jadi pengen ikut nimbrung....
kalo soal tenaga manusia....emang kasian 
tapi lebih kasian lagi kalo semua orang berpikir seperti itu...karena si abang 
gak bisa kasi makan anak istri....^_^

kalo mau pake yang muda aja... kasihan yang tua gak dapat income dunks....
hehehhe
so .....
biasanya wi kalo naek becak yang abangnya udah tuwir, wi lebihin dari harga 
seharusnya (harga dealnya) gitu aja sih!

lagian kalo mutusin untuk gak naek becak juga gak asyik....
becak tuh moda paling ramah lingkungan.....
kalo terik ikut berasa panas.... kalo ujan ikut berasa dingin....

 thanks


wiek's
http://myfirstbackpacktrip.blogspot.com/




________________________________
From: ady <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, February 17, 2009 0:01:46
Subject: Re: [indobackpacker] Keluhan Naik Becak di Malioboro


infonya berharga banget. anyway, kalo saya sudah mulai meninggalkan becak. 
bukan apa-apa, cuma karena mulai merasa ga nyaman naik becak, karena pake 
tenaga manusia. kalo saya ngerasa ga manusiawi, leyeh-leyeh dengan membayar 
tenaga manusia yang 'mengangkut' beban tubuh kita. ini cuma masalah perasaan 
aja sebenernya.

secara umum, saya kurang suka jalan-jalan dengan sistem mengandalkan pada satu 
orang (baik itu ojek, tuktuk, andong, dll). saya mending ngeteng dari satu 
tempat ke tempat lain langsung bayar. ke tempat lain lagi, cari angkutan lain. 
bukan sistem carter yang ditungguin.

salam,
ady

--- On Mon, 16/2/09, R. Heru Hendarto <heruhendarto@ gmail.com> wrote:

From: R. Heru Hendarto <heruhendarto@ gmail.com>
Subject: [indobackpacker] Keluhan Naik Becak di Malioboro
To: indobackpacker@ yahoogroups. com
Date: Monday, 16 February, 2009, 12:50 PM

Temans,

Buat yang sering atau akan backpack ke Jogja, kebetulan barusan naik becak dari 
Malioboro dan ngobrol lama dengan tukang becaknya. Mengingat kasus yang sering 
(banget) terjadi akan ketidaknyamanan becak Malioboro (selain lesehannya), 
berikut saya rangkumkan apa yang dituturkan sang tukang becak.

1. Tukang becak di Malioboro bermacam2 perilakunya sehingga pembawaan dan 
negosiasi dengan penumpang juga berbeda2.

2. Seperti halnya orang lain, kecendrungan mereka mangkal adalah dengan tukang 
becak lain yang sehobi atau seprilaku atau sedaerah (tukang becak, demikian 
pula pedagang Malioboro banyak sekali yang bukan asli Yogya).

3. Ada kelompok becak yang memiliki paguyuban, ada yang tidak. Bahkan ada yang 
atas nama perorangan alias 'solo becakers' he he. 

   

Kirim email ke