum dengan sewa tanah darat /lahan sebesar kl 400 juta /ha/tahun !!!! untuk lahan dengan NJOP sekitar 15.000/ m2. Tah kumaha Is ? Belum lagi regulasi yang pabaliut !!!Kalau dengan kondisi seperti ini , bagaimana program peningkatan produksi ,devrsifikasi energi bisa berjalan dengan mulus ?? Belum lagi kebijakan "nuclear phobia" dari Pemerintah yang kemudian menyatakan PLTN baru akan dibangun tahun 20130 !!!! Moga moga Pemerintah Baru bisa lebih baik , sesuai janjinya. si Abah On Wednesday, September 24, 2014 7:59 PM, "[email protected]" <[email protected]> wrote: Tinngal nunggu sebulan lagi Mentri ESDM yg baru yg akan mengurai permasalahan ini dengan revolosi mentalnya ( kira kira siapa ya ? Ketua IAGI kan masuk nominasi juga to) Lifting saat ini diangka 800 an ribu BOPD , disisi lain konsumsi sdh di angka 1,5 juta, tugasnya menteri ESDM baru bagaimana menaikan lifting dan mengurangi konsumsi , coba kalau konsumsi turun menjadi 1,2 juta dan lifting naik menjadi 1,2 juta kan imbang , mungkinkah dalam 5 tahun kedepan ini tercapai ? Kalau mobil pertahun nambahanya sdh i juta dan motor sudah 8 juta , maka kalau mobil mengkonsumsi BBM 5 liter perhari dan motor 1 liter perhari , maka tiap tahun akan membutuhkan tambahan BBM kira kira sdh 80 ribu barel per hari. Nah apakah konsumsi yg tiap tahun naik sebesar itu , bisa dimbangi dengan kenaikan produksinya ( lifting ) juga ? Saat ini ada kira kira 48 juta KL BBM yg disubsidi dg duit kira kira 400 T , atau kira kira 820 ribu barel perhari , ini kira kira sama dg lifting saat ini , padahal pengahsilan dari lifting tersebut hanya kira kira 300 T , jadi nomboki subsidi saja tdk cukup.Masalah yg menyangkut Perizinan , tumpang tindih lahan , kebijakan fiskal ini ada disetiap proyek kususnya energi , dan sdh berlangaung lama , belum lagi masalah ego sektoral yang saling tumpang tidih aturannya shg mengakibatkan proese yg panjang dan memakan waktu yg lama ujung ujungya kapasitas produksi tdk nambah nambah padahal konsumsi naik terus tdk bisa direm, ini tugas pemenrintahan baru , apakah akan sama dg yg sdh sdh atau ada perubahan secara signifikan dalam lima tahun kedepan, kususnya menteri ESDM nya ISM > Tertulis di Koran Tempo kemarin: bahwa negeri ini tidak > punya cadangan bbm mencukupi. > Semua impor. > Sependek yang aku tau, artinya energi negeri ini sangat > kurang. Dari btbara msh dikit; dari angin ombak dan mentari > tidak memadai; apalagi dari nuklir. Hehe balik lagi saja > dari kayu? Hutan sdh habis; sisa dari air; asal dijaga > lingkungan penyimpan air; masih dpt dimanfaatkan. > Energi; makanan; transportasi; bahan bangunan; semua impor. > Waha tinggal ekspor teroris saja. > Daripada ngerecokin dlm negri; atau buat tentara bayaran > saja yaa? Dari pada konyol katanya belain sdr sefaham; > mending dididik jadi mercenaries saja; jelas dapat uang; > kata di pilem gajinya gedee. > Salam . bdn > Pada 24 Sep 2014 07:14, "Rovicky Dwi Putrohari" > <[email protected]> menulis: >> >> Memberdayakan Migas >> >> by : Aris Setyawan >> >> Indonesia dulu dikenal sebagai jawara di bidang sumberdaya >> minyak dan gas > bumi. Bahkan ketika di akhir abad ke19 sudah dilakukan > eksplorasi migas yang menemukan lapangan Telaga Said. Begitu > pula dengan temuan-temuan lapangan migas di Kalimantan > Timur. Memang yang menemukan dan memproduksi > lapangan-lapangan tersebut adalah institusi swasta dari > Belanda. >> >> Migas memang dianggap sebagai aset strategis. Maka >> begitulah ketika > Jepang menyerbu Indonesia di tahun 1942, yamg pertama > dikuasai adalah aset-aset lapangan minyak seperti di daerah > Tarakan yang merupakan entry point pasukan Jepang. >> >> Dengan kekayaan migas di bawah permukaan, Indonesia juga >> berhasil > mendatangkan investasi perusahaan-perusahaan multinasional > utamanya di tahun 1970an sehingga menggairahkan dunia > eksplorasi dan produksi migas. Indonesia mengalami kejayaan > karena melimpahnya asupan petrodolar, dan bisa bergaya > memberikan subsidi BBM untuk rakyatnya. >> >> *** >> >> Namun belakangan ini, industri migas kelihatannya tidak >> lagi dianggap > sebagai industri strategis. Bahkan cenderung diperlakukan > seperti sapi perah yang tidak pernah diurus tetapi harus > mengeluarkan susu (penghasilan) ke pemerintah pusat mau pun > daerah dan pelbagai komponen masyarakat lainnya. Hal ini > tercermin dengan target lifting minyak sebagai penerimaan > negara yang sekarang selalu dipatok pemerintah dan menjadi > target yang harus dipenuhi oleh industri migas. >> >> Meski pun target lifting minyak dipatok tinggi, namun >> justru biayanya > dibatasi dengan pembatasan cost recovery. Sebagai > perumpamaan mungkin seperti bis antar kota Jakarta ke > Surabaya namun cuma diberi jatah bensin lima puluh liter. > Jika bensinnya kurang, bis rusak, mogok atau ada pungutan di > jalan, maka semua itu ditanggung sopir. >> >> Belum lagi kebijakan perpajakan yang mengenakan Pajak Bumi >> dan Bangunan > (PBB) pada setiap jengkal blok eksplorasi. Bahkan ketika > upaya eksplorasi belum dilakukan, apalagi terdapat > ketidakpastian yang tinggi terhadap keberadaan cadangan > migas itu sendiri. Dan juga lahan yang sebenarnya akan > dipakai hanya beberapa hektar untuk lokasi tapak sumur dan > pembangunan fasilitasnya. >> >> Industri migas juga sekarang ini dianggap sama saja dengan >> industri > lainnya, seperti tambang batubara atau pun industri > perkebunan. Hal ini menimbulkan permasalahan tumpang tindih > lahan antara ketiga industri tersebut. Dan biasanya karena > industri migas relatif "manja", mereka selalu kalah bersaing > dalam kerasnya permasalahan tumpang tindih lahan. >> >> *** >> >> Padahal sejatinya industri migas tidak hanya sekadar >> penghasil lifting > minyak untuk penerimaan negara saja. Yang kita en toch tidak > tahu kemana saja uang itu mengalir. Namun ketersediaan migas > harus disikapi secara strategis. Mengacu kepada Pasal 33 UUD > 1945 adalah dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran > rakyat. >> >> Jadi gas bumi sedapat mungkin dimanfaatkan untuk pemenuhan >> kebutuhan > energi listrik bagi masyarakat sekitar dan juga dapat > sebagai bahan baku industri petrokimia. Sudah cukuplah > Indonesia mengasup gas bumi ke Jepang dan Korea sejak tahun > 1970an sehingga mereka bisa berkembang menjadi macan asia. >> >> Begitu juga minyak bumi sebisa mungkin diolah sendiri dan > ditumbuhkembangkan industri pengolahan minyak sehingga tidak > hanya bergantung pada pabrik pengolahan yang sudah tua dan > tidak efisien lagi. >> >> Tidak. Saya tidak mengacu kepada lapangan-lapangan kecil >> dan tidak > ekonomis saja yang digunakan untuk keperluan domestik. > Tetapi justru lapangan-lapangan migas besar harus memberikan > kontribusi dan komitmennya untuk dipergunakan bagi > kesejahteraan rakyat banyak. Dengan demikian industri migas > bisa benar-benar menjadi industri strategis yang dibutuhkan > dan dicintai rakyat banyak. >> >> (dikutip dari status FB Pak Aris) >> >> -- >> "Kebanggaan sejati muncul dari kontribusi anda yang >> positip". >> >> ---------------------------------------------------- >> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43 >> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition >> JAKARTA,15-18 September 2014 >> ---------------------------------------------------- >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact >> ---------------------------------------------------- >> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- >> (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> ---------------------------------------------------- >> Subscribe: [email protected] >> Unsubscribe: [email protected] >> ---------------------------------------------------- >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to >> information posted on its mailing lists, whether posted by >> IAGI or others. >> In no event shall IAGI or its members be liable for any, >> including but > not limited >> to direct or indirect damages, or damages of any kind >> whatsoever, > resulting >> from loss of use, data or profits, arising out of or in >> connection with > the use of >> any information posted on IAGI mailing list. >> ---------------------------------------------------- >> > > ---------------------------------------------------- > Siapkan waktu PIT IAGI ke-43 > Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition > JAKARTA,15-18 September 2014 > ---------------------------------------------------- > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact > ---------------------------------------------------- > Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- > (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > ---------------------------------------------------- > Subscribe: [email protected] > Unsubscribe: [email protected] > ---------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to > information posted on its mailing lists, whether posted by > IAGI or others. > In no event shall IAGI or its members be liable for any, > including but not limited to direct or indirect damages, or > damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, > data or profits, arising out of or in connection with the > use of any information posted on IAGI mailing list. > ---------------------------------------------------- ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id ---------------------------------------------------- Siapkan waktu PIT IAGI ke-43 Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition JAKARTA,15-18 September 2014 ---------------------------------------------------- Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact ---------------------------------------------------- Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti ---------------------------------------------------- Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] ---------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------- ---------------------------------------------------- Siapkan waktu PIT IAGI ke-43 Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition JAKARTA,15-18 September 2014 ---------------------------------------------------- Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact ---------------------------------------------------- Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti ---------------------------------------------------- Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] ---------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ----------------------------------------------------

