Baiknya aku komentari satu demi satu supaya tidak lari dari masalah.....

  ----- Original Message ----- 
  From: Nasution, Dody Arfiandi 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, May 25, 2007 6:09 PM
  Subject: RE: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an



  Kalau berargumentasi ala kita bisa ga habis habis alias debat kusir.
  Alangkah Indahnya kalau dalam berargumentasi dgn Ayat Al-Quran atau Hadits2.

  MA: Sepakat, justru itu aku dari awal mengusulkan pertemuan dengan bang Dody 
sambil kita bawa kitab2 Tafsir dan kitab2 Hadits supaya kita bisa bahas 
pertopik yg selama ini dipermasalahkan oleh Syiah. Tidak bisa kita cuma 
mengutip ayat dan hadits sepotong2 tanpa kita dalami makna yang sebenarnya. 
Ayat dan Hadits tidak bisa asal kutip serampangan dan kita jelaskan sesuai 
selera kita, kita harus akui otoritas keilmuan ulama2 kita terdahulu, kalo kita 
cuma mau pakai logika saja ya jadinya debat kusir, khan kemarin2 bang Dody 
memutlakkan akal, ya jadinya debat kita ya seperti ini, ya harus diterima......

  karena apa yg saya sampaikan hanyalah mengutip apa yg ada dalam hadits2 kitab 
Sunni juga.
  Ada dalam kitab2 Bukhori atau Muslim dan lainnya. jadi bukan hadits-hadits 
dari org Syiah.
  Saya malah ga tahu kitab2 Hadits mereka (paling pernah denger namanya saja 
satu kitab yaitu Al-Kafi aja).

  MA: Wah, bagus sekali kalo bang Dody masih menerima hadits2 Bukhari, Muslim 
dll, cuma sayangnya bang Dody mengutip hadits2 tersebut bukan dari sumbernya 
langsung sehingga penjelasannya menjadi tendensius padahal ada kitab2 yg 
menjelaskan isi hadits tersebut. Seperti yg saya katakan sebelumnya, seandainya 
riwayat2 dari Bukhari, Muslim diklaim seperti yang dimengerti oleh kaum Syiah, 
tentulah mereka orang pertama yang berdiri paling depan dlm kelompok Syiah, 
nyatanya tidak khan? Kalo mau penjelasan hadits Bukhari secara lengkap dan 
detil kata perkata, bang Dody bisa baca FATHUL BAARInya Ibnu Hajar Al-Asqalani, 
kitab ini diakui sebagian besar ulama sebagai kitab yang terlengkap dan palaing 
detil yg pernah ada yg menjelaskan SHAHIH BUKHARI, sayang di Indonesia baru 
diterjemahkan sampai jilid 21, mudah2an jilid2 lainnya menyusul. Contoh: 
Mengenai kejadian Kamis sewaktu nabi sakit, ada di jilid 21 hal 448-458. Nabi 
wafat hari Senin, jadi masih punya waktu 4 hari utk mewasiatkan Ali menjadi 
penerus beliau tetapi tidak pernah terucap  dari nabi bahwa Ali harus jadi 
khalifah padahal selama 4 hari tersebut lumayan banyak yang nabi wasiatkan 
kepada sahabat. Nah, jika setelah baca kitab tersebut, jatuhlah hukum ternyata 
memang wasiat nabi bukan mengenai kekhalifahan Ali, bagaimana? Maukah abang dan 
kawan2 dari Syiah yg lainnya mau mengakuinya? Ini dasarnya dari HADITS BUKHARI 
lho...

  Pertanyaan yg ditujukan kepada Imam Ali jangan ditanyakan disini.

  MA: Sama saja bang, pertanyaan2 tentang Umar kenapa mengatakan "Cukuplah bagi 
kita kitab Allah" gak perlu abang tanyakan disini juga, padahal dikitab yg aku 
sebutkan diatas tadi ada penjelasan mengenai maksud perkataan Umar Ra, kalau 
kita ingin kepastian apa yg dimaksud dgn kalimat Umar tersebut ya harus kita 
tanyakan ke baliau langsung (sayang tidak mungkin pula kita tanyakan ke 
beliau). Makanya kaum Syiah yg mempertanyakan perkataan dan tindakan2 sahabat 
nabi, ya silahkan tanyakan ke mereka saja langsung tidak perlu berburuk sangka 
sehingga menistakan mereka malah sampai mengkafirkan mereka.  

   Karena argumentasinya sebetulnya dua hal yg berbeda yaitu masalah Ke 
Khalifahan dan Masalah Mushaf Al-Quran.
  Dua hal yg berbeda. Kalau Al-Quran yang saya tahu : Allah lah yg langsung 
menjaganya,
  makanya tidak ada perbedaan. Justru banyak bantuan Imam Ali dalam 
penyusunannya.

  Walaupun hak Kekhalifan diambil darinya tapi banyak bantuan yg Beliau 
berikan. Bahkan tidak 
  jarang Abu Bakar, Umar dan USman minta Imam Ali untuk menyelesaikan 
permasalahan negara.
  Salah satunya adalah penetapan awal tahun Hijriyah yg dibuat Imam Ali dizaman 
Umar yaitu ditetapkan awal tahun Hijrah Nabi ke Madinah sebagai tahun 1 
Hijriyah. Banyak sekali sumbangan Imam Ali.

  MA: Justru itulah yg sedari awal yg aku maksud, sebenarnya diantara Khulafaur 
Rasyidin bahu membahu membangun Islam, tidak pernah mereka bertentangan dan 
punya pengikut masing2 yang saling menjelekkan satu sama lain. Bukan hanya 
dalam hal penyusunan Mushaf Alquran saja mereka bekerjasama, tetapi banyak hal 
lainnya makanya agama Islam berkembang pesat pada waktu itu dan insya Allah 
sampai kiamat. Bahkan, Ummu Kaltsum putrinya Ali beliau nikahkan dengan Umar 
dan anak2nya Ali beliau beri nama Abuabakar, Umar, Utsman, kalaulah Ali benci 
dgn mereka tidaklah mungkin Ali memberi nama anak2nya dgn org yg dia benci 
(sorry, aku lagi cari kitab yg menjelaskan soal ini, karena memang tidak aku 
simpan lagi).  Jika waktu itu, mereka gontok2an saling memperebutkan kekuasan 
bahkan sebagian besar sahabat mengkhianati nabi dan keluarganya bisa 
dibayangkan akan apa jadinya terhadap Islam, Allah pasti akan turunkan lagi 
nabi baru seperti masa2 sebelumnya.
   
  Dan apa yg dialaminya juga sudah di ramalkan oleh Nabi SAW. Nabi bersabda : 
Agar Imam Ali
  bersabar dalam menghadapinya. Itulah makanya tidak terjadi pertumpahan darah 
dan Islam
  bisa berkembang sampai sekarang.

  MA: Bukan masalah Ali sabar menghadapinya karena beliau tdk menjadi khalifah 
pertama pengganti nabi (Bukankah kaum Syiah mengklaim, umat Islam cerai berai 
karena bukan Ali yg jadi khalifah pertama), memang bagi Ali dan sahabat nabi 
lainnya urusan kekhalifahan tidak menjadi tujuan hidup mereka, mereka sejak 
masuk Islam sudah teruji keikhlasannya dalam berjuang menegakkan agama Islam, 
nah kalau abang mendeclare sebagai pengikut setia Imam Ali seharusnyalah 
bersikap seperti Imam Ali.
  Wallahu a'lam bisshawab.

  Salam,
  MA




------------------------------------------------------------------------------
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Muslim 
Armas
  Sent: Thursday, May 24, 2007 8:22 PM
  To: [email protected]
  Subject: Re: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an



  Saya ingin kembali menanyakan, hatta Ali ra  pun membakar mushafnya dan 
menyetujui mushaf Utsman, bukankah Utsman ra merupakan sepupu Muawiyah? 
Bukankah mushaf Utsman yg dipimpin penyusunannya oleh Zaid bin Tsabit warisan 
Abu Bakar ra dan Umar ra? Koq Ali ra tidak menolaknya padahal pengikutnya 
sangat keras menolak sahabat2 tersebut karena telah merampas kekhalifahan yg 
seharusnya milik Ali? (menurut pengikutnya lho, karena Ali ra yg saya tahu tdk 
pernah menginginkan kekuasaan). Atau sebenarnya kaum Syiah punya AlQuran versi 
tersendiri?


    ----- Original Message ----- 
    From: Nasution, Dody Arfiandi 
    To: [email protected] 
    Sent: Monday, May 21, 2007 10:57 AM
    Subject: RE: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an



    Inilah yg membedakan kita.
    Hatta Muawiyah saja dimasukkan sebagai penulis wahyu.....

    Siapakah Muawiyah itu ? Orang yg memusuhi Nabi seumur hidupnya
    Bersama Bapaknya Abu Sofyan dan Ibunya (Hindun) yg memakan jantung Hamzah 
paman Nabi SAW pada perang Uhud.
    Kapan dia masuk Islam, dimana dia tinggal (Mekkah atau Madinah).Apakah 
menyertai Nabi.

    Susah memang kalau kita tidak memakai kriteria yg jelas dalam memahami 
Islam.
    Maka musuh2 Nabi kita jadi ga tahu karena semua adalah Sahabat . bagaimana 
bisa mencari Kebenaran ??

    La Hawla Wa La Quwwata Illa Billahi



----------------------------------------------------------------------------
    From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
ekaaurihandj
    Sent: Monday, May 21, 2007 7:31 AM
    To: [email protected]
    Subject: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an


    Metoda Penyusunan Ayat dan Surah dalam al-Quran 
    Kamis, 15 Jun 06 09:14 WIB 
    Kirim Pertanyaan | Kirim teman 
    Assalamualaikum warahmatullah wabaraktuh. 
    Ada suatu pertanyaan yang mengganjal dalam hati tentang kitab suci 
    Al-Quran, saya mohon pak Ustadz bisa memberikan pencerahan:

    1. Sejak kapan ayat-ayat al-Quran dibukukan? 
    2. Metoda apakah yang dipakai dalam penyusunan ayat-ayat al-Quran 
    sehingga memiliki urutan seperti yang kita ketahui sekarang?

    3. Tafsir manakah yang bisa kita jadikan pegangan sesuai dengan 
    makna al-Quran yang sebenarnya? 
    Ulasan yang logis dan memiliki dalil yang sahih dari pak Ustadz 
    sangat saya harapkan karena saat ini saya sedang menghadapi orang 
    yang mencoba menggoyahkan keyakinan saya tentang keotentikan al-
    Quran yang sekarang kita pegang. Terima kasih sebelumnya.

    Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. 
    Amir Mahmud
    amir_mahmud at eramuslim.com 
    Jawaban 
    Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
    Kalau buku yang anda maksud adalah cetakan modern seperti di masa 
    sekarang, tentunya Al-Quran belum lama dicetak. Sebab mesin cetrak 
    modern baru ditemukan beberapa puluh tahun belakangan ini saja. Tapi 
    kalau yang dimaksud adalah buku dalam arti lembaran-lembaran yang 
    terbuat dari kulit, pelepah kurma atau media lain yang sudah dikenal 
    saat itu, maka sebenarnya Al-Quran telah ditulis sejak pertama kali 
    turun.

    Rasulullah SAW punya beberapa sekretaris pribadi yang kerjanya 
    melulu hanya menulis Al-Quran. Mereka adalah para penulis wahyu dari 
    kalangan sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, 'Ubai bin K'ab 
    dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhum. Bila suatu ayat turun, 
    beliau memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan 
    tempat ayat tersebut dalam surah.

    Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Qur'an yang turun itu 
    atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka 
    menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit 
    atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin 
    Tabit, "Kami menyusun Qur'an di hadapan Rasulullah pada kulit 
    binatang."

    Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur'an kepada Rasulullah baik 
    dalam bentuk hafalan maupun tulisan. 
    Tulisan-tulisan Qur'an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu 
    mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. 
    Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di 
    antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, Zaid 
    bin Sabit dan Abdullah bin Mas'ud telah menghafalkan seluruh isi 
    Qur'an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid 
    bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur'an di 
    hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas.

    Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah di saat Qur'an telah dihafal 
    dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas, 
    ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan ayat-
    ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara 
    terpisah dalam tujuh huruf.

    Tetapi Qur'an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh 
    (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra' dan 
    ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan 
    membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti 
    turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula 
    terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun 
    sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur'an itu tidak menurut 
    tertib nuzul-nya (turun), tetapi setiap ayat yang turun dituliskan 
    di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan 
    bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu.

    Andaikata pada masa Nabi SAWQur'an itu seluruhnya dikumpulkan di 
    antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan 
    membawa perubahan bila wahyu turun lagi.

    Az-zarkasyi berkata, "Qur'an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada 
    zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, 
    penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur'an turun semua, yaitu 
    dengan wafatnya Rasulullah."

    Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid 
    bin Tsabit yang mengatakan, "Rasulullah SAW telah wafat sedang 
    Qur'an belum dikumpulkan sama sekali." Maksudnya ayat-ayat dalam 
    surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

    Al-Katabi berkata, "Rasulullah tidak mengumpulkan Qur'an dalam satu 
    mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap 
    sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya 
    dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf 
    secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya 
    yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal 
    ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan 
    usulan Umar radhiyalahu 'anhum.

    2. Metode yang digunakan untuk menyusun Al-Quran adalah metode wahyu 
    dari langit. Sebab setiap ada ayat yang turun, Rasulullah SAW selain 
    mengajarkan bacaan dan pemahamannya, beliau juga menjelaskan tata 
    letak ayat tersebut di dalam Al-Quran.

    3. Semua kitab tafsir yang hingga hari masih ada, bisa dijadikan 
    dasar penafsiran kita tehadap Al-Quran. Kita punya puluhan kitab 
    tafsir peninggalan para ulama yang sudah teruji sepanjang masa.

    Tentunya masing-masing kitab tafsir itu memiliki keunggulannya 
    sendiri--sendiri. Tergantung dari sudut pandang mana seseorang ingin 
    membidik pemahamannya terhadap A-Quran.

    Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi 
    wabarakatuh,
    Ahmad Sarwat, Lc.






   

Kirim email ke