Mas Ady,

Saya juga berperasaan yang sama tapi ternyata ada yang merubah
pandangan tadi. Pertama, becak adalah moda transportasi yang sangat
ramah lingkungan. Tidak ada emisi karbon, ataupun memberikan
kontribusi pada turunnya kualitas udara. Kalau yang memperhatikan
lingkungan, moda inilah yang paling hijau. 

Becak juga merupakan salah satu bentuk transportasi rekreatif karena
lambat, jadi bisa dinikmati terutama yang menganut slow travel (he he
he...soalnya udah ada gerakan slow food di www.slowfood.com). 

Alasan kedua adalah bentuk kepedulian pada tukang becak. Ngga ada
salahnya menghargai tenaga manusia terutama yang membutuhkan uang
untuk membiayai anak istri. Saya lebih respek kepada tukang becak yang
tua ketimbang pengemis segar bugar di jalan. 

Cuma seperti disampaikan sebelumnya, ada batas2 etika untuk
menggunakan jasa tukang becak. Biasanya saya lihat bentuk fisik si mas
dengan jarak tempuh yang mau saya jalanin. Kalau jauh ya saya minta
yang muda, kalau deket yang berumur pun boleh. Juga diperhatikan
bawaan kita. 

Biasanya saya menolak kalau si mas menganjurkan 3 orang di becak
(terutama jika ukuran orang dewasa). Terutama karena berbahaya juga
buat keseimbangan. Ohya jangan lupa mengingatkan si mas kalau ugal2an
di jalan. Soalnya baik penumpang dan si tukang becak ngga ada yang
pake helm :)

Seni menawar memang perlu, terutama mengetahui harga lokal. Salah satu
yang saya dapat dari becak ataupun naik slow travel adalah sering
dikasih tips2 menarik misalnya kemana nyari warung atau terminal.

Salah satu pengalaman yang susah dilupakan kawan saya ternyata naik
cidomo menuju pelabuhan Lembar di Lombok. Walau cuma beberapa ratus
meter saja. He he he..

Ohya saya pernah ketemu becak di London atau Singapura. Kalau yang
pernah ke Melaka, pasti ingat meriahnya hiasan plastik becak disana. 


Salam,
Ambar



--- In [email protected], ady <ady_bila...@...> wrote:
>
> infonya berharga banget. anyway, kalo saya sudah mulai meninggalkan
becak. bukan apa-apa, cuma karena mulai merasa ga nyaman naik becak,
karena pake tenaga manusia. kalo saya ngerasa ga manusiawi,
leyeh-leyeh dengan membayar tenaga manusia yang 'mengangkut' beban
tubuh kita. ini cuma masalah perasaan aja sebenernya.
> 
> secara umum, saya kurang suka jalan-jalan dengan sistem mengandalkan
pada satu orang (baik itu ojek, tuktuk, andong, dll). saya mending
ngeteng dari satu tempat ke tempat lain langsung bayar. ke tempat lain
lagi, cari angkutan lain. bukan sistem carter yang ditungguin.
> 
> salam,
> ady
> 

Kirim email ke