SELAMAT PAGI SEMUANYAAA..........

hohohohohohoh sepertinya ada salah paham neh dalam tulisan saya......

mohon maaf sebelumnya bila tulisan saya dianggap memprovokasi, 
menjelek-jelekkan atau apalah yang mungkin bisa memecah belah persatuan dan 
kesatuan bangsa (halah...)....

begini sodara-sodaraku.....

@jeung KIKA....(salam kenal dulu ah)
maksud tulisan saya bukanlah menjelek-jelekkan siapapun.....mengkotak-kotakkan 
siapapun.......saya hanyalah mencoba menjelaskan kronologis yang saya ketahui 
berdasarkan informasi yang saya dapat dari rekan-rekan saya 
diorganisasi......jadi kejadian kemarin bukanlah arogansi dari 
rekan-rekan.......hanyalah sebuah musibah.......siapapun yang berusaha 
bersahabat dengan alam serta mencoba menyelami keindahan didalammnya amatlah 
sangat kami (yang tergabung dalam organisasi) hargai, walaupun sodara-sodara 
gak tergabung dalam organisasi........hanya minta tolong bedakan antara kata 
musibah dengan kata nekat dan tidak bertanggungjawab itu saja......kebetulan 
pelaku yang menghebohkan itu adalah bukan anggota MAPALA dan telah berlaku 
nekat dan tidak bertanggung jawab....begitchu.....hehehehehe

@Kang Giman (salam kenal dulu ah)
sepertinya pengalaman kang Giman jauh melampaui pengalaman saya, dan mungkin 
suatu saat saya bisa belajar banyak dengan kang Giman, hanya saya mau mencoba 
mengklarifikasi nih kang :

saya tidak pernah mengatakan semua team sar berasal dari PECINTA ALAM. atau 
MAPALA namun setiap organisasi pencinta alam pasti mendapatkan MATERI 
SAR....jadi kebanyakan para penggiat alam bebas yang pernah mengikuti 
pendidikan kegiatan alam bebas telah memiliki pola berpikir mengenai resiko 
serta perilaku ketika bergiat di alam bebas........maksud tulisan saya sekali 
lagi BUKANLAH MENINGGIKAN STATUS SESEORANG YANG IKUT ORGANISASI PENCINTA ALAM 
ATAU MAPALA hanya mencoba memberikan gambaran kejadian kemarin karena image 
MAPALA dan organisasi Pencinta Alam sedikit rusak dimata para orang tua, istri 
atau kerabat dekat orang yang ikut MAPALA dan organisasi Pencinta Alam.. contoh 
:
teman saya ditegur oleh ibunya dan bercerita kepada saya :

ibu si X : "X kamu ikut MAPALA kan?itu liat diberita katanya ada yang ilang?, 
kok bisa ? jadi apa yang dipelajari di MAPALA?percuma juga kmu ikut MAPALA, 
nanti kmu ikut2an ilang lagi"

nah loh....klo udah begini siapa yang repot coba?

jadi pada intinya kegiatan apapun, dimanapun, kapanpun, selama mengikuti 
prosodur yang sudah ditetapkan, serta peraturan yang telah diberlakukan, insya 
Allah AMAN-AMAN AJA KOQ...

selain itu kebetulan saya juga tidak pernah mengatakan bahwa saya adalah 
pencinta alam .....tapi selama ini saya klo ditanya orang : "eh lo anak 
pencinta alam yah?" saya selalau jawab : "bukan, saya penggemar alam" karena 
organisasi yang aya ikuti juga bukan pencinta alam namanya tapi gemar 
alam....hehehehehehe

begitu sodara-sodara sekilas balasan dari sayah...

hohohoho jadi semakin seru nih diskusinya.......hayuk atuh lanjuuuut......

Adios,
SALAM RIMBA & LESTARI
I PUTU GUNA ADITYA YUDHA
GAMASPI WANANTARA LPT YAI
(Gemar Alam Mahasiswa AA, STIE, UPI YAI)

--- Pada Jum, 6/2/09, K ' G <[email protected]> menulis:
Dari: K ' G <[email protected]>
Topik: Re: [indobackpacker] Pendaki Gunung Hilang (to Mas Putu)
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 6 Februari, 2009, 8:38 AM












            Jadi Pengen Nulis juga,



Mapala, atau pecinta alam entah kapan istilah ini lahir, dalam image orang2 
adalah seseorang yang suka naik gunung dengan tas 2 gede atau brand outdoor 
seperti eiger, alpina adalah orang2 gunung. alias pecinta alam.



saya mengenal tracking dari ayah, sejak kecil aku sering diajak ayah tracking 
perbukitan di sekitar rumah, juga ketika mencari kayu bakar dengan temen2, 
kemudian pas SMU saat orientasi yang berya militer aku di perkenal kan dengan 
TUSPAGA (Agustus Pecinta Alam SMU3) tak banyak materi yang aku dapat hanya 
selain tidak boleh melangkahi carmentel karena kalau pasir masuk kedalam pori2 
carmentel akan sangat berbahaya , karena pasir atau batu2 itu akan memutus tali 
dari dalam, dan ini sangat berbahaya,



kemudian ada seorang senior di wanadri yang menceritakan tentang pengalaman 
hampir mati di gunung, serta senior dari pecinta alam lain yang berebut daging 
dengan harimau, karena lapar dia menunggu sang harimau menmakan korbannya dan 
setelah itu dialah yang gantian mengambil sbongkah daging dari buruan sang 
harimau.



saat bergabung dengan Pramuka, sering ada acara hiking tapi lagi2 di kerjain 
senior gibri(gila bari) atau abcd ( abri bukan cepak nya doang) dulu sampai 
laksana atau bantara lupa oey, trus apalagi ya raimuna, dan saka bhayangkara.



kemudian saat secara acak mewakili jumbara (jumpa bakti gembira palang merah 
remaja) yang oleh para pelatih dari PMI saya di tawari bergabung dengan KSR dan 
saat itulah mengenal P3B(pertolongan pertama pada korban becana) atau saat ini 
lebih di kenal dengan SATGANA ( satuan tugas penanggulangan bencana ) mulai 
dari Gurila (gunung rimba laut) dari para senior jebolan basarnas saya mengenal 
IMPK ( Ilmu Medan Peta Kompas) dan "jungle survival", terori dan praktek selama 
seminggu di hutan dan gunung membuat kami sadar akan beberapa hal dimana 
manusia lapar bisa bertidak sangat "tidak wajar dimana dia bisa menjadi makhluk 
sangat menyebalkan, membosankan, egois, kadang sedikit anarkis", dengan 
filosofi "yang terlemah di depan", sedikit mengurangi beban dalam team. juga 
doktrin "jangan jadikan dirimu korban" membuat semua team peduli dengan 
dirinya, sebagai team relawan, bagaimana dia akan menolong orang lain bila tak 
mampu menolong dirinya sendiri, teknik
 berjalan, membaca peta, menggunakan kompas, mengepak barang, evakuasi, 
bertahan di air, climbing/ rapling dan banyak hal yang aku malah dapat bukan 
dari pecinta alam tapi dari "korp sukarelawan" palang merah indonesia yang 
pernah mendapat pelatihan basarnas. juga dari team dokter waktu itu dari 
Universitas Diponegoro,



kisah teman pendaki yang tersesat dan hilang yang dapat di ketemukan oleh team 
SAR dalam waktu singkat, apakah semua team sar berasal dari PECINTA ALAM. atau 
MAPALA jawabanya "tidak",



kegiatan outdoor memang membutuhkan mental dan adrenalin tapi hal yang 
terpenting adalah kesiapan diri kita sendiri, dan untuk itu harus di bekali 
dengan materi dan pelatihan yang bukan hanya di peroleh dari "learning by 
doing" ketika naik gunung, atau ikutan naik gunung, ingat sebuah musibah bisa 
karena factor alam dan human error yang diakibatkan karena arogan dan sembrono, 
tidur adalah hal kecil namum ini kadang sering terlupakan oleh pendaki, karea 
keexotican alam dia terus memacu diri untuk terus mendaki sehingga dia 
kelelahan yang amat sangat atau tersesat, atau malah terpisah dari team.



berusaha untuk menghargai alam dengan tidak memetik aldewise, atau mengambil 
angrrek, menebang pohon dan membuang sampah bekas makan atau masak dengan 
sembarangan, adalah satu hal yang juga harus di perhatikan para pendaki, atau 
yang menyebut dirinya pencinta alam, kalau saya menyebut diri sebagai penikmat 
alam, karena saya tak bisa membuat alam maka saya adalah penikmat dari apa yang 
sudah di berikan oleh penciptanya, the creator of universe.

Kirim email ke