ok, go to Eri's statement: ...kita hanya bisa time travel ke 'depan' bukan ke 'belakang'
kasian malaikatnya nulis-hapus nulis-hapus gitu :) --- In [email protected], "Ario Wirawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ooo, maksudnya mengubah sejarah gitu. Ya bisa aja sih. Tapi ada beberapa > alternatif skenario yang bisa terjadi terkait dengan ini. > > > > Skenario 1. > > Timeline tetap satu. Jadi kita mengubah sejarah (tindakan diri kita sendiri > di masa lalu) sehingga mencegah past-kita berbuat dosa. Nah, dalam skenario > ini, karena timeline tetap satu, maka kejadian ini tetap terhubung dengan > hidup present-kita, sehingga dosa present-kita jadi berkurang. > > > > Skenario 2. > > Sama dengan skenario 1 sebenernya. Seharusnya dosa present-kita berkurang > karena tindakan pemicu dosa tidak jadi dilakukan. Tapi sayangnya tindakan > mengubah sejarah terhitung dosa oleh Tuhan. Besarnya segimana? Besarnya > sangat bervariasi, yaitu persis equal dengan dosa kita yang hilang akibat > perubahan sejarah yang terjadi. Artinya itungannya impas. > > > > Skenario 3. > > Timeline terpecah. Saat kita mengubah sejarah dan mencegah past-kita berbuat > dosa, timeline terpecah menjadi dua. Timeline present-kita yang sudah > dijalani tidak berubah (karena sudah dijalani, tindakan sudah dilakukan dan > dosa sudah terbentuk) tapi terbentuk alternate timeline di mana > alternate-kita berada (alternate-kita adalah past-kita yang tumbuh dewasa > setelah sejarah diubah). Di situ dosa alternate-kita berkurang, karena > tindakan pemicu dosa tidak dilakukan, tapi bagi present-kita dosa tidak > berkurang. > > > > Skenario 4. > > Timeline tidak bisa terpecah, tapi on the other hand, sejarah (sesuatu yang > sudah terjadi) bagi present-kita tidak bisa diubah/di-undone, karena kondisi > present-kita bisa "ada" dan "seperti itu" adalah karena sejarah/masa lalu > tertentu. Nah, dalam skenario ini memaksakan mengubah sejarah membuat > keberadaan present-kita menjadi kontradiktif dengan sejarah. Akibatnya, > begitu mengubah sejarah, maka keberadaan present-kita tidak lagi diakui oleh > timeline dan present-kita pun hancur/lenyap tanpa bekas. Alih-alih ngurangin > dosa malah mati. Keciannnn deh luuuuu... > > > > Lho, yang tadinya kelihatannya sederhana kok jadi panjang gini ya? He he > he... namanya juga mengkhayal. :-) > > > > Ario > > > > _____ > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > On Behalf Of Keanu R > > > > > > ---dengan asumsi time-travel ok--- > > lha kita khan bisa mencegah kita-old u/ berbuat salah :) > Amal ma'ruf nahi mungkar tuh ... :) > > Hehe... > MN > > --- In indo-startrek@ <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com, Ario Pro TV <progexprotv@> wrote: > > > > Kayaknya nggak ada hubungannya deh, Mas, antara kembali ke masa lalu > ama itungan dosa. Sama aja pindah ke masa lalu atau masa depan, nggak > ada pengaruh dengan itungan dosa kita. > > > > Menurut gue sih kalo kita pindah waktu, maka kita akan menjadi > person/entity yang berbeda dengan diri kita di masa itu (lalu atau > depan). Jadi dosa yang kita tanggung dengan tindakan-tindakan yang > kita lakukan ya terhitung pada diri kita yang melakukannya, di mana > pun dan di waktu mana pun kita melakukannya. IMHO. Lha, pindah waktu > aja belum dimungkinkan, semua pasti masih merupakan opini. :-) > > > > Ario > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
