Bercermin dari Sangatta, sekilas sebenarnya kita bisa mengintip rahasia dapur 
kota-kota lain yang tumbuh sebagai hasil pemekaran.  Nyaris seluruh PAD 
terserap untuk membangun prasarana fisik gedung pemerintahan dan membayar gaji 
para birokrat baru.  Kota-kota yang makmur, karena dekat dengan sumber daya 
alam, terkesan seperti jor-joran dalam menguras PAD-nya.  Bisa jadi para 
birokrat baru itu beranggapan bahwa gedung yang megah adalah cermin dari 
masyarakat yang makmur.  Di Eropa sana gedung megah (dan artistik) memang 
identik dengan kemakmuran karena 'PAD' mereka datang dari pajak yang dibayar 
masyarakat.  Di Sangatta, PAD itu semata-mata dikuras dari dalam perut bumi.  
Setelah bangunan gedung pemerintahan, cermin diperlebar ke fasilitas yang 
dinikmati para birokratnya.  Mobil-mobil para birokrat selalu dari seri 
terbaru, padahal rumah dinas saja kadangkala belum ada!  Lebih jauh lagi, para 
birokrat ini 'jaim'-nya luar biasa.  Jika ada
 kunjungan tamu dari luar daerah, service yang mereka berikan selalu 
gila-gilaan.
 
Jadi kalau otonomi daerah dipercaya bisa memajukan daerah, maaf jika 
saya kurang percaya.  Tak usahlah menanyakan berapa persen PAD yang menetes ke 
masyarakat karena hal-hal paling esensialpun sepertinya dilupakan para 
birokrat.  Apa itu?  Setiap manusia selalu perlu air (bersih) dan selalu 
membuang sampah.  Adakah 2 hal itu diakomodasi?  Jangankan di kota-kota hasil 
pemekaran lantaran 2 hal mendasar itupun jadi 'bahaya laten' di setiap tempat, 
bahkan di metropolis Jakarta.  Sangatta, sebagai wakil kota-kota hasil 
pemekaran, sebenarnya cocok disebut 'republik warung' (meminjam celetukan 
Xanana Gusmao tentang negaranya Timor Leste).  Jalan-jalan utama kota pemekaran 
selalu dijejali warung di kanan-kirinya.  Warung-warung itu nyaris seragam dan 
tak punya ciri khas.  Mereka yang membuka warung, biasanya para pendatang yang 
memang merantau untuk mengadu nasib.  
 
Tentang 'kemakmuran' yang disinggung Deedee dan beroleh feedback dari Hendra 
dan Rusdiana (adiknya mbak Ambar kah?), di antara karyawan KPC pun muncul 
silang pendapat.  Mau pilih 'kemakmuran yang mengisolasi diri (dan berpotensi 
menumpulkan nurani)' atau 'kesulitan tapi memberi kesempatan mendewasakan 
diri', semua berpulang kepada yang bersangkutan.  Kebetulan saya dan istri 
memilih yang kedua.  Bisa jadi karena kami berdua tergolong 'old fashioned' 
yang lebih menghargai proses ketimbang hasil.  Ada teman yang karena naik 
pangkat dan punya hak untuk tinggal di tempat eksklusif, segera saja hak itu 
mereka gunakan.  Sebaliknya ada yang sudah lama tinggal di tempat 
eksklusif malah mengeluh kepada saya, "Mas .. anakku bilang dia nggak mau lagi 
pulang ke Jawa, ke rumah neneknya, karena di sana hanya melihat orang sengsara!"
 
Salam dari Sangatta
12-Maret-2009
 
 
 


________________________________

From: Hendra Saputra <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: [email protected]; [email protected]
Sent: Wednesday, 11 March 2009 11:39:11
Subject: Re: [indobackpacker] Mohon info sangata dan sangkulirang

Sengata memang mencerminkan dua sisi yang berbeda, di satu sisi dengan 
kekayaan, kemakmuran, dan tata kota yang rapi di sebagian tempat terutama di 
komplek perumahan KPC, tapi di sisi lainya juga memperlihatkan kemiskinan, 
jalanan yang rusak parah, perambahan hutan ilegal, dan lainnya. Sengatta 
sebagai kota Kabupaten dari Kutai Timur, kurang mewakili keadaan Kabupaten 
tersebut, bila kita mulai telusuri dari perbatasan Bontang - Sengatta terus ke 
Bengalon, Sangkulirang, Teluk Lombok dan lain2nya maka mulai tampak 
ketimpangan- ketimpangan yang ada terlepas dari persoalan birokrasi antara 
urusan pemkab, pemprov maupun pemerintah pusat. Tapi menurut saya pribadi 
keadaan seperti ini juga bukan hanya ada di Sengatta, tetapi begitu pula di 
kota2 lain2nya. 

Klo berniat diving atau snorkeling mungkin lebih bagusnya meneruskan perjalanan 
ke kabupaten Berau, yaitu pulau Derawan, pulau Sangalaki, pulau Maratua dan 
pulau Kakaban, disini kepuasan akan keindahan alam akan terpenuhi. 

Salam,

Hendra Saputra

____________ ____ Reply Header ____________ ____
Subject: Re: [indobackpacker] Mohon info sangata dan sangkulirang
Author: deedee <deedee_caniago@ yahoo.com>
Date: 11th March 2009 1:06 am

CMIIW,

tapi waktu saya berkunjung ke kota Sangatta, justru sebailknya, kotanya bagus 
sekali dan penduduk nya kelihatan nya makmur. Kami tinggal seminggu di batu 
Putih-Tanjung Bara dan sempet keliling ke Aquatic, Bukit Pelangi, menjelajah 
tambang batubara Pit J, dll dsb.

Sangatta adalah salah satu kota penghasil batu bara terbesar di Indonesia. 
Penduduk nya sekitar 10,000 orang, yang mayoritas adalah karyawan tambang batu 
bara atau karyawan perusahaan kontraktor supplier alat2 penunjang operasinya 
Ada Thiess contractor, ada KPC (Kaltim Prima Coal) ada Petrosea, ada Pama, dll 
dsb. Disepanjang jalan banyak sekali karyawan yang memakai baju2 seragam 
pertanda mereka bekerja dipertambangan. 

Bukit batu baranya amat sangat luas, so pasti ini merupakan devisa negara yang 
besar karena konon, perputaran uang di salah satu perusahaan disini dalam satu 
bulannya aja mencapai 10 milyar..berarti sebenernya Indonesia itu kaya banget 
yah, so kemana aja itu duit sebanyak itu diputerin ? oh well…

Review lengkap mengenai kota Sangatta - Kalimantan bisa dilihat di :

http://deedeecaniag o.multiply. com/journal/ item/83/Kalimant an_Trip_Sangatta 
_-_the_mining_ city

salam,
deedee



Recent Activity
        *  67
New MembersVisit Your Group 
Weight Loss Group
on Yahoo! Groups
Get support and
make friends online.
Cat Groups
on Yahoo! Groups
Share pictures &
stories about cats.
Y! Groups blog
The place to go
to stay informed
on Groups news!
. 




      New Email names for you! 
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke