Ikut Nimbrung Lagi. dalam sepengetahuan saya!  maklum saya juga pendaki
sendal Jepit.
pernah naik Sundoro, hanya overnight trekking bareng penduduk lokal. 
berangkat tengah malam
siang hari sudah balik lagi...
pernah juga naik gede, tampa perbekalan yang baik.. dan kesasar pula,
maklum saya suka juga dengan Overnight trekking...

kalau negeri ini banyak bencana, ini tidak lepas dari Mental Orang
indonesia!  dalam kecelakaan umumnya Faktor  "human error" menjadi
penyebab utama walaupun ada aturan safety, rule of Game, and
bla..bla..., tapi kadang aturan hanya di jadikan untuk mesin Uang!

tapi, kalau Gempa Bumi... atau Perubahan cuaca akibat Pemanasan Global,
ini susah... yang perlu di pahami, Bagaimana Kita Bisa hidup Bersama
Ancaman tersebut!
kalau pernah ke Sumtara  alias keliling2x kampung, anda akan menemukan
banyak rumah panggung di buat dari Kayu!   kalau mau belajar, orang
dulu.. sudah belajar hidup dan bersahabat dengan Gempa Bumi, Banjir
Bandang... atau Ancaman Binatang Buas... hehe

senyum2x,kalau mikiran hikmah yang sudah sekeranjang..hehehe, karena
setiap kejadian selalu ada hikmahnya.. kendalanya apakah kita mau
menpelajari kesalahan massa lalu, lalu melakukan perbaikan ke depan?
ini yang paling alias agak sulit untuk orang indonesia terutama penduduk
yang tinggal di kota... heboh nya hanya sebentar, setelah itu lupa..
lalu heboh lagi kalau ada Bencana.   sama seperti kalau ada pendaki
teman kita yang tewas, semua koran meliput... tapi, untuk liputan ttg 
pendakian gunung yang baik dan kegiatan Outdoor itu menyenangkan  dan
melatih mental kita, bisa di itung pakai Jempol tangan.
artinya, kita kadang sering nakut-nakuti saudara kita sendiri... seperti
waktu saya masih kecil, jangan lewat situ banyak hantu.... atau jangan
lewat kuburan tengah malam, nanti ketemu kuntilanak..
saya mah, tetep aja lewat!

mendaki gunung, terkadang menjadi salah makna, padahal mendaki gunung
bisa mendidik kita untuk mempelajari Peta Mental kita sendiri, mengenali
diri kita dan ego kita,   peralatan secanggih apa pun, perbekalan yang
baik tidak menjamin kita bisa selamat dari kecelakaaan atau bencana! 

Into Thin Air... kalau nggak salah, exepedisi berbiaya sangat mahal,
equipment with best quality..
Guide professional... tapi, karena Ego di yang punya Uang.. cerita nya
manjadi berbeda!

 ya namanya juga musibah.. terkadang yang Konyol adalah musibah di
negeri ini lebih banyak di sebabkan oleh..... Ego sentris, Money, dan
korupsi yang nggak bisa di tahan.

semoga ada pembelajaran bagi kita yang masih hidup.

salam
ARIS


bambang sutomo wrote:
> Betul kata mbak Ambar, dalam setiap kejadian di Indonesia kita selalu saja 
> memakai kata "Hikmah", untuk meredam opini publik oleh para pejabat. Kalau 
> dipikir-pikir sudah berapa keranjang hikmah yang kita kumpulkan, tapi 
> kejadian demi kejadian terus berulang, dari banjir, tanah longsor, kapal laut 
> karam, pesawat terbang gagal terbang atau gagal mendarat.
>    
>   Menyimak kejadian di gunung Rinjani, sebagai mantan mahasiswa, ego kita 
> kadang mengalahkan akal sehat dan logika, sebagai siswa yang maha, kadang 
> kita melihat rekan sesama mahasiswa yang notabene bukan anggota pencinta 
> alam, koq ya dapat mendaki gunung A atau B, yang menurut kabar sulit 
> ditaklukkan.
>    
>   Jadi selain mereka tidak ada pengetahuan dasar tentang pendakian, hal 
> sepele saja, seperti sepatu untuk pendakian dan jaket  yang tahan air, kadang 
> yang dipergunakan hanya sepatu dan jaket seadanya, belum lagi kalau 
> perjalanan memakan waktu lebih dari 2 hari, peralatan tenda sebaiknya 
> disiapkan juga.
>    
>   Mari kita manfaatkan hidup ini untuk hal yang lebih bermanfaat, jadi karena 
> kebodohan diri kita sendiri, kita akan konyol jadinya.
>   Terima kasih dan maaf kalau ada kata yang tidak berkenan.
>    
>   salam, Bambang di Bandung
>
> Ambar Briastuti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Dari berita disebutkan ketujuh pendaki ini dari Lombok, memasuki 
> pendakian Rinjani tanpa mendaftarkan diri ke pos TN, memakai jalur
> yang tidak familiar, kurangnya persiapan diri dan kemampuan survival.
>
> Saya hanya menyayangkan anak2 muda dengan semangat menggebu untuk
> unjuk diri tapi sepertinya kurang diberi wawasan tentang safety.
> Kegiatan adventurer seringan apapun mengandung resiko. Yang pasti
> kesiapan kita untuk menghadapi kemungkinan2 yang tidak terduga. Cuaca
> buruk, tersesat, sakit dsb.
>
> Safety bukan berarti nilai petualangan berkurang. Mendaftar di
> jagawana berarti membantu petugas TN menjaga pendaki, menghitung
> jumlah pengunjung, melihat tingkat kerusakan alam yang mungkin
> terjadi, membantu masyarakat setempat dll. It's care about other's
> people. 
>
> Salam,
> Ambar
>
>   

Kirim email ke