Mas Puguh, bener kata mas puguh jangan sampai kita di kelompokkan dalam pahlawan kesiangan,.. kemanan diri sendiri itu penting, karena banyak hal yang bisa kita lakukan ketika kita masih hidup,
karena hanya petilsan/ nisan aja peninggalan atau yang terlihat dari yang sudah mati, pengen di kenal bagaimana sih ketika kita mati, meninggal karena suatu hal hanya menyisakan penyesalan dan rasa iba tunggu.. kok jadi dalam sih pembahasannya ... maafkan, kalau di hitung naik gunung, sepertinya baru 2 kali itupun ke Gunung Lawu, pendakian pertama berbekal pelatihan semi survival dari PMR, berhasil,... pendakian kedua bener2 nekad, karena di hubungi pihak sekolah saat itu kelas 3 awal karena ada adik kelas mengadakan pendakian masal sejumlah 40 orang ke G.lawu, hanya berbekal baju melekat badan saya berangkat dan memang seperti menyiksa diri, gaya koboy seperti di pramuka saat pembaretan, baju lengan panjang, celana lapangan dan sepatu laras serta topi, tanpa jacket dan perbekalan, rombongan pertama sudah melesat dari sore hari, saya menyusul malam jam 8 dari Cemoro sewu, dan sempat nengokin camp di kalisoro, terlihat beberapa team yang perempuan sudah lemah dan tidak bisa melanjutkan perjalanan di pos pertama, dan ketiga, kemudian ada beberapa temen yang merelakan diri menjaga team di pos 1 dan 3 dan segera menyusul team yang sudah merangsang naik jam 3 pagi saya sampai di pos 5 terlihat beberapa fisik temen2 udah sangat payah, akhirnya meminta mereka untuk tidur dulu, yang bawa sleeping beg langsung pakai, yang bawa tenda langsung pasang, dan saya tidur tanpa alas dengan kondisi yang sangat dingin, dan tidak bisa tidur sama sekali,akhirnya malah jadi jaga malam, jam 5 pagi kami bangun dan melanjutkan perjalanan sampai puncak kemudian di susul rombongan lain, dan tampak beberapa dari mereka mengalami alergi dingin, terlihat dari muka yang bengkak.akhirnya saya meminta semua turun karena kabut mulai tebal sesampainya di pos 5 hujan lebat sekali dan jarak pandang semakin pendek, saya meminta semua tetep jalan dengan menggunakan jas hujan dan ada beberapa yang bertedeuh dipos, yang penuh oleh pendaki lain, dan kemudian saya hilang contact karena team terpecah ada yang lewat cemoro sewu dan ada yang lewat cemoro kandang, dan ada yang ikut ranger ... akhirnya memutuskan go show saya ikut rombongan yang paling banyak. dan pas tiba di pintu keberangkatan ternyata ada beberapa team yang tersesat dan itu adalah team yang di komandoi ranger. dan dikejutkan oleh seorang anggota yang hipertemia dan tiga orang yang kesurupan, beberapa lagi harus membawa tas teman nya karena sudah tak mampu membawa tas nya sendiri, ini hanya contoh kecil dari sebuah kegiatan yang tidak di barengi persiapan dan pelatihan yang cukup, kalau di gunung salak kemarin hanya 6 orang kegiatan adik kelas saya di ikuti 40 orang. dan mayoritas hanya di bekali peralatan pramuka, seperti bayonet/ sangkur, yang buat motong rumput saja tidak bisa, logistic melimpah tapi itu di camp di kalisoro, tidak saat naik ke G. LAWU, lantaran instruksi dari team leader untuk membawa perlengkapan seperlunya, saya tidak menganggap saya paling jago karena sepak terjang / jam terbang saya sangat sedikit sekali, tapi yang pasti sesuatu tanpa persiapan hanya akan berakibat pada kekonyolan / mati konyol seperti pengalaman cybercamp 2005 lalu ada teman yang menggampangkan karena agenda hanya 2 hari 1 malam berbekal drypack tanpa jacket dan logistics akhirnya matras pun saya harus berbagi termasuk sleeping beg juga lostics, bener2 konyol regards, Kang Giman ----- Original Message ----- From: puguh_imanto To: [email protected] Sent: Saturday, February 07, 2009 10:06 AM Subject: [indobackpacker] Re: IBP for Peace Konco sedoyos, Dari acara kick andy, nyang gue lihat menarik untuk dicatet adalah pernyataan mas Paimo: Bersepeda di Amerika Selatan: 8 tahun, Bersepeda di Cina/Gobi: 5 tahun...PERSIAPAN coy!!! Jadi bukan jawaban; "Liat ntar aja, kalo makanan habis minta pendaki laen, kalo duit habis minta sama orang KBRI" Kenapa bukan Mas Paimo aja yang jadi seven summiter Indonesia ya?? Kayaknya cerita-cerita heroik di kegiatan alam bebas layaknya mengambil sudut pandang manajemen resiko alih-alih cerita para fatalis yang cari mati. Manajemen resiko mengidentifikasi resiko, kemungkinan terjadi, besaran konsekuensinya, dan apakah bersedia mengambil konsekuensinya. Kalo ada orang yang bangga naik gunung tanpa persiapan yang memadai, pencapaiannya hanya layak disejajarkan dengan "berjalan kaki menyeberang jalan tol sambil memejamkan mata". (kalo jalan tolnya daerah UKI jam 7-9 pagi mungkin selamet2 aja...karena macet bo!) Terserah aja sih kalo naik gunung dengan konsekuensi siap mati, asal tidak menghabur2kan uang pembayar pajak dan waktu orang lain buat nge- SAR. Reinhold Messner memang naik Everest tanpa tabung oksigen, tapi rasanya beliau gak akan kirim sms "napas mulai berat, tolong kirim tabung oksigen. ini serius", ato orang tuanya muncul di tipi nangis2 minta anaknya ditolong... Tuhan beserta orang-orang yang berani... tapi berani dan bodoh sering tipis bedanya, and i did several stupid things... hehehe... tabik, Puguh --- In [email protected], "Yudhi" <yu...@...> wrote: > Menyaksikan ini, saya jadi ingin meniru mengikuti jejak mereka - para > pemberani ini. Mungkin moda-nya yang agak berbeda dengan "para pemberani" > ini adalah: saya akan backpacking, menggelandang dengan transportasi apa > saja sekenanya dengan waktu yang tidak terbatas, bisa setahun atau dua tahun > pada "etape pertama", kemudian bisa dilanjutkan dengan etape2 berikutnya. > Mengikuti bung Jeje yang menamai naik motor keliling dunia-nya dengan jargon > "Ride for Peace", saya namakan sementara "Indonesian Backpacker for Peace". > Ya, pakai embel2 for peace segala, karena saya yang sehari-hari mengajar > yoga, mungkin saya bisa juga mengajarkan yoga di daerah2 yang akan > dikunjungi. Daerah yang akan dikunjungi tentunya bukan daerah turistik > seperti di Eropa atau Amerika Serikat. Mungkin supaya ada "berartinya" > perjalanan hidup saa ini (halah..), saya ingin juga sedikit berperan dalam > bahasa kerennya "conflict resolution". Karenanya saya mau ke daerah2 yang > sedang atau berpotensi berperang. Mungkin dengan mengajar yoga, dan sedikit > pengalaman aktif di LSM pengembangan masyarakat, pikiran, pengetahuan, dan > tenaga saya bisa ada manfaatnya bagi dunia yang lebih damai. (halah.). Ini > serius. Destinasi yang saya prioritaskan adalah Asia, Afrika, dan Amerika > Latin. Saya bayangkan lucu juga, ngajarin orang2 desa beryoga di daerah yang > bahasanya saya nggak bisa, tinggal bersama2 mereka membangun desa. Asyik > juga kalau warga kedua kampung, atau etnik yang sedang bertikai berlatih > beryoga sama-sama..dengan diinstruksiin oleh orang yang bukan dari India, > tapi dari orang kampung di Jakarta ini.. > > Mungkin temen2 IBP ada yang bisa bantu. > > > > Tabik, > > yudhi > > Pengecer Jasa Yoga > > Penikmat Perjalanan > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed]
