Wuih semakin seru and spesifik diskusinya,

Sekedar memberi penambahan nih!

Dulu sewaktu aku bekerja di Brunei Darussalam, Managerku yang juga hobi
jalan-jalan pernah berpesan kepadaku yang setelah aku terjemahkan bunyinya
seperti ini :

*" Kamu bodoh kalau berpergian dengan setumpuk pekerjaan masih membebani
pikiranmu, pekerjaan itu adalah dunia yang terakhir kamu pikirkan disaat
kamu berpergian untuk berwisata, Yang lebih baik hasil dari perjalanan
tersebut dapat kamu terapkan dalam pekerjaanmu tersebut "*

Menurut aku pribadi berpegian ke suatu tempat untuk melihat suatu hal atau
kebudayaan adalah suatu investasi jiwa. Perlu diingat sekali lagi, kita yang
sering bekerja di belakang meja, bekerja adalah karena tuntutan hidup,
sedangkan berwisata adalah tuntutan jiwa (kesenangan, karena manusia butuh
kesenangan).

Sekali lagi, menurut saya dunia pekerjaan dan hobi itu berbeda jauh berdiri
masing-masing dengan *subtansinya.*

Penghasilan dan waktu libur itu relatif, tergantung dari masing-masing
individunya. *So menurutku jenis pekerjaan dan penghasilan tidak menjamin
seseorang dapat jauh melangkah (bepergian ke berbagai tempat)
*
Contoh : Ada rekan saya yang berpenghasilan diatas USD 4,000 dan hanya
bekerja 15 hari dalam satu bulan, tapi ketika libur malah memilih tidur di
rumah daripada bepergian.

*So untuk kawanku Tata,
*
Cintailah pekerjaan yang sekarang sedang dijalani, disuatu saat
profesionalitas kamu akan dibalas dengan berbagai *reward* yang
menyenangkan, dan dengan *reward* itu niscaya kamu akan bisa menjelajah ke
berbagai tempat di dunia, hehehe. Thanks





Pada 19 Mei 2009 14:20, joko santoso <[email protected]> menulis:

>
>
>
> Yang paling utama adalah tekad yang kuat. Tekad itu ibarat mimpi. Si
> pemimpi tentunya harus bangun dan segera berupaya merealisasi mimpinya. Jika
> ada tekad orang akan menabung, ya menabung duit, informasi, dan tentu saja
> hari cuti (bagi yang cutinya bisa dioutstanding). Dengan tekad kuat orang
> tak akan tergiur ke hal lain pada saat yang ditabung demi sedikit jumlahnya
> melipat. Misalnya, untuk jalan 5 pekan ke Eropa bersama keluarga tentu perlu
> uang yang setara uang muka mengkredit sebuah mobil (he-he). Karena tekad
> tadi orang pasti tak akan tergiur. Jika membeli mobil itu investasi fisik,
> jalan-jalan juga satu investasi yang menurut saya lebih hakiki karena tak
> akan kena depresiasi.
>
> Apakah pergi dengan paket selalu lebih mahal ketimbang pergi sendiri?
> Jawabnya tergantung negara yang jadi tujuan. Untuk negeri-negeri seberang
> &#39;parit&#39; (istilah melayu lama) semacam Indocina bisa jadi memang
> lebih murah. Tapi untuk ke Latin, Eropa, atau bahkan Afrika, urus paspornya
> saja mesti datang sendiri ke kedutaannya di Jakarta. Budget flight? Itu
> hanya ada untuk rute-rute ramai. Untuk rute ke tempat terpencil, misalnya ke
> Mali, harga tiketnya dari Maroko saja sudah seharga 3/4 tiket pp Indonesia -
> Eropa.
>
> Salam dari Sevilla
> 19-Mayo-2009
>
>
> Eko Sulistyo wrote:
> > Sedikit menambahkan atas komentar sebelumnya :
> > Menurut saya begini, yang ngiri itu punya semangat backpacker nggak? kalo
>
> > nggak punya ya sama saja bohong karena mereka tidak akan mengerti dan
> tidak
> > akan mau melakukan perjalanan ala backpacker.Bagi kita para
> backpacker'ers
> > mungkin nikmat sekali tetapi bagi mereka merupakan penderitaan karena
> mesti
> > (misalnya) naik bus umum di negara tujuan (bukannya taxi).
> > Contohnya masyarakat Singapura dimana air fare murah banyak sekali ke
> > negara-negara tujuan, tetapi mereka lebih suka pake tour travel yang
> > harganya pasti lebih mahal.Kalo dirasa karena ekonomi mereka sudah maju
> > sehingga penghasilannya besar juga bukan alasan karena negara eropa juga
> > banyak orang yang berpenghasilan besar tapi tetap ber backpacker ria.
> > Seperti contoh di Perusahaan tempat saya bekerja ada seorang big boss
> dengan
> > gaji puluhan ribu dolar Amerika per minggu yang menumpuk cuti tahunannya
> > bertahun-tahun untuk kemudian mengambil cuti vacation penuh selama 1
> tahun
> > untuk menikmati backpacker keliling afrika bersama anak istrinya.
> > Jadi mesti more effort menjelaskan backpacker style kepada mereka yang
> > tidak memiliki jiwa backpaker karena hanya akan menimbulkan perang
> argumen.
> > 5 juta rupiah bagi kita mungkin bisa keliling ASEAN tetapi bagi orang
> lain
> > memang mungkin harus 10 atau 20 juta. Itu bukan salah, memang begitulah
> > pilihannya, mau enak dan nyaman pasti cenderung mahal.
> > mau murah ya backpacker, final.
> > Just enjoy what we believe then......
> > --
> > Thank you
> > Best Regards
> > Eko Sulistyo
> > powered by google
> >
>
> New Email names for you!
> Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and
> @rocketmail.
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke