infonya berharga banget. anyway, kalo saya sudah mulai meninggalkan becak. bukan apa-apa, cuma karena mulai merasa ga nyaman naik becak, karena pake tenaga manusia. kalo saya ngerasa ga manusiawi, leyeh-leyeh dengan membayar tenaga manusia yang 'mengangkut' beban tubuh kita. ini cuma masalah perasaan aja sebenernya.
secara umum, saya kurang suka jalan-jalan dengan sistem mengandalkan pada satu orang (baik itu ojek, tuktuk, andong, dll). saya mending ngeteng dari satu tempat ke tempat lain langsung bayar. ke tempat lain lagi, cari angkutan lain. bukan sistem carter yang ditungguin. salam, ady --- On Mon, 16/2/09, R. Heru Hendarto <[email protected]> wrote: From: R. Heru Hendarto <[email protected]> Subject: [indobackpacker] Keluhan Naik Becak di Malioboro To: [email protected] Date: Monday, 16 February, 2009, 12:50 PM Temans, Buat yang sering atau akan backpack ke Jogja, kebetulan barusan naik becak dari Malioboro dan ngobrol lama dengan tukang becaknya. Mengingat kasus yang sering (banget) terjadi akan ketidaknyamanan becak Malioboro (selain lesehannya), berikut saya rangkumkan apa yang dituturkan sang tukang becak. 1. Tukang becak di Malioboro bermacam2 perilakunya sehingga pembawaan dan negosiasi dengan penumpang juga berbeda2. 2. Seperti halnya orang lain, kecendrungan mereka mangkal adalah dengan tukang becak lain yang sehobi atau seprilaku atau sedaerah (tukang becak, demikian pula pedagang Malioboro banyak sekali yang bukan asli Yogya). 3. Ada kelompok becak yang memiliki paguyuban, ada yang tidak. Bahkan ada yang atas nama perorangan alias 'solo becakers' he he.
