Metoda Penyusunan Ayat dan Surah dalam al-Quran 
Kamis, 15 Jun 06 09:14 WIB 
Kirim Pertanyaan | Kirim teman 
Assalamualaikum warahmatullah wabaraktuh. 
Ada suatu pertanyaan yang mengganjal dalam hati tentang kitab suci 
Al-Quran, saya mohon pak Ustadz bisa memberikan pencerahan:

1. Sejak kapan ayat-ayat al-Quran dibukukan? 
2. Metoda apakah yang dipakai dalam penyusunan ayat-ayat al-Quran 
sehingga memiliki urutan seperti yang kita ketahui sekarang?

3. Tafsir manakah yang bisa kita jadikan pegangan sesuai dengan 
makna al-Quran yang sebenarnya? 
Ulasan yang logis dan memiliki dalil yang sahih dari pak Ustadz 
sangat saya harapkan karena saat ini saya sedang menghadapi orang 
yang mencoba menggoyahkan keyakinan saya tentang keotentikan al-
Quran yang sekarang kita pegang. Terima kasih sebelumnya.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. 
Amir Mahmud
amir_mahmud at eramuslim.com 
Jawaban 
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Kalau buku yang anda maksud adalah cetakan modern seperti di masa 
sekarang, tentunya Al-Quran belum lama dicetak. Sebab mesin cetrak 
modern baru ditemukan beberapa puluh tahun belakangan ini saja. Tapi 
kalau yang dimaksud adalah buku dalam arti lembaran-lembaran yang 
terbuat dari kulit, pelepah kurma atau media lain yang sudah dikenal 
saat itu, maka sebenarnya Al-Quran telah ditulis sejak pertama kali 
turun.

Rasulullah SAW punya beberapa sekretaris pribadi yang kerjanya 
melulu hanya menulis Al-Quran. Mereka adalah para penulis wahyu dari 
kalangan sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, 'Ubai bin K'ab 
dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhum. Bila suatu ayat turun, 
beliau memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan 
tempat ayat tersebut dalam surah.

Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Qur'an yang turun itu 
atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka 
menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit 
atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin 
Tabit, "Kami menyusun Qur'an di hadapan Rasulullah pada kulit 
binatang."

Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur'an kepada Rasulullah baik 
dalam bentuk hafalan maupun tulisan. 
Tulisan-tulisan Qur'an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu 
mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. 
Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di 
antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, Zaid 
bin Sabit dan Abdullah bin Mas'ud telah menghafalkan seluruh isi 
Qur'an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid 
bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur'an di 
hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas.

Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah di saat Qur'an telah dihafal 
dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas, 
ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan ayat-
ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara 
terpisah dalam tujuh huruf.

Tetapi Qur'an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh 
(lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra' dan 
ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan 
membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti 
turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula 
terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun 
sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur'an itu tidak menurut 
tertib nuzul-nya (turun), tetapi setiap ayat yang turun dituliskan 
di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan 
bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu.

Andaikata pada masa Nabi SAWQur'an itu seluruhnya dikumpulkan di 
antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan 
membawa perubahan bila wahyu turun lagi.

Az-zarkasyi berkata, "Qur'an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada 
zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, 
penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur'an turun semua, yaitu 
dengan wafatnya Rasulullah."

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid 
bin Tsabit yang mengatakan, "Rasulullah SAW telah wafat sedang 
Qur'an belum dikumpulkan sama sekali." Maksudnya ayat-ayat dalam 
surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Katabi berkata, "Rasulullah tidak mengumpulkan Qur'an dalam satu 
mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap 
sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya 
dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf 
secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya 
yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal 
ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan 
usulan Umar radhiyalahu 'anhum.

2. Metode yang digunakan untuk menyusun Al-Quran adalah metode wahyu 
dari langit. Sebab setiap ada ayat yang turun, Rasulullah SAW selain 
mengajarkan bacaan dan pemahamannya, beliau juga menjelaskan tata 
letak ayat tersebut di dalam Al-Quran.

3. Semua kitab tafsir yang hingga hari masih ada, bisa dijadikan 
dasar penafsiran kita tehadap Al-Quran. Kita punya puluhan kitab 
tafsir peninggalan para ulama yang sudah teruji sepanjang masa.

Tentunya masing-masing kitab tafsir itu memiliki keunggulannya 
sendiri--sendiri. Tergantung dari sudut pandang mana seseorang ingin 
membidik pemahamannya terhadap A-Quran.

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi 
wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.


Kirim email ke