Iya nih... seru sekali... sampai pengen ikut nimbrung juga.

Kalau saya sendiri sampai saat ini berkesempatan melihat-lihat negeri orang 
bukan berhubungan dari pekerjaan dan bukan pula untuk liburan. hehe.

Pengalaman pertama saya bertandang ke negeri orang itu di tahun 2004. Waktu itu 
paduan suara yang saya ikuti turut berpartisipasi di suatu kompetisi di Jerman. 
Waktu itu juga pertama kalinya paduan suara saya tersebut ikut lomba di luar 
negeri. Perjuangannya juga gila-gilaan untuk latihan n nyari sponsor untuk 
berangkat. Dan tentu saja kami pun hidup sesederhana mungkin. Setelahnya kami 
juga sempat ikut kompetisi lagi di Cina tahun 2006.

Kalau buat saya, saya belajar banget kalau tujuan saya pergi adalah untuk 
berkompetisi, bukan buat liburan, juga bukan buat jalan-jalan. Sehingga yang 
namanya jalan-jalan, foto-foto, bakal jadi hal kesekian. Kan ga lucu juga kalo 
penampilannya jelek gara2 ga cukup istirahat karena sibuk jalan-jalan. Hehe.

Walaupun demikian pasti ada spare waktu memang untuk melihat-lihat sebentar, 
selain itu yang menarik buat saya adalah ketika berinteraksi dengan masyarakat 
setempat. Melihat apa yang mereka kerjakan sehari-hari dll. Btw, ada kejadian 
lucu waktu ikut lomba di Xiamen, Cina. Saya lagi makan di suatu tempat 
tiba-tiba ada seorang nenek penduduk lokal yang menyolek saya. Lalu dia 
bertanya "Dari Bandung ya?". Wah kaget banget ngelihat ada yang bisa Indonesia, 
secara nyari yang bisa bahasa Inggris aja susah. Saya baru tahu dari beliau, 
ternyata dulu tahun 40-an banyak warga Tionghoa yang migrasi kembali ke Cina. 
Salah satu kota tujuannya ya Xiamen itu. Bahkan nenek tersebut masih bisa 
berbahasa Sunda :D

Oh ya. Sekalian promosi :D, paduan suara saya (ITB Choir) Juli nanti rencananya 
akan ikut kompetisi dan konser tur di eropa selama sekitar 25 hari. Kami akan 
ke Ceko, Swiss, Prancis, Italia, dan Spanyol. Kali aja ada teman-teman IBP-ers 
yang lagi di Eropa bisa hadir di konser-konsernya. Sekalian bikin kopi darat 
IBP-ers di sana... hehehe... (seriusan loh saya soal kopi daratnya :D). Oh iya, 
kami juga akan ada pre-competition concert dulu di Usmar Ismail Hall, Jakarta 
tanggal 12 Juni nanti. Ayo nonton :D. Tak lupa saya juga minta doa rekan-rekan 
sekalian, semoga persiapan kami disini dapat dilancarkan dan kami dapat 
memberikan hasil maksimal pada saatnya nanti.

So... pesan moral dari email ini adalah... selain karena pekerjaan, bisa juga 
loh mengunjungi dan jalan-jalan di negara asing dengan ikut event-event gitu :D.

Maju terus IBP!
Marina, Bandung


--- In [email protected], Ranggi Ragatha <ranggi.raga...@...> 
wrote:
>
> Wuih semakin seru and spesifik diskusinya,
> 
> Sekedar memberi penambahan nih!
> 
> Dulu sewaktu aku bekerja di Brunei Darussalam, Managerku yang juga hobi
> jalan-jalan pernah berpesan kepadaku yang setelah aku terjemahkan bunyinya
> seperti ini :
> 
> *" Kamu bodoh kalau berpergian dengan setumpuk pekerjaan masih membebani
> pikiranmu, pekerjaan itu adalah dunia yang terakhir kamu pikirkan disaat
> kamu berpergian untuk berwisata, Yang lebih baik hasil dari perjalanan
> tersebut dapat kamu terapkan dalam pekerjaanmu tersebut "*
> 
> Menurut aku pribadi berpegian ke suatu tempat untuk melihat suatu hal atau
> kebudayaan adalah suatu investasi jiwa. Perlu diingat sekali lagi, kita yang
> sering bekerja di belakang meja, bekerja adalah karena tuntutan hidup,
> sedangkan berwisata adalah tuntutan jiwa (kesenangan, karena manusia butuh
> kesenangan).
> 
> Sekali lagi, menurut saya dunia pekerjaan dan hobi itu berbeda jauh berdiri
> masing-masing dengan *subtansinya.*
> 
> Penghasilan dan waktu libur itu relatif, tergantung dari masing-masing
> individunya. *So menurutku jenis pekerjaan dan penghasilan tidak menjamin
> seseorang dapat jauh melangkah (bepergian ke berbagai tempat)
> *
> Contoh : Ada rekan saya yang berpenghasilan diatas USD 4,000 dan hanya
> bekerja 15 hari dalam satu bulan, tapi ketika libur malah memilih tidur di
> rumah daripada bepergian.
> 
> *So untuk kawanku Tata,
> *
> Cintailah pekerjaan yang sekarang sedang dijalani, disuatu saat
> profesionalitas kamu akan dibalas dengan berbagai *reward* yang
> menyenangkan, dan dengan *reward* itu niscaya kamu akan bisa menjelajah ke
> berbagai tempat di dunia, hehehe. Thanks
> 
> 
> 
> 
> 
> Pada 19 Mei 2009 14:20, joko santoso <devratode...@...> menulis:
> 
> >
> >
> >
> > Yang paling utama adalah tekad yang kuat. Tekad itu ibarat mimpi. Si
> > pemimpi tentunya harus bangun dan segera berupaya merealisasi mimpinya. Jika
> > ada tekad orang akan menabung, ya menabung duit, informasi, dan tentu saja
> > hari cuti (bagi yang cutinya bisa dioutstanding). Dengan tekad kuat orang
> > tak akan tergiur ke hal lain pada saat yang ditabung demi sedikit jumlahnya
> > melipat. Misalnya, untuk jalan 5 pekan ke Eropa bersama keluarga tentu perlu
> > uang yang setara uang muka mengkredit sebuah mobil (he-he). Karena tekad
> > tadi orang pasti tak akan tergiur. Jika membeli mobil itu investasi fisik,
> > jalan-jalan juga satu investasi yang menurut saya lebih hakiki karena tak
> > akan kena depresiasi.
> >
> > Apakah pergi dengan paket selalu lebih mahal ketimbang pergi sendiri?
> > Jawabnya tergantung negara yang jadi tujuan. Untuk negeri-negeri seberang
> > &#39;parit&#39; (istilah melayu lama) semacam Indocina bisa jadi memang
> > lebih murah. Tapi untuk ke Latin, Eropa, atau bahkan Afrika, urus paspornya
> > saja mesti datang sendiri ke kedutaannya di Jakarta. Budget flight? Itu
> > hanya ada untuk rute-rute ramai. Untuk rute ke tempat terpencil, misalnya ke
> > Mali, harga tiketnya dari Maroko saja sudah seharga 3/4 tiket pp Indonesia -
> > Eropa.
> >
> > Salam dari Sevilla
> > 19-Mayo-2009
> >
> >
> > Eko Sulistyo wrote:
> > > Sedikit menambahkan atas komentar sebelumnya :
> > > Menurut saya begini, yang ngiri itu punya semangat backpacker nggak? kalo
> >
> > > nggak punya ya sama saja bohong karena mereka tidak akan mengerti dan
> > tidak
> > > akan mau melakukan perjalanan ala backpacker.Bagi kita para
> > backpacker'ers
> > > mungkin nikmat sekali tetapi bagi mereka merupakan penderitaan karena
> > mesti
> > > (misalnya) naik bus umum di negara tujuan (bukannya taxi).
> > > Contohnya masyarakat Singapura dimana air fare murah banyak sekali ke
> > > negara-negara tujuan, tetapi mereka lebih suka pake tour travel yang
> > > harganya pasti lebih mahal.Kalo dirasa karena ekonomi mereka sudah maju
> > > sehingga penghasilannya besar juga bukan alasan karena negara eropa juga
> > > banyak orang yang berpenghasilan besar tapi tetap ber backpacker ria.
> > > Seperti contoh di Perusahaan tempat saya bekerja ada seorang big boss
> > dengan
> > > gaji puluhan ribu dolar Amerika per minggu yang menumpuk cuti tahunannya
> > > bertahun-tahun untuk kemudian mengambil cuti vacation penuh selama 1
> > tahun
> > > untuk menikmati backpacker keliling afrika bersama anak istrinya.
> > > Jadi mesti more effort menjelaskan backpacker style kepada mereka yang
> > > tidak memiliki jiwa backpaker karena hanya akan menimbulkan perang
> > argumen.
> > > 5 juta rupiah bagi kita mungkin bisa keliling ASEAN tetapi bagi orang
> > lain
> > > memang mungkin harus 10 atau 20 juta. Itu bukan salah, memang begitulah
> > > pilihannya, mau enak dan nyaman pasti cenderung mahal.
> > > mau murah ya backpacker, final.
> > > Just enjoy what we believe then......
> > > --
> > > Thank you
> > > Best Regards
> > > Eko Sulistyo
> > > powered by google
> > >
> >
> > New Email names for you!
> > Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and
> > @rocketmail.
> > Hurry before someone else does!
> > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/
> >  
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke