Ass.

Cak ikut aku sikit...

*"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al quran  dan Kamilah yang akan
menjaganya "* *(QS. Al Hijr: 9)*

Saya pribadi menangkap ayat ini bahwa yang ALLAH sebut Al Quran yang turun
dan akan dijaga adalah isinya/content-nya, bukan kitabnya.
Jadi penekanannya bukan kepada kitab seperti yang sekarang ini dikenal atau
disusun dalam belum mushaf/kitab.

Secara fisik kitab Al Quran itu kan cuma kertas, tinta dan motif.
Yang bisa diproduksi oleh siapa saja dan juga bisa dipalsukan oleh siapa
saja.

Tetapi secara konten Al Quran adalah firman.
Yang jadi panutan kontennya bukan fisiknya.
Itu kenapa umat Islam yang baik dan benar itu hafal Al Quran dan maknanya
(kalau soal ini sama awak dengan si Muslim... lebih hafal awak lagu pop).
Itu juga kenapa di muka bumi ini senantiasa ada orang-orang yang hafal 30
juz Al Quran, karena memang mereka dihadirkan oleh ALLAH untuk menjaganya di
antara umat Islam.

Semua musuh Islam bisa membakar kitab Al Quran setiap hari.
Tapi untuk memusnahkan Al Quran di muka bumi, maka diperlukan membunuh semua
para hafiz Al Quran di muka bumi.

Sampe sini aja dulu... awak tak tertarik berdebat tak tuntas macam ni...
Takut awak ada yang bergeser imannya karena tak kuat/paham...
Jadi sia-sia diskusi ini dan tak tuntas pulak...

Bagusnya kalau mau dibahas, terbatas aja... misalnya Bang Dody, Bang Datuk,
Bang Muslim berbalas bertiga...
Hasil diskusinya nanti, sampaikan ke forum IMMAM.
Begitu Bang Dody... jadi tak usah takut gagasannya tak sampai ke teman-teman
IMMAM.
Sayang juga kalau ada yang ikut membaca sepotong dan terjebak dengan
sepotong itu.
Aku rasa Bang Muslim sudah pernah juga menawarkan seperti ini.

Macam tu dululah...

Wass.
Ganda


**



On 5/21/07, Nasution, Dody Arfiandi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   Inilah yg membedakan kita.
Hatta Muawiyah saja dimasukkan sebagai penulis wahyu.....

Siapakah Muawiyah itu ? Orang yg memusuhi Nabi seumur hidupnya
Bersama Bapaknya Abu Sofyan dan Ibunya (Hindun) yg memakan jantung Hamzah
paman Nabi SAW pada perang Uhud.
Kapan dia masuk Islam, dimana dia tinggal (Mekkah atau Madinah).Apakah
menyertai Nabi.

Susah memang kalau kita tidak memakai kriteria yg jelas dalam memahami
Islam.
Maka musuh2 Nabi kita jadi ga tahu karena semua adalah Sahabat . bagaimana
bisa mencari Kebenaran ??

La Hawla Wa La Quwwata Illa Billahi

 ------------------------------
*From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On Behalf Of
*ekaaurihandj
*Sent:* Monday, May 21, 2007 7:31 AM
*To:* [email protected]
*Subject:* [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an



Metoda Penyusunan Ayat dan Surah dalam al-Quran
Kamis, 15 Jun 06 09:14 WIB
Kirim Pertanyaan | Kirim teman
Assalamualaikum warahmatullah wabaraktuh.
Ada suatu pertanyaan yang mengganjal dalam hati tentang kitab suci
Al-Quran, saya mohon pak Ustadz bisa memberikan pencerahan:

1. Sejak kapan ayat-ayat al-Quran dibukukan?
2. Metoda apakah yang dipakai dalam penyusunan ayat-ayat al-Quran
sehingga memiliki urutan seperti yang kita ketahui sekarang?

3. Tafsir manakah yang bisa kita jadikan pegangan sesuai dengan
makna al-Quran yang sebenarnya?
Ulasan yang logis dan memiliki dalil yang sahih dari pak Ustadz
sangat saya harapkan karena saat ini saya sedang menghadapi orang
yang mencoba menggoyahkan keyakinan saya tentang keotentikan al-
Quran yang sekarang kita pegang. Terima kasih sebelumnya.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Amir Mahmud
amir_mahmud at eramuslim.com
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau buku yang anda maksud adalah cetakan modern seperti di masa
sekarang, tentunya Al-Quran belum lama dicetak. Sebab mesin cetrak
modern baru ditemukan beberapa puluh tahun belakangan ini saja. Tapi
kalau yang dimaksud adalah buku dalam arti lembaran-lembaran yang
terbuat dari kulit, pelepah kurma atau media lain yang sudah dikenal
saat itu, maka sebenarnya Al-Quran telah ditulis sejak pertama kali
turun.

Rasulullah SAW punya beberapa sekretaris pribadi yang kerjanya
melulu hanya menulis Al-Quran. Mereka adalah para penulis wahyu dari
kalangan sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, 'Ubai bin K'ab
dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhum. Bila suatu ayat turun,
beliau memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan
tempat ayat tersebut dalam surah.

Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Qur'an yang turun itu
atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka
menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit
atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin
Tabit, "Kami menyusun Qur'an di hadapan Rasulullah pada kulit
binatang."

Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur'an kepada Rasulullah baik
dalam bentuk hafalan maupun tulisan.
Tulisan-tulisan Qur'an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu
mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain.
Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di
antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, Zaid
bin Sabit dan Abdullah bin Mas'ud telah menghafalkan seluruh isi
Qur'an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid
bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur'an di
hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas.

Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah di saat Qur'an telah dihafal
dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas,
ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan ayat-
ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara
terpisah dalam tujuh huruf.

Tetapi Qur'an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh
(lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra' dan
ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan
membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti
turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula
terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun
sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur'an itu tidak menurut
tertib nuzul-nya (turun), tetapi setiap ayat yang turun dituliskan
di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan
bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu.

Andaikata pada masa Nabi SAWQur'an itu seluruhnya dikumpulkan di
antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan
membawa perubahan bila wahyu turun lagi.

Az-zarkasyi berkata, "Qur'an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada
zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu,
penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur'an turun semua, yaitu
dengan wafatnya Rasulullah."

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid
bin Tsabit yang mengatakan, "Rasulullah SAW telah wafat sedang
Qur'an belum dikumpulkan sama sekali." Maksudnya ayat-ayat dalam
surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Katabi berkata, "Rasulullah tidak mengumpulkan Qur'an dalam satu
mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap
sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya
dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf
secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya
yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal
ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan
usulan Umar radhiyalahu 'anhum.

2. Metode yang digunakan untuk menyusun Al-Quran adalah metode wahyu
dari langit. Sebab setiap ada ayat yang turun, Rasulullah SAW selain
mengajarkan bacaan dan pemahamannya, beliau juga menjelaskan tata
letak ayat tersebut di dalam Al-Quran.

3. Semua kitab tafsir yang hingga hari masih ada, bisa dijadikan
dasar penafsiran kita tehadap Al-Quran. Kita punya puluhan kitab
tafsir peninggalan para ulama yang sudah teruji sepanjang masa.

Tentunya masing-masing kitab tafsir itu memiliki keunggulannya
sendiri--sendiri. Tergantung dari sudut pandang mana seseorang ingin
membidik pemahamannya terhadap A-Quran.

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim email ke