Well, saya rasa saya juga setuju dengan hal ini. Kemarin waktu ada rush AirAsia
Jakarta-Bangkok (biarpun akhirnya ditutup), saya dkk ampir2 ikutan beli kalau
gak mikir masalah fiskal. Tapi dari sisi lain ada positifnya juga, jadi
menjelajah dalam negeri. Tetapi apa yg diharapkan selagi menjelajah di dlm
negeri seringkali tidak terjadi. Bahkan backpacking travel di luar negeri
biasanya lebih murah daripada di Bali! Padahal kualitas yang ditawarkan kurang
lebih setara, walaupun alam kita lebih bagus. Saya gak tau kemana larinya semua
uang itu. Kalau semua dikorupsi rasanya gak mungkin, karena kebanyakan dikelola
swasta. Kenapa di negeri kita (diluar Bali), objek pariwisata payah semua,
indah tapi no facilities. Kalaupun ada yg memadai, mahal bgt. Saya cuman
bandingin ma Singapore yang punya backpacker hostel, murah n bersih. Saya sih
termasuk kelompok yg sgt setuju kalo fiskal dihapus. Karena dgn begitu kt bs
lebih banyak protes ke depdikbudpar setelah
dibandingkan dengan LN.
Ignatius Alvin Antono
----- Original Message ----
From: Donna Widjajanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, October 8, 2007 8:34:08 AM
Subject: [indobackpacker] Re:Bangsa Bukan Petualang - Mungkinkah gara2
Fiskal?ngga setuju !
Dear all,
Selama ini saya silent member, tapi kali ini ingin urun rembuk.
Soal fiskal yang menghambat orang Indonesia mengembangkan wawasan, saya setuju
sekali! Saya bukan orang yang kaya banget sampai tiap tahun bisa ke luar negeri
(sekali-sekalinya ke Eropa pun dengan biaya kantor) jadi setiap kali saya mesti
keluar uang untuk fiskal, saya merasa dirampok. Terutama sekali karena saya
merasa tidak tahu ke mana uang fiskal itu setelahnya (bagus kalau dipakai untuk
perbaikan pelayanan atau saranan transportasi gitu). Gosh, kalau dihitung dari
penghasilan saya per bulan, fiskal itu mengambil jatah yang sangat besar!
Sementara kalau tidak ada fiskal, mungkin uang satu juta perak itu bisa saya
pakai untuk menginap 2-3 malam lagi di luar negeri, atau mungkin beli tiket
kereta api ke mana lagi, atau bisa juga buat nyoba makanan unik 4-5 kali lagi.
Intinya uang satu juta rupiah itu besar. Bahkan setelah dikurs ke euro atau
dolar.
Kedua, menjelajah Indonesia sebelum menjelajah luar negeri. Ini juga saya coba
lakukan. Tapi meskipun berani menyebut diri independent travelling, saya belum
bisa menyebut diri backpacker. Jadi saya masih butuh kenyamanan dan kemudahan
pada taraf tertentu. Dan itu yang tidak ada di daerah-daerah di Indonesia.
Kenyamanan dan kemudahan bisa dibilang hanya ada di Jawa dan Bali. Sad to say.
Ketiga, selain fiskal dan soal kenyamanan, saya rasa yang membuat orang
Indonesia tidak bisa jadi traveler adalah CUTI. Rata-rata orang Indonesia
(mungkin kecuali yang kerja di perusahaan asing) cuma punya cuti 12 hari dalam
satu tahun. Ini nggak mungkin diambil blas sekali jadi dong, karena mungkin
anak sakit atau ada urusan mendesak yang harus diopeni. Kalaupun diambil sekali
jadi, ditambah sabtu-minggu, total hari yang didapat cuma 16-18 hari. Mau ke
mana dalam waktu sependek itu? Balik lagi, kalau saya dengan waktu yang sangat
terbatas akhirnya memilih kenyamanan dan kemudahan. Bandingkan dengan orang
Eropa yang punya libur Natal, libur Paskah, libur musim panas, libur hari
buruh, dll, dsb. Teman saya di Belgia dalam tahun ini saja sudah bisa pergi ke
Prancis, Italia, Cina, belum lagi trip dalam negerinya sendiri.
Dan omong-omong soal cuti, memang benar tuh yang dibilang bahwa orang Indonesia
yang bisa jalan-jalan adalah yang sudah kerja. Kecuali remaja yang ortunya kaya.
Soal jarak tempuh dan lokasi liburan juga ngaruh. Karena Indonesia negara
kepulauan, sarana transportasinya jadi banyak: kapal, feri, pesawat terbang.
Bukan sekadar mobil atau bus (yang bisa dilakukan orang Eropa untuk keliling
benua). Dengan banyaknya sarana transportasi yang harus digunakan ini, akhirnya
akan kembali jatuh ke masalah utama: uang.
Sigh,
Donna Widjajanto
www.cdonnaw. blogs.friendster .com
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]