Bisa jadi ini bukan bagian dari diskusi tapi sekadar berbagi pengalaman. Jika melakukan perjalanan sendiri ada banyak hal tak terduga yang belum tentu dialami oleh yang ikut paket tour. 3 tahun lalu di Gwalior, India, saya harus menghabiskan 1,5 jam di sebuah bank hanya untuk menukar USD100. Sekarang saya lagi ada di rumah sakit di Xian karena anak terkena diare. Penyebabnya sepele, hanya 2 suap mie yang semalam kami makan di warung.
Saya dan istri harus ke rumah sakit padahal sepatah kata Mandarin pun kami tak tahu. Benar bahwa ke mana-mana kami bawa phrase book, tapi bukankah tetap merepotkan? Dengan ke sana kemari bertanya akhirnya semua proses terlewati. Pertama-tama kami harus mendaftar dan mendapat buku pasien lalu menuju dokter. Karena orang asing justru kami didahulukan. Oleh dokter, anak diminta tes darah. Hasil tes ini lalu dibawa kembali ke dokter. Sempat ada miskomunikasi karena kata medis dalam phrasebook sangat terbatas. Kami mengira harus dilakukan transfusi sehingga memilih menjawab 'mingtian' (besok). Dalam kondisi tak menentu ini datang bantuan dari seorang perawat yang pernah bekerja di Singapura. Berkat bantuannya semua jadi (lagi-lagi) mendapat prioritas tanpa antri (untuk ini saya perlu minta maaf pada pasien lain). Mulai dari periksa sampel darah lagi hingga di apotik. Istri sempat menjelaskan bahwa di Indonesia antibiotik dengan gampang diberikan pada pasien tapi mereka tetap menolak memberikannya dalam bentuk obat. Dari apotik kami mendapat cairan yang harus dimasukkan ke tubuh melewati semacam infus. Ada 2 botol, 1 cairannya putih, 1 cairannya kuning. Kini yang terpasang di tubuh anak saya adalah botol kedua. Syukur ia baru saja habis 2,5 potong roti. Tadi saya masuk RSU sekitar jam 9 pagi dan sekarang jam 2 siang lewat. Kalau nanti saya ditanya 'di Xian ke mana saja?', saya akan menjawab 'backpacking to public hopital'. Bukankah orang yang ke Epidavros, Yunani, sama juga berkunjung ke rumah sakit purba yang dirintis bapak kedokteran Hipokrates? Salam dari (RS) Xian Jum'at, 20-Liujue-2008 Aris wrote: > Dear all > Pernah membayangkan beda backpacker sama tourist? Saya agak mudeng soal > ini, walaupun > Dari beberapa rekan backpacker baik lokal maupun asing yang saya kenal > Rata2x backpacker menyukai alam bebas, seperti Hiking, trekking, dan jelajah > kota dan budaya > Menjadi bagian dari destinasi itu. > Yang bikin bingung! Setiap kali saya ke bromo, dengan tamu saya, selalu > bilang" aris many traveler coming here" > Yes.. walaupun, banyak dari mereka mengaku backpacker, karena semua mereka > lakukan sendiri, naik bus, > Angkot ke cemoro lawang. > Tentu Bawa Ransel besar nya alias Backpack! > Lho kok... > Tourist, umumnya menyukai destinasi yang sudah popular di telinga, di > masyarakat umum, tapi > Katanya kalau backpacker beneran, mereka menyukai tempat exotis, tidak > popular dan paling penting "no crowded" > Belakangan saya mulai bingung, kenapa teman2x yang pernah saya antar, next > destinasionnya kalau di bali selalu maunya Ubud, alasanya banyak backpacker > menulis, kuta is not for backpacker.. . Hallah... > Salam > ARIS > My New Mobile +62811-1875236 CDMA +021 99135840 > http://odesya. multiply. com > http://community. webshots. com/user/ kunlun_it > "The true mountaineer- climber or hill walker walks softly through the > wilderness striving to leave not the slightest trace in his passage." > "Mountaineering - Freedom of the Hills" > Send instant messages to your online friends http://asia. messenger. > yahoo.com > Find great new restaurants - Yahoo! Singapore Search. http://sg.search.yahoo.com/search?p=restaurant+reviews&cs=bz&fr=fp-top
