beda antara what-so-called-backpacker dan tourist adalah beda cara pencarian spiritualitas,
backpacker mencari nya dari perjalanan dan obyek tujuan. seringkali hal tersebut (spiritualisme) didapat dari hal2 yang mengejutkannya dan sama sekali baru, entah di perjalanannya atau di tempat tujuannya. hal2 yang misteri dan mengandalkan kemampuan diri sendiri untuk mengatasinya, tentu saja di beberapa orang (ga semua orang lho ya...tebakan saya) bikin pengalaman rohaninya semakin kaya. turis mencari spiritualitas/kepuasan rohani seringkali dari objek tujuannya. hal2 yang terkandung dalam objeknya. sehingga hal2 yang di luar dugaan yang tidak dicarinya harus dipersiapkan dengan matang. termasuk beli paket perjalanan wisata itu bikin dia aman dari gangguan mencari pemuasan rohani di tempat wisatanya. cuma sekedar 2 cent saya.. pak joko, sampai kapan di antah-berantah-xian? tekker semoga anak cepat sembuh. salam dari kantor sudirman jakarta :( Regards, Bondan Sentanu ----- Original Message ---- From: joko santoso <[EMAIL PROTECTED]> To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> Cc: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Friday, June 20, 2008 1:45:55 PM Subject: RE: [indobackpacker] apa beda backpacker sama tourist? Bisa jadi ini bukan bagian dari diskusi tapi sekadar berbagi pengalaman. Jika melakukan perjalanan sendiri ada banyak hal tak terduga yang belum tentu dialami oleh yang ikut paket tour. 3 tahun lalu di Gwalior, India, saya harus menghabiskan 1,5 jam di sebuah bank hanya untuk menukar USD100. Sekarang saya lagi ada di rumah sakit di Xian karena anak terkena diare. Penyebabnya sepele, hanya 2 suap mie yang semalam kami makan di warung. Saya dan istri harus ke rumah sakit padahal sepatah kata Mandarin pun kami tak tahu. Benar bahwa ke mana-mana kami bawa phrase book, tapi bukankah tetap merepotkan? Dengan ke sana kemari bertanya akhirnya semua proses terlewati. Pertama-tama kami harus mendaftar dan mendapat buku pasien lalu menuju dokter. Karena orang asing justru kami didahulukan. Oleh dokter, anak diminta tes darah. Hasil tes ini lalu dibawa kembali ke dokter. Sempat ada miskomunikasi karena kata medis dalam phrasebook sangat terbatas. Kami mengira harus dilakukan transfusi sehingga memilih menjawab 'mingtian' (besok). Dalam kondisi tak menentu ini datang bantuan dari seorang perawat yang pernah bekerja di Singapura. Berkat bantuannya semua jadi (lagi-lagi) mendapat prioritas tanpa antri (untuk ini saya perlu minta maaf pada pasien lain). Mulai dari periksa sampel darah lagi hingga di apotik. Istri sempat menjelaskan bahwa di Indonesia antibiotik dengan gampang diberikan pada pasien tapi mereka tetap menolak memberikannya dalam bentuk obat. Dari apotik kami mendapat cairan yang harus dimasukkan ke tubuh melewati semacam infus. Ada 2 botol, 1 cairannya putih, 1 cairannya kuning. Kini yang terpasang di tubuh anak saya adalah botol kedua. Syukur ia baru saja habis 2,5 potong roti. Tadi saya masuk RSU sekitar jam 9 pagi dan sekarang jam 2 siang lewat. Kalau nanti saya ditanya 'di Xian ke mana saja?', saya akan menjawab 'backpacking to public hopital'. Bukankah orang yang ke Epidavros, Yunani, sama juga berkunjung ke rumah sakit purba yang dirintis bapak kedokteran Hipokrates? Salam dari (RS) Xian Jum'at, 20-Liujue-2008 Aris wrote: > Dear all > Pernah membayangkan beda backpacker sama tourist? Saya agak mudeng soal > ini, walaupun > Dari beberapa rekan backpacker baik lokal maupun asing yang saya kenal > Rata2x backpacker menyukai alam bebas, seperti Hiking, trekking, dan jelajah > kota dan budaya > Menjadi bagian dari destinasi itu. > Yang bikin bingung! Setiap kali saya ke bromo, dengan tamu saya, selalu > bilang" aris many traveler coming here" >
