Setuju....Menanyakan jenis pesawat apa yang digunakan saat booking bukan lah 
suatu hal yang keliru. Pengalaman saya saat pilih terbang dengan Sriwijaya dari 
Jakarta ke Denpasar via Surabaya juga menanyakan jenis pesawat. Di jawab B-737 
tanpa di sebutkan nomor seri-nya. Padahal no seri B-737 yang digunakan cukup 
banyak. Akhirnya saya tanya lagi seri berapa...baru di jawab seri 200. Alhasil 
kalau tidak kepepet saya menghindar pilih dengan Sriwijaya kalau ia pake B-737 
200. Bukannya takut karena merupakan seri tua tetapi seat dan jarak antar seat 
sangat sempit. Berhubung badan dan paha saya besar begitu duduk sudah ngga bisa 
leluasa gerak. Berasa rapet bener. Kalau pas mau motret view, wah repot banget. 
Kasihan juga penumpang di sebelah kesenggol terus. Untung waktu itu terbang di 
rute pendek, Jakarta - Surabaya yang hanya 50 menit, lanjut Surabaya - Denpasar 
45 menit.

Kalau pilihan naik Lion juga menanyakan jenis pesawat. Tujuan-nya untuk pilih 
tempat duduk. Kalau menggunakan B-737-900 yang merupakan seri terbaru pilih 
seat no 30 atau 31. Sedapat mungkin menghindar no 29 deretan F. Itu kalau 
komposisi tidak berubah. Kalau yang digunakan tipe MD 80 atau 90, lebih baik 
pilih no 25 deretan A. Kenapa, karena untuk tipe itu formasi-nya 2 - 3. Pilihan 
no 25 ada dibelakang sayap, untuk motret bisa leluasa. 

Pilihan naik Batavia kalau menggunakan B 737 300 - 400, bila ingin ke Surabaya 
ngga sebut nomor tapi pilih deretan F, 3 baris dari belakang. Kenapa....? untuk 
ke Surabaya biasanya pesawat terbang di pesisir utara P.Jawa. View yang bagus, 
seperti gugusan pegunungan ada di sebelah kanan. Asyik tuch bisa motret beragam 
gunung. Sebaliknya kalau pilih deretan A, berarti yang di sebelah kiri hanya 
lihat laut doang. Pilihan 3 baris dari belakang untuk motret cukup ideal, tidak 
terhalang sayap, selain itu bila terjadi accident biasanya deretan belakang 
lebih save karena "dekat" dengan black box. Cuma konsekuensi-nya kalau pas 
landing di cuaca buruk, apalagi kalau pilot melakukan hard landing, hentakan 
cukup terasa.

Untuk ke Yogya, pilihan ideal sebelah kiri. Kenapa...? karena biasanya pesawat 
terbang menyusur pantai Selatan. Dari deretan sebelah kiri kalau cuaca bagus 
menjelang mendarat bisa lihat deretan Gn Sindoro - Sumbing dan Merapi. Oke juga 
view-nya. 

salam
  ----- Original Message ----- 
  From: Hardi Baktiantoro 
  To: R A I 
  Sent: Thursday, March 13, 2008 9:00 AM
  Subject: Re: [indobackpacker] Dari Kasus Kecelakaan Adam Air di Batam


  KENALI JENIS PESAWAT ANDA. 


  Teman saya,  menyarankan bahwa ada baiknya para traveller mengenali jenis 
pesawat sebelum terbang. 


  Pada saat booking penerbangan, tanyakan pada petugasnya: jenis peswat apa 
yang akan dipakai untuk terbang. 
  Ini penting sekali. Jenis pesawat mennetukan usia pesawat juga. Logikanya: 
jenis pesawat menentukanusia pesawat dan menentukan tinggi rendahnya resiko. 
Pesawat tua resikonya lebih besar daripada peswat terbaru. kakek tua yang 
menggendong seorang anak lebih beresiko jatuh dibandingkan anak muda yang atlet 
lari. 


  Ambil contoh Boeing. 
  B 737 seri 200, 300, 400, 500, 600 dst hingga 900 dengan berbagi versinya 
menunjukkan usia pesawat. 
  Boeing 737 200 tentu saja bisa dibilang pesawat tua dalam kancah penerbangan 
internasional. Coba cari pesawat dengan versi 300 atau 400 minimal. 
  Di Indonesia, Adam memang merajai di kelas 200 ini. 


  Sejauh ini, Mandala Airlines bisa dikatakan paling fair. Bila kita booking 
online, akan terlihat dengan peswat jenis apa kita akan terbang. Misalnya 
dengan Airbus seri ini atau Boeing seri itu. Garuda juga. Petugasnya selalu 
fair ketika ditanya jenis pesawat yang akan dipakai dalam sebuah penerbangan. 
tentu saja jawaban fair akan sulit didapat dari penerbangan yang sering 
tertunda atau gonta - ganti peswat seenaknya. 


  Harga buka jaminan. Mandala Air murah, Garuda relative mahal. Keduanya fair. 
  Ada yang mau cek ke Lion? Sejauh ini Lion selalu promosi peswat terbarunya 
Boeing 900 ER, namun pada kenyataannya bisa aja terbang dengan pesawat seri MD. 
 Air Asia, NO WAY! Saya masih sepakat dengan Sukarno untuk mengganyang 
Malaysia. 


  Tanyalah paman Google untuk informasi detil mengenai pesawat apa saja yang 
beterbangan angkasa Indonesia. Selamat berlibur selamat jalan - jalan asal 
jangan ke Malaysia. 


  Hardi Baktiantoro
  bukanpilotpesawat




Kirim email ke