Anda bener sekali kang giman, juga puguh...
Waktu nonton acara itu, pertanyaan2 yang muncul di pikiran saya, bagaimana
persiapan atau proses sampai perjalanan itu terlaksana. Itu yang menjadi
concern saya sehubungan dengan niat saya itu, tempat dan daerah2 jelajah
yang mereka jalani impresinya tentu sangat personal. Ada satu tempat yang
menurut orang sangat menarik, tapi bagi orang lain mungkin tidak...
Ketika Mas Paimo bilang bahwa persiapan itu sekian tahun untuk ke sini,
sekian tahun untuk sampai jadi ke sana...itu bener2 menyadarkan saya, bahwa
untuk bisa seperti itu tidak hanya punya uang dari sponsor, juga bagaimana
bung Jeje berlatih kebugaran, dll... Kalau saya katakan menggelandang, bukan
seperti orang homeless, atau tramp, yang sekenanya jalan tanpa arah tujuan
yang pasti, itu lebih kepada cara menikmati perjalanan itu. Dan kalau saya
embel2i dengan "for Peace" dianggap sebagai "pahlawan kesiangan", monggo
mawon, silakan aja, sebelum anggep-menganggep difatwaharamkan....hehehe...
Anyway, masukan dan saran dari teman2 ini yang saya perlukan sebagai
pengingat, yang kadang saya suka jalan tanpa persiapan yang proper...
Dan juga, saran bagaimana mendapatkan sponsor.... Ini realistis.

Tabik,
yudhi 


-----Original Message-----
From: K ' G [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, February 07, 2009 12:36 PM
To: [email protected]; puguh_imanto
Subject: Re: [indobackpacker] Re: IBP for Peace

Mas Puguh, 

bener kata mas puguh jangan sampai kita di kelompokkan dalam pahlawan
kesiangan,.. 
kemanan diri sendiri itu penting, karena banyak hal yang bisa kita lakukan
ketika kita masih hidup, 

karena hanya petilsan/ nisan aja peninggalan atau yang terlihat dari yang
sudah mati, 
pengen di kenal bagaimana sih ketika kita mati, meninggal karena suatu hal
hanya menyisakan penyesalan dan rasa iba
tunggu.. kok jadi dalam sih pembahasannya ... maafkan, 

kalau di hitung naik gunung, sepertinya baru 2 kali itupun ke Gunung Lawu,
pendakian pertama berbekal pelatihan semi survival dari PMR, berhasil,...
pendakian kedua bener2 nekad, karena di hubungi pihak sekolah saat itu kelas
3 awal karena ada adik kelas mengadakan pendakian masal sejumlah 40 orang ke
G.lawu, hanya berbekal baju melekat badan saya berangkat dan memang seperti
menyiksa diri, gaya koboy seperti di pramuka saat pembaretan, baju lengan
panjang, celana lapangan dan sepatu laras serta topi, tanpa jacket dan
perbekalan, rombongan pertama sudah melesat dari sore hari, saya menyusul
malam jam 8 dari Cemoro sewu, dan sempat nengokin camp di kalisoro, terlihat
beberapa team yang perempuan sudah lemah dan tidak bisa melanjutkan
perjalanan di pos pertama, dan ketiga, kemudian ada beberapa temen yang
merelakan diri menjaga team di pos 1 dan 3 dan segera menyusul team yang
sudah merangsang naik jam 3 pagi saya sampai di pos 5 terlihat beberapa
fisik temen2 udah sangat payah, akhirnya meminta mereka untuk tidur dulu,
yang bawa sleeping beg langsung pakai, yang bawa tenda langsung pasang, dan
saya tidur tanpa alas dengan kondisi yang sangat dingin, dan tidak bisa
tidur sama sekali,akhirnya malah jadi jaga malam, jam 5 pagi kami bangun dan
melanjutkan perjalanan sampai puncak kemudian di susul rombongan lain, dan
tampak beberapa dari mereka mengalami alergi dingin, terlihat dari muka yang
bengkak.akhirnya saya meminta semua turun karena kabut mulai tebal
sesampainya di pos 5 hujan lebat sekali dan jarak pandang semakin pendek,
saya meminta semua tetep jalan dengan menggunakan jas hujan dan ada beberapa
yang bertedeuh dipos, yang penuh oleh pendaki lain, dan kemudian saya hilang
contact karena team terpecah ada yang lewat cemoro sewu dan ada yang lewat
cemoro kandang, dan ada yang ikut ranger ... akhirnya memutuskan go show
saya ikut rombongan yang paling banyak. dan pas tiba di pintu keberangkatan
ternyata ada beberapa team yang tersesat dan itu adalah team yang di
komandoi ranger. dan dikejutkan oleh  seorang anggota yang hipertemia dan
tiga orang yang kesurupan, beberapa lagi harus membawa tas teman nya karena
sudah tak mampu membawa tas nya sendiri, 

ini hanya contoh kecil dari sebuah kegiatan yang tidak di barengi persiapan
dan pelatihan yang cukup, kalau di gunung salak kemarin hanya 6 orang
kegiatan adik kelas saya di ikuti 40 orang. dan mayoritas hanya di bekali
peralatan pramuka, seperti bayonet/ sangkur, yang buat motong rumput saja
tidak bisa, logistic melimpah tapi itu di camp di kalisoro, tidak saat naik
ke G. LAWU, lantaran instruksi dari team leader untuk membawa perlengkapan
seperlunya,

saya tidak menganggap saya paling jago karena sepak terjang / jam terbang
saya sangat sedikit sekali, 
tapi yang pasti sesuatu tanpa persiapan hanya akan berakibat pada kekonyolan
/ mati konyol

seperti pengalaman cybercamp 2005 lalu ada teman yang menggampangkan karena
agenda hanya 2 hari 1 malam berbekal drypack
tanpa jacket dan logistics akhirnya matras pun saya harus berbagi termasuk
sleeping beg juga lostics, 
bener2 konyol

regards, 
Kang Giman


  ----- Original Message ----- 
  From: puguh_imanto 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, February 07, 2009 10:06 AM
  Subject: [indobackpacker] Re: IBP for Peace



  Konco sedoyos,

  Dari acara kick andy, nyang gue lihat menarik untuk dicatet adalah 
  pernyataan mas Paimo: Bersepeda di Amerika Selatan: 8 tahun, 
  Bersepeda di Cina/Gobi: 5 tahun...PERSIAPAN coy!!!

  Jadi bukan jawaban; "Liat ntar aja, kalo makanan habis minta pendaki 
  laen, kalo duit habis minta sama orang KBRI"

  Kenapa bukan Mas Paimo aja yang jadi seven summiter Indonesia ya??

  Kayaknya cerita-cerita heroik di kegiatan alam bebas layaknya 
  mengambil sudut pandang manajemen resiko alih-alih cerita para 
  fatalis yang cari mati.

  Manajemen resiko mengidentifikasi resiko, kemungkinan terjadi, 
  besaran konsekuensinya, dan apakah bersedia mengambil konsekuensinya.

  Kalo ada orang yang bangga naik gunung tanpa persiapan yang memadai, 
  pencapaiannya hanya layak disejajarkan dengan "berjalan kaki 
  menyeberang jalan tol sambil memejamkan mata". 
  (kalo jalan tolnya daerah UKI jam 7-9 pagi mungkin selamet2 
  aja...karena macet bo!)

  Terserah aja sih kalo naik gunung dengan konsekuensi siap mati, asal 
  tidak menghabur2kan uang pembayar pajak dan waktu orang lain buat nge-
  SAR.

  Reinhold Messner memang naik Everest tanpa tabung oksigen, tapi 
  rasanya beliau gak akan kirim sms "napas mulai berat, tolong kirim 
  tabung oksigen. ini serius", ato orang tuanya muncul di tipi nangis2 
  minta anaknya ditolong...

  Tuhan beserta orang-orang yang berani... 

  tapi berani dan bodoh sering tipis bedanya, and i did several stupid 
  things...

  hehehe...

  tabik,
  Puguh

  --- In [email protected], "Yudhi" <yu...@...> wrote:

  > Menyaksikan ini, saya jadi ingin meniru mengikuti jejak mereka - 
  para
  > pemberani ini. Mungkin moda-nya yang agak berbeda dengan "para 
  pemberani"
  > ini adalah: saya akan backpacking, menggelandang dengan 
  transportasi apa
  > saja sekenanya dengan waktu yang tidak terbatas, bisa setahun atau 
  dua tahun
  > pada "etape pertama", kemudian bisa dilanjutkan dengan etape2 
  berikutnya.
  > Mengikuti bung Jeje yang menamai naik motor keliling dunia-nya 
  dengan jargon
  > "Ride for Peace", saya namakan sementara "Indonesian Backpacker for 
  Peace".
  > Ya, pakai embel2 for peace segala, karena saya yang sehari-hari 
  mengajar
  > yoga, mungkin saya bisa juga mengajarkan yoga di daerah2 yang akan
  > dikunjungi. Daerah yang akan dikunjungi tentunya bukan daerah 
  turistik
  > seperti di Eropa atau Amerika Serikat. Mungkin supaya 
  ada "berartinya"
  > perjalanan hidup saa ini (halah..), saya ingin juga sedikit 
  berperan dalam
  > bahasa kerennya "conflict resolution". Karenanya saya mau ke 
  daerah2 yang
  > sedang atau berpotensi berperang. Mungkin dengan mengajar yoga, dan 
  sedikit
  > pengalaman aktif di LSM pengembangan masyarakat, pikiran, 
  pengetahuan, dan
  > tenaga saya bisa ada manfaatnya bagi dunia yang lebih damai.
  (halah.). Ini
  > serius. Destinasi yang saya prioritaskan adalah Asia, Afrika, dan 
  Amerika
  > Latin. Saya bayangkan lucu juga, ngajarin orang2 desa beryoga di 
  daerah yang
  > bahasanya saya nggak bisa, tinggal bersama2 mereka membangun desa. 
  Asyik
  > juga kalau warga kedua kampung, atau etnik yang sedang bertikai 
  berlatih
  > beryoga sama-sama..dengan diinstruksiin oleh orang yang bukan dari 
  India,
  > tapi dari orang kampung di Jakarta ini..
  > 
  > Mungkin temen2 IBP ada yang bisa bantu.
  > 
  > 
  > 
  > Tabik,
  > 
  > yudhi
  > 
  > Pengecer Jasa Yoga
  > 
  > Penikmat Perjalanan
  > 
  > 
  > 
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >


  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Indonesian Backpacker Community
visit our website at http://www.indobackpacker.com atau bisa juga di
http://www.backpacker-indonesia.info/


Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari Jumat. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip
bagian yang perlu saja

Milis Indobackpacker tidak bisa menerima ATTACHMENT, untuk menghindari virus
dan menghemat bandwidth.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

- Satu email perhari: [email protected]
- No-email/web only: [email protected]
- menerima email: [email protected]
- berhenti dari milist kirim email kosong :
[email protected]
- Begabung kembali ke milist kirim email kosong :
[email protected]! Groups Links





-- 
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 270.8.1/733 - Release Date: 10/15/2008
12:00 AM


Kirim email ke