Kalau ingin mengetahui apa itu backpacker, coba baca buku The Journey
karya 'sesepuh backpacker Indonesia' Mas Gola Gong. Pasti bisa
membedakan yang mana turis dan yang mana seorang backpacker. He he he
atribut itu tidak penting. Tas, sepatu, kamera adalah cuma benda.
Menempel di badan.  Apakah semua backpacker harus pake ransel?  Tapi
pernahkan mencari lebih dari itu?

Well, let's the fact speaks itself. 

=================

"The Journey" (Penerbit Maximalis Salamadani, Bandung, 2008) karangan
Gola Gong, mengisahkan perjalanan Gola Gong menyusuri bumi Asia; dari
Serawak, Malaysia, Thailand, Laos, Bangladesh, India, Nepal, dan
Pakistan. Juga perjalanan spiritualnya. Buku ini juga ibarat sebuah
proses perjalanan hidup kita yang panjang menuju perhentian abadi di
sisi-Nya. 

***

Jouney adalah buku kedua setelah "Menggenggam Dunia" (Dar! Mizan,
2005). Bagiku "journey" bukan sekedar perjalanan phisik semata, tapi
juga perjalanan menuju Allah SWT. Bukankah hidup sesunguhnya adalah
perjalanan menuju rumah masa depan kita, sebidang tanah berukuran 2 x
1 meter persegi?

Bapakku ketika muda adalah orang kuat. Tak ada hari tanpa olahraga.
Selepas Shubuh, Bapak jogging mengelilingi alun-alun kota Serang. Kata
Bapak, jika aku ingin keliling dunia, tubuhku harus sehat. Ya, sejak
aku membaca novel "Keliling Dunia dalam 80 Hari" (Jules Verne" yang
aku baca di prpustakaan sekolah saat aku di SD, aku berkeinginan
keliling dunia. Itu adalah mimpi kanak-kanakku. Lantas menjadi obsesi.
Tapi aku bukan anak pejabat, pengusaha, apalagi konglomerat, sehingga
uang menjadi hambatan utama. Aku tahu, ada orang yang dilahirkan
memiliki kehormatan sekaligus kekayaan. Tapi aku? Hanyalah anak dari
pasangan suami-istri yang berprofesi sebagai guru. Kalian tahu, guru
adalah profesi yang "tertindas" di negri ini pada masa rezim orde
baru. Mereka selalu dikhianati. Ketika kampanye, mereka dielu-elukan
sebagai pemilik negeri. Tapi setelah pemilu, mereka dipantati dan
diludahi. Gaji mereka hanya cukup untuk hidup seminggu. Kesejahteraan
mereka hanya dihargai dengan slogan "pahlawan tanpa tanda jasa".
Memang berbeda dengan nasib guru sekarang, yang setelah era Soehato
runtuh, mulai disebut dengan "pahlawan dengan tanda jasa". Gaji mereka
mulai ditingkatkan dan sejahtera.

Kawan, aku ingat Bapak sering mengajakku berkelana mengelilingi Bnten
dengan motor Vespanya. Itu membuat keinginan keliling dunia terus
menggebu dan menyiksaku. Sampai aku terus menggelandang dan kabur dari
SMA (1981) untuk melihat bumi Jakarta. Naik turun truk dan gerbong
kereta api serta tidur di mesjid, terminal, atau beratapkan langit.
Juga menyia-nyiakan kuliahku di Fakultas Sastra UNPAD (1982 – 85) demi
merasakan keindahan Nusantara. Lalu aku terdampar di sebuah pesantren
di Asem Bagus, Situ Bondo. Aku nyantri di sana dan tidak mau
sekolahku. Tapi Bapak menyusulku dan menyuruhku pulang, karena Emak
sakit. Aku pulang, tapi Bapak menanyaiku, apakah pernah lewat jalur
selatan? Belum, jawabku. Lalu Bapak mengajakku naik bus pulang ke
Serang, lewat jalur selatan. Setiba di rumah dua hari kemudian, Emak
memarahi kami, kenapa begitu lama? "Anak sama Bapak tidak ada beda! "
protes Emak waktu itu.

Kawan, saat aku menulis ini, jam dinding menunjukkan pukul 00 kurang
10 menit. Andi sedang berdzikir. Goosal, adik lelakiku, tregolek di
sofa. Dia paling sering menjagaik Bapak. Hasan, kakak lelakiku, juga
terbaring lemas. Aku lirik Bapak, nafasnya turun naik. Bagiku ini
adalah proses perjalanan Bapak menuju tempat di sisi-Nya. Jika itu
yang terbaik bagi Bapak, aku ikhlas. Sepanjang hampir 7 tahun, setiap
malam Bapak mnejreit kesakitan, karena sayaraf ditubuhnya mengalami
iritasi. Itu sama dengan yang sedang aku derita. Sekarang aku sedang
breusaha sekut tenaga mengobati sakitku.

Aku dan Bapak memang tidak berbeda. Termasuk kesukaan berpetualang
menenali daerah-daerah baru. Aku tahu Bapak menginginkan sekali
anak-anaknya berpergian ke seantero negri. Tapi Bapak tidak mampu
membekali dengan uang. Ilmu, ilmu yang Bapak berikan kepadaku.
Akhirnya jurnalisme menjadi jalan keluar yang terbaik. Pepatah
"menyelam sambil minum air" adalah jimat yang aku selipkan di hatiku
ketika berpergian. Itu artinya sambil berwisata aku bisa mendapatkan
uang. Ternyata dengan berwisata, kawan, banyak hal yang bisa aku
peroleh. Kawan baru di perjalanan, pengetahuan, ketabahan,
kedisplinan, rasa percaya diri, yang kesemuanya bisa mengatasi kondisi
sulit dalam mengarungi hidup yang keras dan kompetitif ini.

Bukankah hal-hal tersebut sangat bermanfaat jika diceritakan kawan?
Yah, menulislah pemecahannya. Praktis dan biayanya murah. Banyak mass
media (koran atau majalah) yang akan menampung perjalanan kita, kawan.
Dan tulisanku tentang perjalanan yang aku lakukan sudah menyebar di
berbagai media masa.

Setelah tahu betapa mudahnya mengakali dana untuk biaya berwisata, aku
tak gentar lagi menyebrang ke negeri orang. Pada tanggal 9 September
1991 aku terbuang ke Pontianak. Lima hari kemudian aku menginjakkan
kaki ke Khucing, Serawak. Lantas Jajirah Malaysia, Thailand, Laos,
Myanmar, Banglades, Nepal, India, dan Pakistan aku hidup harum
tanahnya. Di setiap negara yang aku kunjungi, aku membuat laporan
perjalanan atau artikel. Aku kirim ke majalah yang ada di Indonesia.
Dengan cara seperti itu; aku menulis catatan perjalanan di
tempat-tempat kursus mengetikdi negeri orang, aku bisa melanjutkan
perjalanan dan bertahan hidup di negeri orang. Aku bisa mengejar
bebrapa bagian impian masa mudaku untuk melihat dan menikmati
karya-karya besar manusia dan Tuhan. Syukur alhamdulillah.

Bagiku menyusuri bumi adalah juga perwujudan dari "iqra". Membaca
dunia. Aku belajar langsung dari Sang Maha Guru kehidupan; Allah. Aku
tahu Allah mengirimkan guru-guru terbaik-Nya kepadaku di sepanjang aku
menjalani kehidupan. Misalnya, aku menemukan pelajaran, bahwa menjadi
seorang traveller atau lelaki pejalan harus menolong dan ditolong
orang. Begitu juga aku. Adalah "bapakku", almarhum Anton Sumanggaono
dan kawan-kawanku di tabloid Warta Pramuka (1990) yang dengan ikhlas
meminjamkan kamera serta recorder-nya. Terlebih-lebih "Kakakku", Bens
Leo (pemimpin Redaksi Majalah Anita Cemerlang, 1990), yang mau
repot-repot mengirimkan honor tulisanku di mana saja aku sedang
berada. Tak bisa aku bayangkan jika Bens Leo "ngambek" dan tidak mau
memuat tulisanku yang aku kirim dari negeri orang di majalah Anita
Cemerlang, sememtara aku sangat membutuhkan uang.

Kawan-kawanku yang dengan setia menghiburku dengan kabar dari tanah
air. Toto ST Radik, Ayieq Adhimas, dan Rys Revolta. Surat mereka
melunasi rasa kangenku pada kampung halaman. Juga Joermawan, Taib
Murap, yang ikhlas membagi tempat tidurnya di Kualla Lumpur, Rifqi
Saelan dan Idon yang menampungku di apartemen mereka di Bangkok.
Savina, Yuni, Su'udi, Raharjo, Bapak Dedy Nasidi, serta murid dan guru
di sekolah Bangkok adalah kisah manis yang lain. Dan Mas Bambang
Sugeng di KBRI new Delhi, yang membantu memecahkan kesulitan pengriman
uang dari tanah air. Kepada sesama traveller pun aku memperoleh banyak
kenangan dan berbagai pengalaman. Kenichi Inamoto, Japanis, dengannya
mengalami suka duka di Banglades. Yoo Chii-wan, Korean, India jadi
terasa semarak. Ah, terlalu banyak jejakku untuk di tulis di sini,
kawan. Yang penting, kawan, ternyata dalam melakukan perjalanan
berwisata, persahabatan dan pengetahuan bisa sekaligus diperoleh.

Maka, pergilah sebentar dari rumah. Sisakalah waktu dalam hidupmu,
kawan, untuk melihat dan menikmati dunia. Hidup tidak melulu cuma
harta, tahta, dan kehormatan. Dengan berdarmawisata, kawan, banyak hak
yang akan kita peroleh, yang tidak akan kita dapati di bangku sekolah.
Hidup adalah merangkai segala macam pengalaman di kehidupan. Hidup
adalah menyiapkan diri kita membawa bekal menuju perjalanan panjang
sesungguhnya; menghadap Allah SWT.

Akhir kata, aku persembahkan pertualangan muda yang mencintai
kehidupan. Segalanya bagi Bapak yang sedang terbaring menuju
perjalanan abadi, Emak yang begitu sabar sendirian di ruamah, Tias
Tatanka yang menjagai keempat anakku; Bella, Abi, Odi, Kaka. Juga
anak-anak sosiologisku di Rumah Dunia. Secuil pengalaman hidupku ini
semoga bisa membuat anak-anak masa depanku belajar tentang kehidupan. (*)

 

- Konplek PDK Penancangan – April 1993

- Rumah Sakit Serang – 10 Desember 200
 

* Catatan Perjalanan Asia ini pernah dimuat bersambung di majalah
Anita Cemerlang sepanjang 1991 - 1992


Sumber :
http://keluargapengarang.wordpress.com/2008/04/17/gola-gong-the-journey/


--- In [email protected], ningsih ari defriati
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ikutan ngebahas beda tourist sama backpacker ?secara umum arti
> tourist itu seorang yg melakukan perjalanan atau berpindah dari satu
> tempet ke tempat lain tanpa ada maksud menetap, bisnis or mencari
> pekerjaan. sedang backpacker itu sendiri dr yg saya tau, tourist yg
> melakukan perjalanan dengan cara backpack atau menggendong ransel
> sendiri jd intinya backpacker itu ya tourist juga.secara umum tourist
> sama backpacker ya dia2 juga.
> 
> 
> 
> --- On Thu, 6/19/08, Aris <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: Aris <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [indobackpacker] apa beda backpacker sama tourist?
> To: [email protected]
> Date: Thursday, June 19, 2008, 9:45 PM
> 
>             Dear all
> 
> Pernah membayangkan beda backpacker sama tourist?  Saya agak mudeng soal
> 
> ini, walaupun
> 
> Dari beberapa rekan backpacker baik lokal maupun asing yang saya kenal
> 
> Rata2x backpacker menyukai alam bebas, seperti Hiking, trekking, dan
jelajah
> 
> kota dan budaya
> 
> Menjadi bagian dari destinasi itu.
>


Kirim email ke