O iya, satu lagi yang menghalangi travelling di dalam negeri: perbandingan harga dengan kalau pergi ke luar negeri. Saat libur Waisak (awal Juni 2007) lalu, saya sempat ingin berwisata ke Jawa Tengah (Semarang), sayang sekali saya terlalu mepet cari tiketnya. Walhasil tiket pesawat sekali jalan ke Semarang Rp 900.000 (!!!). Sementara Air Asia ke Batam, lalu lanjut ke Singapura dengan feri hanya Rp 400.000. Akhirnya perbandingan harganya adalah Jakarta-Semarang pp Rp 1.800.000/orang. Jakarta-Singapura pp Rp 1.600.000/orang. Ya jelas saya pergi ke Singapura dong.
sigh lagi, donna ----- Original Message ----- From: Alvin Antono To: Donna Widjajanto ; [email protected] Sent: Monday, October 08, 2007 9:23 AM Subject: Re: [indobackpacker] Re:Bangsa Bukan Petualang - Mungkinkah gara2 Fiskal?ngga setuju ! Well, saya rasa saya juga setuju dengan hal ini. Kemarin waktu ada rush AirAsia Jakarta-Bangkok (biarpun akhirnya ditutup), saya dkk ampir2 ikutan beli kalau gak mikir masalah fiskal. Tapi dari sisi lain ada positifnya juga, jadi menjelajah dalam negeri. Tetapi apa yg diharapkan selagi menjelajah di dlm negeri seringkali tidak terjadi. Bahkan backpacking travel di luar negeri biasanya lebih murah daripada di Bali! Padahal kualitas yang ditawarkan kurang lebih setara, walaupun alam kita lebih bagus. Saya gak tau kemana larinya semua uang itu. Kalau semua dikorupsi rasanya gak mungkin, karena kebanyakan dikelola swasta. Kenapa di negeri kita (diluar Bali), objek pariwisata payah semua, indah tapi no facilities. Kalaupun ada yg memadai, mahal bgt. Saya cuman bandingin ma Singapore yang punya backpacker hostel, murah n bersih. Saya sih termasuk kelompok yg sgt setuju kalo fiskal dihapus. Karena dgn begitu kt bs lebih banyak protes ke depdikbudpar setelah dibandingkan dengan LN. Ignatius Alvin Antono ----- Original Message ---- From: Donna Widjajanto <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, October 8, 2007 8:34:08 AM Subject: [indobackpacker] Re:Bangsa Bukan Petualang - Mungkinkah gara2 Fiskal?ngga setuju ! Dear all, Selama ini saya silent member, tapi kali ini ingin urun rembuk. Soal fiskal yang menghambat orang Indonesia mengembangkan wawasan, saya setuju sekali! Saya bukan orang yang kaya banget sampai tiap tahun bisa ke luar negeri (sekali-sekalinya ke Eropa pun dengan biaya kantor) jadi setiap kali saya mesti keluar uang untuk fiskal, saya merasa dirampok. Terutama sekali karena saya merasa tidak tahu ke mana uang fiskal itu setelahnya (bagus kalau dipakai untuk perbaikan pelayanan atau saranan transportasi gitu). Gosh, kalau dihitung dari penghasilan saya per bulan, fiskal itu mengambil jatah yang sangat besar! Sementara kalau tidak ada fiskal, mungkin uang satu juta perak itu bisa saya pakai untuk menginap 2-3 malam lagi di luar negeri, atau mungkin beli tiket kereta api ke mana lagi, atau bisa juga buat nyoba makanan unik 4-5 kali lagi. Intinya uang satu juta rupiah itu besar. Bahkan setelah dikurs ke euro atau dolar. Kedua, menjelajah Indonesia sebelum menjelajah luar negeri. Ini juga saya coba lakukan. Tapi meskipun berani menyebut diri independent travelling, saya belum bisa menyebut diri backpacker. Jadi saya masih butuh kenyamanan dan kemudahan pada taraf tertentu. Dan itu yang tidak ada di daerah-daerah di Indonesia. Kenyamanan dan kemudahan bisa dibilang hanya ada di Jawa dan Bali. Sad to say. Ketiga, selain fiskal dan soal kenyamanan, saya rasa yang membuat orang Indonesia tidak bisa jadi traveler adalah CUTI. Rata-rata orang Indonesia (mungkin kecuali yang kerja di perusahaan asing) cuma punya cuti 12 hari dalam satu tahun. Ini nggak mungkin diambil blas sekali jadi dong, karena mungkin anak sakit atau ada urusan mendesak yang harus diopeni. Kalaupun diambil sekali jadi, ditambah sabtu-minggu, total hari yang didapat cuma 16-18 hari. Mau ke mana dalam waktu sependek itu? Balik lagi, kalau saya dengan waktu yang sangat terbatas akhirnya memilih kenyamanan dan kemudahan. Bandingkan dengan orang Eropa yang punya libur Natal, libur Paskah, libur musim panas, libur hari buruh, dll, dsb. Teman saya di Belgia dalam tahun ini saja sudah bisa pergi ke Prancis, Italia, Cina, belum lagi trip dalam negerinya sendiri. Dan omong-omong soal cuti, memang benar tuh yang dibilang bahwa orang Indonesia yang bisa jalan-jalan adalah yang sudah kerja. Kecuali remaja yang ortunya kaya. Soal jarak tempuh dan lokasi liburan juga ngaruh. Karena Indonesia negara kepulauan, sarana transportasinya jadi banyak: kapal, feri, pesawat terbang. Bukan sekadar mobil atau bus (yang bisa dilakukan orang Eropa untuk keliling benua). Dengan banyaknya sarana transportasi yang harus digunakan ini, akhirnya akan kembali jatuh ke masalah utama: uang. Sigh, Donna Widjajanto www.cdonnaw. blogs.friendster .com [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
