Jadi Pengen Nulis juga,
Mapala, atau pecinta alam entah kapan istilah ini lahir, dalam image orang2
adalah seseorang yang suka naik gunung dengan tas 2 gede atau brand outdoor
seperti eiger, alpina adalah orang2 gunung. alias pecinta alam.
saya mengenal tracking dari ayah, sejak kecil aku sering diajak ayah tracking
perbukitan di sekitar rumah, juga ketika mencari kayu bakar dengan temen2,
kemudian pas SMU saat orientasi yang berya militer aku di perkenal kan dengan
TUSPAGA (Agustus Pecinta Alam SMU3) tak banyak materi yang aku dapat hanya
selain tidak boleh melangkahi carmentel karena kalau pasir masuk kedalam pori2
carmentel akan sangat berbahaya , karena pasir atau batu2 itu akan memutus tali
dari dalam, dan ini sangat berbahaya,
kemudian ada seorang senior di wanadri yang menceritakan tentang pengalaman
hampir mati di gunung, serta senior dari pecinta alam lain yang berebut daging
dengan harimau, karena lapar dia menunggu sang harimau menmakan korbannya dan
setelah itu dialah yang gantian mengambil sbongkah daging dari buruan sang
harimau.
saat bergabung dengan Pramuka, sering ada acara hiking tapi lagi2 di kerjain
senior gibri(gila bari) atau abcd ( abri bukan cepak nya doang) dulu sampai
laksana atau bantara lupa oey, trus apalagi ya raimuna, dan saka bhayangkara.
kemudian saat secara acak mewakili jumbara (jumpa bakti gembira palang merah
remaja) yang oleh para pelatih dari PMI saya di tawari bergabung dengan KSR dan
saat itulah mengenal P3B(pertolongan pertama pada korban becana) atau saat ini
lebih di kenal dengan SATGANA ( satuan tugas penanggulangan bencana ) mulai
dari Gurila (gunung rimba laut) dari para senior jebolan basarnas saya mengenal
IMPK ( Ilmu Medan Peta Kompas) dan "jungle survival", terori dan praktek selama
seminggu di hutan dan gunung membuat kami sadar akan beberapa hal dimana
manusia lapar bisa bertidak sangat "tidak wajar dimana dia bisa menjadi makhluk
sangat menyebalkan, membosankan, egois, kadang sedikit anarkis", dengan
filosofi "yang terlemah di depan", sedikit mengurangi beban dalam team. juga
doktrin "jangan jadikan dirimu korban" membuat semua team peduli dengan
dirinya, sebagai team relawan, bagaimana dia akan menolong orang lain bila tak
mampu menolong dirinya sendiri, teknik berjalan, membaca peta, menggunakan
kompas, mengepak barang, evakuasi, bertahan di air, climbing/ rapling dan
banyak hal yang aku malah dapat bukan dari pecinta alam tapi dari "korp
sukarelawan" palang merah indonesia yang pernah mendapat pelatihan basarnas.
juga dari team dokter waktu itu dari Universitas Diponegoro,
kisah teman pendaki yang tersesat dan hilang yang dapat di ketemukan oleh team
SAR dalam waktu singkat, apakah semua team sar berasal dari PECINTA ALAM. atau
MAPALA jawabanya "tidak",
kegiatan outdoor memang membutuhkan mental dan adrenalin tapi hal yang
terpenting adalah kesiapan diri kita sendiri, dan untuk itu harus di bekali
dengan materi dan pelatihan yang bukan hanya di peroleh dari "learning by
doing" ketika naik gunung, atau ikutan naik gunung, ingat sebuah musibah bisa
karena factor alam dan human error yang diakibatkan karena arogan dan sembrono,
tidur adalah hal kecil namum ini kadang sering terlupakan oleh pendaki, karea
keexotican alam dia terus memacu diri untuk terus mendaki sehingga dia
kelelahan yang amat sangat atau tersesat, atau malah terpisah dari team.
berusaha untuk menghargai alam dengan tidak memetik aldewise, atau mengambil
angrrek, menebang pohon dan membuang sampah bekas makan atau masak dengan
sembarangan, adalah satu hal yang juga harus di perhatikan para pendaki, atau
yang menyebut dirinya pencinta alam, kalau saya menyebut diri sebagai penikmat
alam, karena saya tak bisa membuat alam maka saya adalah penikmat dari apa yang
sudah di berikan oleh penciptanya, the creator of universe.
sebagai penikmat alam jujur saya kadang membakar sampah plastik sampai habis
sebelum meninggalkan lokasi camp, tidak menebang pohon untuk keperluan yang
tidak penting, tidak mencoret2 pohon atau memberi warna jalan dengan cat atau
memetik aldewise dan angrrek serta mematuhi segala hal yang telah di infokan
walau kadang itu tak masuk akal atau terkesan tahayul tapi di percaya oleh
masyarakat sekitar dan juga membaur dengan warga, dan berusaha untuk sopan, dan
saling menghargai dan itu kode etik saya, sebagai Penikmat Alam.
siamo...siamo tuti frateli
(Semua..semua kita adalah soudara)
Regards
Kang Giman
----- Original Message -----
From: kika aninditya
To: [email protected]
Sent: Thursday, February 05, 2009 10:07 PM
Subject: RE: [indobackpacker] Pendaki Gunung Hilang (to Mas Putu)
Ikutan nimbrung mas mas.....
Wah mas Putu saya jadi gak enak ni...kok jadi terpetak petakkan antara non
MAPALA dan MAPALA ya...se akan - akan yang BUKAN ANGGOTA MAPALA ni yang
mempunyai andil kesalahan dalam ketidak nyamanan para pendaki MAPALA (seperti
beban gitu...hehehe).
Piss,
KIKA
--- On Wed, 2/4/09, I Putu Guna Aditya Y <[email protected]>
wrote:
> From: I Putu Guna Aditya Y <[email protected]>
> >
> sebagian besar pendapat saya udah dikemukakan sama bro aris
> ....cuma saya ingin sekedar meluruskan......
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]