Sedikit menambahkan atas komentar sebelumnya : Menurut saya begini, yang ngiri itu punya semangat backpacker nggak? kalo nggak punya ya sama saja bohong karena mereka tidak akan mengerti dan tidak akan mau melakukan perjalanan ala backpacker.Bagi kita para backpacker'ers mungkin nikmat sekali tetapi bagi mereka merupakan penderitaan karena mesti (misalnya) naik bus umum di negara tujuan (bukannya taxi).
Contohnya masyarakat Singapura dimana air fare murah banyak sekali ke negara-negara tujuan, tetapi mereka lebih suka pake tour travel yang harganya pasti lebih mahal.Kalo dirasa karena ekonomi mereka sudah maju sehingga penghasilannya besar juga bukan alasan karena negara eropa juga banyak orang yang berpenghasilan besar tapi tetap ber backpacker ria. Seperti contoh di Perusahaan tempat saya bekerja ada seorang big boss dengan gaji puluhan ribu dolar Amerika per minggu yang menumpuk cuti tahunannya bertahun-tahun untuk kemudian mengambil cuti vacation penuh selama 1 tahun untuk menikmati backpacker keliling afrika bersama anak istrinya. Jadi mesti more effort menjelaskan backpacker style kepada mereka yang tidak memiliki jiwa backpaker karena hanya akan menimbulkan perang argumen. 5 juta rupiah bagi kita mungkin bisa keliling ASEAN tetapi bagi orang lain memang mungkin harus 10 atau 20 juta. Itu bukan salah, memang begitulah pilihannya, mau enak dan nyaman pasti cenderung mahal. mau murah ya backpacker, final. Just enjoy what we believe then...... -- Thank you Best Regards Eko Sulistyo powered by google
