...tiap kota selalu punya taksu yang hampir tidak bisa di duplikasi, karena 
akhirnya sebuah kota adalah hasil interaksi hal-hal yang sifatnya fisik dan non 
fisik... sulit untuk menangkap taksu sebuah kota kalo tidak jalan di emperan, 
'bertabrakan' dengan warga dan terlibat dalam percakapan.

Kebetulan saya pernah punya kesempatan jalan(harfiah jalan kaki) diseputaran 
singapur bersama dengan seorang arsitek perkotaan. Dengan sepatu doc-martnya 
kami keliling emperan singapur dan keluar-masuk kolong jembatan singapur pukul 
12 malam. Menarik juga melihat ternyata di singapur ada tukang beca yang tidur 
dikolong jembatan malam hari, ato pemulung plastik dikolong jembatan dekat 
newton circle(thn 2006 sudah gak ada lagi sih). 

Salah satu petuah beliau menarik; untuk tahu apakah pemerintah daerah suatu 
kota/daerah termasuk korup atau tidak, tanda2 pertama yang terlihat adalah 
pedestrian dan marka jalan. Kalo kedua hal yang sederhana itu saja berantakan, 
hampir bisa dipastikan demikian juga administrasi pemerintah daerahnya. 
Boro-boro memikirkan air bersih warganya. Jadi kalau melihat jalur pantura dan 
kemudian berkendara di Bali, kita sudah tahu kira-kira jawabnya...

Tabik,
Puguh



--- In [email protected], joko santoso <devratode...@...> wrote:
 
>  
> Tentang 'kemakmuran' yang disinggung Deedee dan beroleh feedback dari Hendra 
> dan Rusdiana (adiknya mbak Ambar kah?), di antara karyawan KPC pun muncul 
> silang pendapat.  Mau pilih 'kemakmuran yang mengisolasi diri (dan 
> berpotensi menumpulkan nurani)' atau 'kesulitan tapi memberi kesempatan 
> mendewasakan diri', semua berpulang kepada yang bersangkutan.  Kebetulan 
> saya dan istri memilih yang kedua.  Bisa jadi karena kami berdua tergolong 
> 'old fashioned' yang lebih menghargai proses ketimbang hasil.  Ada teman 
> yang karena naik pangkat dan punya hak untuk tinggal di tempat eksklusif, 
> segera saja hak itu mereka gunakan.  Sebaliknya ada yang sudah lama tinggal 
> di tempat eksklusif malah mengeluh kepada saya, "Mas .. anakku bilang dia 
> nggak mau lagi pulang ke Jawa, ke rumah neneknya, karena di sana hanya 
> melihat orang sengsara!"
>  
> Salam dari Sangatta
> 12-Maret-2009
>  
>  
>  
> 
> 
> 

Kirim email ke