Dear all, Selama ini saya silent member, tapi kali ini ingin urun rembuk. Soal fiskal yang menghambat orang Indonesia mengembangkan wawasan, saya setuju sekali! Saya bukan orang yang kaya banget sampai tiap tahun bisa ke luar negeri (sekali-sekalinya ke Eropa pun dengan biaya kantor) jadi setiap kali saya mesti keluar uang untuk fiskal, saya merasa dirampok. Terutama sekali karena saya merasa tidak tahu ke mana uang fiskal itu setelahnya (bagus kalau dipakai untuk perbaikan pelayanan atau saranan transportasi gitu). Gosh, kalau dihitung dari penghasilan saya per bulan, fiskal itu mengambil jatah yang sangat besar! Sementara kalau tidak ada fiskal, mungkin uang satu juta perak itu bisa saya pakai untuk menginap 2-3 malam lagi di luar negeri, atau mungkin beli tiket kereta api ke mana lagi, atau bisa juga buat nyoba makanan unik 4-5 kali lagi. Intinya uang satu juta rupiah itu besar. Bahkan setelah dikurs ke euro atau dolar.
Kedua, menjelajah Indonesia sebelum menjelajah luar negeri. Ini juga saya coba lakukan. Tapi meskipun berani menyebut diri independent travelling, saya belum bisa menyebut diri backpacker. Jadi saya masih butuh kenyamanan dan kemudahan pada taraf tertentu. Dan itu yang tidak ada di daerah-daerah di Indonesia. Kenyamanan dan kemudahan bisa dibilang hanya ada di Jawa dan Bali. Sad to say. Ketiga, selain fiskal dan soal kenyamanan, saya rasa yang membuat orang Indonesia tidak bisa jadi traveler adalah CUTI. Rata-rata orang Indonesia (mungkin kecuali yang kerja di perusahaan asing) cuma punya cuti 12 hari dalam satu tahun. Ini nggak mungkin diambil blas sekali jadi dong, karena mungkin anak sakit atau ada urusan mendesak yang harus diopeni. Kalaupun diambil sekali jadi, ditambah sabtu-minggu, total hari yang didapat cuma 16-18 hari. Mau ke mana dalam waktu sependek itu? Balik lagi, kalau saya dengan waktu yang sangat terbatas akhirnya memilih kenyamanan dan kemudahan. Bandingkan dengan orang Eropa yang punya libur Natal, libur Paskah, libur musim panas, libur hari buruh, dll, dsb. Teman saya di Belgia dalam tahun ini saja sudah bisa pergi ke Prancis, Italia, Cina, belum lagi trip dalam negerinya sendiri. Dan omong-omong soal cuti, memang benar tuh yang dibilang bahwa orang Indonesia yang bisa jalan-jalan adalah yang sudah kerja. Kecuali remaja yang ortunya kaya. Soal jarak tempuh dan lokasi liburan juga ngaruh. Karena Indonesia negara kepulauan, sarana transportasinya jadi banyak: kapal, feri, pesawat terbang. Bukan sekadar mobil atau bus (yang bisa dilakukan orang Eropa untuk keliling benua). Dengan banyaknya sarana transportasi yang harus digunakan ini, akhirnya akan kembali jatuh ke masalah utama: uang. Sigh, Donna Widjajanto www.cdonnaw.blogs.friendster.com [Non-text portions of this message have been removed]
