Saya setuju dg Denisa. Tidak adventure banget jg oke kok! yg penting kita masih 
bisa merasakan 'soul'nya sebuah liburan yg bisa melepaskan kepenatan akibat 
rutinitas sehari-hari. Tapi, sementara itu faktor kenyamanan dan keamanan bisa 
beda2 tiap orang. Jaman dulu, saya sih ndak peduli mau numpang truk sayur, 
tidur di pos ronda, toh beramai-ramai dg teman sependakian. tapi sekarang beda 
dong, kalau ada rute pesawat mengapa harus naik mobil 10 jam dengan rute yg 
menyengsarakan. Kalo bisa dikalkulasi biayanya pasti kita juga mengalami 
kerugian atas hilangnya waktu dibanding naik pesawat, juga lelah di perjalanan 
yg membuat kita nggak fresh slama menikmati wisata. 

Tapi, kita sebaiknya tetap expect the unexpected. banyak hal yang tidak terduga 
muncul selama di perjalanan. Bbrp bulan lalu waktu mau ke tentena dari ampana 
(tentunya setelah dr togean) menurut informasi banyak bus2 dari palu lewat 
poso-tentena, tapi kenyataan ga ada (ada sih yg lewat tapi ga mau distop). jadi 
setelah menunggu 1 jam lebih di salah satu pos penjagaan (yg lg tidak ada 
petugasnya), disamperin orang mabuk & ditawari nginep di rumahnya, dan waktu 
mulai beranjak tengah malam, saya memutuskan menunda perjalanan ke tentena 
besok paginya dan menginap di Poso. Ini jg karena saya tidak sendirian, 
mengajak pasangan saya sehingga harus mikirin keselamatannya juga.

Paginya, kami pun naik angkot yang ditumpangi orang lokal karena tak ada 
bus/travel, bercampur dg pedagang juga tentunya. jadilah nuansa backpacker 
hadir lagi, meskipun tidak ada dalam perencanaan (awalnya kami merencanakan 
semua pake travel). 

salam,

Adi 

--- On Wed, 1/7/09, denisa mayasari <[email protected]> wrote:

From: denisa mayasari <[email protected]>
Subject: Re: susahnya merubah mindset seseorang ::sebelumnya::[indobackpacker]  
Peluang Wisata Indonesia..
To: "Yuanz" <[email protected]>
Cc: [email protected]
Received: Wednesday, 1 July, 2009, 10:12 AM











    
            
            


      
      Mba Yuans dan rekan2 IBP,
 
Memang susah mengukur tingkat ke"backpacker" an satu orang dengan yang lain. 
KIta masing2 memiliki level/cara/gaya sendiri untuk bisa merasakan kenikmatan 
atau kepuasan pada saat kita travelling.
 
Saya pribadi, semakin hari semakin senang menemukan hal2 baru, atau tempat2 
baru tentunya dengan cara backpacker ala saya. Tetapi jujur walaupun saya 
mencoba ala backpacker, faktor kenyamanan dan kenikmatan tetap saya junjung 
tinggi dan hal inilah yang berbeda2 dirasakan tiap2 orang. Contoh, saya tetap 
mencari hostel dgn bed yang nyaman, ber AC dan bukan sekedar cari yg murah 
dengan hanya bed dan kipas angin saja walaupun jauh lebih irit tentunya. Yang 
pastinya bukan cari hotel. 
 
Untuk transportasi, kemana2 mencoba transportasi umum di tempat tsb. Tapi tidak 
sampai menumpang mobil bak terbuka para pedagang sayur misalnya, karena faktor 
kenyamanan tadi. Kalaupun lokasi yg dituju agak susah transportasinya, saya 
berusaha cari alternatif lain dari awal rencana keberangkatan. 
 
Saya ngga tau apakah dengan cara diatas masuk kategori backpacker atau bukan. 
Tapi boleh kan saya bilang, ini loh..backpacker ala saya. Perhitungan dan 
kecermatan biaya tetap penting bagi saya, tapi yg utama tetap nyaman. Bagi 
saya, yg namanya jalan2 musti enjoy, musti nikmatin, musti hepi dengan cara 
apapun....cara turis, traveller, atau backpacker.
 
Kalau kita mencoba mengikuti gaya seseorang tapi kita ngga comfy, maka amat 
sangat disayangkan kan. Jangan sampe perjalanan kita menjadi sia-sia..
 
salam,
denisa
 
 
 


--- On Wed, 1/7/09, Yuanz <mallind...@gmail. com> wrote:


From: Yuanz mallind...@gmail. com




akhirnya, kami hanya bisa berwisata ketempat-tempat yg sudah terpelihara
dengan baik. seperti Solo, Jogja, Bali, Bandung. kesannya manja
bangetttttttttt. .. tapi mau bagaimana lagi... untuk sekarang, saya belum
bisa menjadi seorang backpacker sejati. sekarang saya harus "cukup puas"
menjelajahi tempat wisata yg berinfrastruktur baik sebagai turis. padahal
saya juga sering mendengar betapa exoticnya tempat-tempat yg masih perawan
bikin ngiler pengen mengunjungi. apa daya.. sekarang saya tidak single lagi.
dan saya tidak bisa egois lagi seperti dulu..

-Yz -

2009/7/1 Ambar Briastuti <ambar.briastuti@ gmail.com>


> Pertanyaan mudah : Apa sih yang membuat kita pengen mengunjungi sebuah
> tempat? Duluuuu saya percaya bahwa infrastruktur
 adalah kunci utama. Kalau
> ngga ada jalan, mana ada sih orang mo datang. Kalau ngga ada toilet mana ada
> sih orang mo singgah. Hingga kemudian saya mencoba backpacker, ke
> tempat-tempat yang dianggap "tidak layak" tadi. Ada yang nyari transport aja
> susah bukan main, apalagi tempat menginap.
>


        Get your new Email address!  

Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Access Yahoo!7 Mail on your mobile. Anytime. Anywhere.
Show me how: http://au.mobile.yahoo.com/mail

Kirim email ke