bang Muslim, saya kurang tau apakah alamat ini
<http://www.pakdenono.com/metodologi.htm> ilegal, tapi cukup
membantu diskusi kita di milis ini. coba kita lihat kutipan berikut:
1.
Jadi, Al-Qur'an bukanlah produk budaya, karena AlQur'an bukanlah
hasil kesinambungan dari budaya yang ada. Al-Qur'an justru membawa
budaya baru dengan menentang serta mengubah budaya yang ada. Jadi,
Al-Qur'an bukanlah produk budaya Arab Jahiliyyah. Namun justru
kebudayaan Jahiliyyah Arab yang diubah pada zaman Rasulullah saw.
Jadi, budaya pada zaman Rasulullah saw. adalah produk dari Al-
Qur'an, bukan sebaliknya.
komentar:
mungkin ini soal perbedaan batasan kata "budaya". baiklah kita
terima dulu, walo sebenarnya ini belum menjawab kebingungan
bagaimana "bahasa *Tuhan" (hasil 'budaya' Tuhan????) dikonversi ke
bahasa arab/manusia. kita terima saja[lah] bahasa Tuhan bisa diubah
ke bahasa manusia, bukankah (dgn menggunakan akal kita), konversi
itu adalah berarti "memanusiakan" [bahasa] Tuhan?
(*Tuhan berarti "sesuatu" yg SAMA SEKALI BERBEDA dari apapaun yg
pernah TERBAYANGKAN manusia)
2.
Al-Qur'an juga bukan teks bahasa Arab biasa, sebagaimana teks-teks
sastra Arab lainnya. Menurut al-Attas, bahasa Arab Al-Qur'an adalah
bahasa Arab bentuk baru. Sejumlah kosa-kata pada saat itu, telah
diislamkan maknanya.
....
Jika Al-Qur'an produk teks bahasa biasa, maka teks tersebut akan
dengan mudah dipahami oleh orang Arab pada saat itu. Ternyata, bukan
hanya saat itu saja, sekarang pun tak semua orang Arab bisa
memahaminya. Tidak semua kata di dalam Al-Qur'an dapat dipahami
sahabat. Abdullah ibn 'Abbas tidak mengetahui makna fatir, hananan,
ghislin, awwah, al-raqim.111 Selain itu, Al-Qur'an memuat berbagai
macam dialek bahasa Arab. Abu Bakr al-Wasitiyy menyebutkan 50 ragam
dialek bahasa Arab di dalam Al-Qur'an.112 Al-Suyuti menyebutkan
berbagai kosa kata asing di dalam AlQur'an seperti kosa kata Persia,
Romawi, Nabatean, Ethiopia Barbar, Syiriak, Ibrani, Koptik dan lain-
lain.113 Selain itu, terdapat juga al-ahrufal-muqata`ah di dalam Al-
Qur'an yang semuanya tidak sesuai dengan perkembangan budaya sastra
Arab saat itu. Jadi, Al-Qur'an bukan produk budaya sastra arab: Ia
adalah suatu "budaya" baru. (istilah budaya sebenarnya tidak begitu
sesuai digunakan untuk Al-Qur'an, karena budaya mengandung makna
hasil kreasi manusia, padahal AlQur'an adalah wahyu dari Allah).
komentar:
Setuju, Alqu'ran memang bukang teks BIASA. tapi tetap saja Alquran
sudah menjadi TEKS ("biasa" maupun tidak). dan teks adalah
ranah "mainan" (budaya) manusia, bukan?
3.
Jika Al-Qur'an teks bahasa biasa, maka logikanya, Rasulullah saw.
ahli di bidang tulisan dan bacaan, yang karena keahliaannya itu bisa
membawa perubahan sangat mendasar pada masyarakat Arab waktu itu.
Padahal, Rasulullah saw. itu ummi.
komentar:
ummi = tidak bisa baca tulis?
terlepas Al-qur'an apakah "asli" dari Tuhan atau hanya (nyampur
dgn) "kreasi" manusia. menurutku ANEH sekali Rasul tak bisa baca
tulis. tak bisa baca tulis berarti TAK PUNYA KOMPETENSI apapun
sehubungan dgn TEKS apapun yg kita baca sekarang maupun yg mereka
baca pada masa lalu.
4.
Al-Qur'an juga bukan teks manusiawi, sebagaimana klaim Nasr Hamid,
karena ia bukan kata-kata Muhammad. Allah berfirman yang
artinya: "Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan
atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya,
kemudian benarbenar Kami potong urat tali jantungnya."114 Allah juga
berfirman yang artinya: "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (AI-
Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).115
komentar:
Paragraf di atas tidak membuktikan apa-apa kalo yg dipertanyakan
adalah "Alqur'an" itu sendiri.
5.
Selain itu, hermeneutika Nasr Hamid akan membawa kepada konsep bahwa
tafsir itu relatif. Padahal para mufasir terkemuka bersepakat dalam
berbagai perkara. Tidak ada seorangpun mufasir Muslim terkemuka dari
1400 tahun yang lalu hingga sekarang, berpendapat bahwa Nabi Isa as.
mati di tiang salib dan wanita muslimah boleh nikah dengan laki-laki
kafir. Jadi, pernyataan bahwa tafsir itu relatif adalah sebuah
kekeliruan, sekalipun terdapat ribuan buku tafsir.
komentar:
bahwa mufassir sepakat dg hal-hal tertentu, dan tidak sepakat dengan
yang hal yg lain, rasanya wajar-wajar saja lah, namanya manusia. dan
kemanusian ini juga lah yg membuat TIDAK ADA BATASAN YG JELAS MANA
YG SEPAKAT, MANA YG KURANG SEPAKAT, DAN MANA YG TIDAK SEPAKAT. kalo
berkenan, tolong diposting BATASAN hal-hal yg SEMUA ulama
menyepakati, dan yg SEBAGIAN BESAR ulama menyepakati, dan hal-hal yg
TIDAK PERLU DISEPKATI ulama karna memang ga relevan dgn urusan
kesepakatan.
--- In [email protected], "Muslim Armas" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Baiknya dibaca buku Metodologi Bibel dam Studi Alquran hal 70-80,
terbitan Gema Insani. Disitu diuraikan apakah Alquran produk dari
budaya, mengenai wahyu dan teks Alquran termasuk masalah kodifikasi
dan lainnya.