Industri jasa penerbangan nasional yang mulai bangkit tampaknya tercoreng lagi 
dengan kejadian Adam Air. Memang untuk sebuah kecelakaan cukup banyak faktor 
penyebab-nya. Untuk kasus Adam Air, kalau memang benar cabin crew tidak 
terampil membuka pintu darurat, patut disayangkan. Barangkali seperti inilah 
"potret" low cost airline di Indonesia ini.....barangkali lho. 

Saya pribadi setuju dengan pendidikan cabin crew di Garuda yang salah satu 
latihan-nya di hutan untuk materi Jungle Survival. Rekan saya seorang pilot 
senior Garuda, Capt Johnny Santoso yang adalah fotografer, dalam sebuah trip ke 
Kep Seribu dia cerita, kalau awak cabin Garuda wajib nyemplung di laut. Ngga 
hanya harus bisa renang dan menyelamatkan dirinya sendiri tetapi juga nolong 
penumpang lain. Dari pelayaran singkat ke pulau Untung Jawa, saat baru keluar 
dari Muara Angke, beliau dapat inspirasi mengusulkan ke bagian pendidikan agar 
para cabin crew-nhya suatu saat bisa di "cemplungin" di Muara Angke yang butek 
dan keruh. Mereka harus ngalami latihan seperti itu, karena musibah tidak pilih 
tempat. Pesawat nyemplung di kali pun juga bisa. Entah bisa terwujud atau 
tidak...... 

Memang untuk mendidik cabin crew agar terampil dan semakin terampil butuh biaya 
besar. Tapi itu salah satu konsekuensi bisnis di airline. Sangat ironis juga 
gara-gara pangkas cost akhirnya faktor ketrampilan di kurangi.....

Saya pribadi sejak musibah Adam Air tahun lalu yang nyemplung di laut dalam 
penerbangan Surabaya - Manado memang agak ngeri untuk. Memang musibah sich bisa 
dimana saja. Naik airline apa saja kalau memang sudah waktu-nya menghadap Sang 
Khalik ya ngga bisa di tolak. Tapi kalau perhatikan maintain, ketrampilan, dan 
berbagai kondisi perawatan dll cukup ngeri juga kalau akhirnya menghadap Sang 
Khalik dalam kondisi tragis 'n dramatis. 

Beberapa bulan lalu saya baca di salah satu koran hampir kejadian tragis 
terjadi di bandara Juanda. Kejadiannya mirip tragedi di P. Canary yaitu 
tabrakan KLM dengan Pan-am tahun 1975. Dimana kejadian-nya Batavia Air yang 
siap take off terpaksa membatalkan gara-gara Adam Air tiba-tiba masuk ke 
jalur-nya. Wah hampir kalau musibah itu terjadi, gegerlah penerbangan kita.... 
May be ada rekan IBP terutama yang di Surabaya pernah baca berita itu. 
Untung-nya tidak terliput besar-besar-an di media massa. 

Waktu ngumpul dengan rekan-rekan Angkasa Readers ada cerita biking ngerinding 
juga. Penuturan seorang pilot ngamuk dan hampir menjotos rekan sesama pilot 
dari maskapai lain. Ceritanya saat menjelang landing di salah satu bandara di 
Sumatra dalam kondisi rame terjadilah antrian. Tiba-tiba ada airline yang low 
cost berinisial "L" yang entah seijin pengawas bandara atau memang nekad 
nyelonong masuk ke jalur-nya. Ibarat ada yang nyerobot antrian. Tentu saja 
tindakan ini sangat berbahaya. Tapi untung si pilot bisa bermanuver demi 
menghindar accident yang nyelonong antrian. Begitu sampai di darat si pilot 
segera menghampiri si pilot yang nekad nyelonong, mendamprat-nya dan nyaris 
terjadi baku hantam. Informasi-nya pilot yang nekad nyelonong tersebut ngejar 
target waktu pendaratan. Maklum low cost airline. Kalau ETA/ETL (Estimation 
Time Arrival / Landing) meleset jauh bisa berdampak ke jadwal yang lain. Khan 
pesawat-nya di rolling lagi 'n di tunggu untuk penerbangan selanjutnya. 
Untung-nya waktu itu penumpang ngga tahu.....Wuiii ngerinding juga ya waktu 
dengar cerita begitu....Tapi ya logis juga. 

Kembali ke kasus Adam Air di Batam.... Diberitakan juga airline mendarat dalam 
cuaca buruk sehingga perlu mendarat 2 kali setelah yang pertama gagal. Menjadi 
pertanyaan juga, apakah saat itu pilot memaksakan untuk landing supaya ETA/ETL 
tidak meleset jauh....? Apalagi jadwal Adam Air cukup padat. Katakanlah di 
Batam hanya 30 menit lalu sudah terbang lagi ke Jakarta. Dari Jakarta pesawat 
akan terbang lagi entah ke mana.....

Tapi begitu lah kondisi low cost airline. Jam terbang pesawat di optimal-kan 
dalam sehari. Sedapat mungkin jangan ada pesawat yang nganggur. 


  ----- Original Message ----- 
  From: Ambar Briastuti 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, March 13, 2008 11:32 AM
  Subject: [indobackpacker] Re: Dari Kasus Kecelakaan Adam Air di Batam


  Bang Robert, saya ingat kejadian meledaknya pesawat Garuda di
  Jogjakarta setahun lalu. Ada saksi menuturkan perilaku penumpang yang
  lebih mementingkan barang2nya ketimbang meloloskan diri. Saat itu di
  ledakan pertama pintu darurat sudah terbuka jadi sebenarnya ngga ada
  masalah atau kemungkinan macet.

  Karena tiap pesawat beda sistem buka pintu darurat dan juga lokasi-nya
  maka memang penuturan safety itu harus selalu diperhatikan. Walau
  penumpang itu sering terbang sekalipun. Tiap naik pesawat kan posisi
  duduk pasti beda.

  

Kirim email ke