Konco sedoyos,

Dari acara kick andy, nyang gue lihat menarik untuk dicatet adalah 
pernyataan mas Paimo: Bersepeda di Amerika Selatan: 8 tahun, 
Bersepeda di Cina/Gobi: 5 tahun...PERSIAPAN coy!!!

Jadi bukan jawaban; "Liat ntar aja, kalo makanan habis minta pendaki 
laen, kalo duit habis minta sama orang KBRI"

Kenapa bukan Mas Paimo aja yang jadi seven summiter Indonesia ya??

Kayaknya cerita-cerita heroik di kegiatan alam bebas layaknya 
mengambil sudut pandang manajemen resiko alih-alih cerita para 
fatalis yang cari mati.

Manajemen resiko mengidentifikasi resiko, kemungkinan terjadi, 
besaran konsekuensinya, dan apakah bersedia mengambil konsekuensinya.

Kalo ada orang yang bangga naik gunung tanpa persiapan yang memadai, 
pencapaiannya hanya layak disejajarkan dengan "berjalan kaki 
menyeberang jalan tol sambil memejamkan mata". 
(kalo jalan tolnya daerah UKI jam 7-9 pagi mungkin selamet2 
aja...karena macet bo!)

Terserah aja sih kalo naik gunung dengan konsekuensi siap mati, asal 
tidak menghabur2kan uang pembayar pajak dan waktu orang lain buat nge-
SAR.

Reinhold Messner memang naik Everest tanpa tabung oksigen, tapi 
rasanya beliau gak akan kirim sms "napas mulai berat, tolong kirim 
tabung oksigen. ini serius", ato orang tuanya muncul di tipi nangis2 
minta anaknya ditolong...

Tuhan beserta orang-orang yang berani... 

tapi berani dan bodoh sering tipis bedanya, and i did several stupid 
things...

hehehe...

tabik,
Puguh



--- In [email protected], "Yudhi" <yu...@...> wrote:

> Menyaksikan ini, saya jadi ingin meniru mengikuti jejak mereka - 
para
> pemberani ini. Mungkin moda-nya yang agak berbeda dengan "para 
pemberani"
> ini adalah: saya akan backpacking, menggelandang dengan 
transportasi apa
> saja sekenanya dengan waktu yang tidak terbatas, bisa setahun atau 
dua tahun
> pada "etape pertama", kemudian bisa dilanjutkan dengan etape2 
berikutnya.
> Mengikuti bung Jeje yang menamai naik motor keliling dunia-nya 
dengan jargon
> "Ride for Peace", saya namakan sementara "Indonesian Backpacker for 
Peace".
> Ya, pakai embel2 for peace segala, karena saya yang sehari-hari 
mengajar
> yoga, mungkin saya bisa juga mengajarkan yoga di daerah2 yang akan
> dikunjungi. Daerah yang akan dikunjungi tentunya bukan daerah 
turistik
> seperti di Eropa atau Amerika Serikat. Mungkin supaya 
ada "berartinya"
> perjalanan hidup saa ini (halah..),  saya ingin juga sedikit 
berperan dalam
> bahasa kerennya "conflict resolution". Karenanya saya mau ke 
daerah2 yang
> sedang atau berpotensi berperang. Mungkin dengan mengajar yoga, dan 
sedikit
> pengalaman aktif di LSM pengembangan masyarakat, pikiran, 
pengetahuan, dan
> tenaga saya bisa ada manfaatnya bagi dunia yang lebih damai.
(halah.).  Ini
> serius. Destinasi yang saya prioritaskan adalah Asia, Afrika, dan 
Amerika
> Latin. Saya bayangkan lucu juga, ngajarin orang2 desa beryoga di 
daerah yang
> bahasanya saya nggak bisa, tinggal bersama2 mereka membangun desa. 
Asyik
> juga kalau warga kedua kampung, atau etnik yang sedang bertikai 
berlatih
> beryoga sama-sama..dengan diinstruksiin oleh orang yang bukan dari 
India,
> tapi dari orang kampung di Jakarta ini..
> 
> Mungkin temen2 IBP ada yang bisa bantu.
> 
>  
> 
> Tabik,
> 
> yudhi
> 
> Pengecer Jasa Yoga
> 
> Penikmat Perjalanan
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke