nah, di sini nih.
menteri pariwisatanya kudu pernah jadi backpackers juga, jadi tahu,
gimana caranya bikin infrastruktur yang nyaman dan harganya bisa murah
buat wisatawan.

jadi menterinya nggak melulu duduk di singgasana emas saja.

jadi backpackers, sekarang, mungkin gak ngeluarin duit banyak, kan
model ransel.  tapi nanti, ketika ekonomi sudah membaik, sudah settle,
orang ingin berwisata dengan nyaman, dan rela keluar uang untuk itu,
wisatanya model koper.

kalau di ilmu marketing, ada istilah cohort analysis.  orang orang yg
berbackpackers di masa muda, di saat matang atau di saat periode
kehidupan berikutnya, akan berwisata, bernostalgia, mengunjungi tempat
tempat yg dulu pernah didatanginya di masa masih susah, masih
sederhana.  tapi dengan kondisi yg jauh berbeda.

kalau dia dulu menemukan tempat wisata itu bagus, dalam perjalanan
hidupnya, dia akan endorsement dari mulut ke mulut, dan ketika dia
mengunjungi tempat itu lagi, dia tahu di mana saja dia akan
"menghabiskan uangnya" untuk mendapatkan hiburan yang layak, makanan
yang enak, dan tempat yang nyaman.





2009/7/1 Ully Soraya <[email protected]>:
>
>
> Benar Denisa dan Dessy,
>
> Backpacking tidak harus identik dengan petualangan. Kalau petualangan ya
> niatnya bertualang, adventure, cari tantangan yang identik dengn ketidak
> nyamanan. Kita bisa berbacpacking tanpa harus beradventure. Aku sudah coba
> berwisata di Indonesia, mulai dari Bali, Lombok dan pulau Bangka yang belum
> terkenal itu. Hasilnya, senang sih, tapi enggak murah. Di Bali kita bisa
> nemu hotel murah, tapi di Thailand kita bisa nemu hotel lebih murah lagi
> dengan standard lebih bagus, di Bali kita bisa nemu makanan murah, tapi di
> Thailand kita bisa nemu makanan murah yang lebih bermutu lagi (real
> seafood), belum kalau mau snorkling di nusa dua, udah pantainya rusak gitu,
> mahal lagi (1 jam snorkling 250.000). Di Kuta beach untuk nyewa kursi buat
> duduk2 sejam rp25.000, di Hua Hin, Pattaya, atau Koh Samui cukup pesen aqua
> seharga 30 baht kita bisa duduk seharian, lebih nyaman juga karna warung
> makannya pas di pantai. Begitu juga di Lombok, disana apa2mahal, belum lagi
> untuk mencapai pulau2 kecil disekitarnya kayak gili air, trawangan, meno dll
> mesti via charter. Sedangkan di Krabi kita bisa mengunjungi pulau2 kecil
> sekitarnya cukup dengan 50 baht seorang (sekitar rp 5000 atau 6000), kalau
> mau via charter juga bisa, boat seharian, diantar ke pulau2 disekitarnya,
> makan siang, plus snack, dan harganya jauh lebih murah ketimbang di Bali
> atau Lombok. dan kita bisa snorkling sepuasnya, pantainya juga relatif masih
> lebih fresh ketimbang nusa dua. Belum lagi di pulau Bangka, kita nginep di
> Tanjung Pesona, hotel gak murah, makan juga mesti di restauran punya hotel
> yang mahal itu, dan kalau mau makan diluar mesti nyewa mobil hotel, 200.000
> sekali keluar, Hasilnya gak murah sama sekali. Makanya dengan sedih hati aku
> harus bilang kalau Thailand beberapa kali lebih nyaman dan lebih murah di
> banding wisata di Indo. Sedih sih, tapi itu kenyataannya. Padahal aku yakin
> Indonesia pasti punya lebih banyak daerah yang cantik2 ketimbang Thailand.
> Mungkin sudah saatnya Indonesia punya menteri pariwisata dan kebudayaan yang
> pinter, yang bisa mengelola wilayah Indonesia yang cantik ini.
>
> Ully
>
> --- On Wed, 7/1/09, Dessy <[email protected]> wrote:
>
> From: Dessy <[email protected]>
> Subject: Re: susahnya merubah mindset seseorang
> ::sebelumnya::[indobackpacker] Peluang Wisata Indonesia..
> To: "Yuanz" <[email protected]>, "denisa mayasari"
> <[email protected]>
> Cc: [email protected]
> Date: Wednesday, July 1, 2009, 12:46 AM
>
> setuju dgn denisa.....
> saya sendiri sama dengan denisa.... backpacker boleh tapi tetap ada standard
> kenyamanan yang harus ada. Backpacker kan identik dengan murah... Murah
> 'biasanya' sangat tidak identik dengan nyaman. Tapi klo memang ada orang2
> yang bisa nyaman dengan kondisi 'murah' itu ya.. two thumbs up buat
> mereka....
>
> Murah kan  bisa dilihat dari banyak faktor... tiket, penginapan, makan,
> obyek wisata, dll....
>
> Menurut saya, tidak mesti orang yang niat ber backpacker itu harus tinggal
> di hostel / penginapan yg seadanya....
> (apa lagi klo kita pergi dengan banyak teman misalnya ber-3, hostel / guest
> house biasanya dihitung per kepala, sementara klo masuk hotel,  kan bisa
> kita ambil 1 kamar dan kita masukin ber 3, saya rasanya harga per orangnya
> akan be ti - beda2 tipis)
> emang lebih enak klo punya temen / sodara di tempat tujuan, yg pastinya bisa
> lebih hemat biaya dan dpt tour guide gratis
>
> Nah, klo untuk tiket, bisa nyari low cost airline kayak airasia, jetstar,
> ryanair atau lainnyaseperti saat ini dimana airasia lagi promo gila2 an
> (menurut saya sih gila2an, krn mereka bisa jual kursi pesawat jkt-jogja cuma
> 6000 rp...) klo soal nyaman... kan pesawatnya sama dengan yg bayar mahal
> jadi pasti nyaman lah.....
>
> Makan.... klo emang gak biasa makan di warung2 pinggir jalan, ya jangan
> dipaksain juga... daripada dipaksain (demi 'murah') malah sakit, menghambat
> perjalanan, membuat perjalanan jadi tidak nyaman dan akhirnya malah keluar
> duit lebih banyak lagi buat berobat....
>
> klo obyek wisata, klo mau hemat ya carilah obyek wisata yang gratisan
> (percaya deh... obyek wisata yg gratisan masih banyak yang jauh lebih bagus
> daripada yg bayar.....)
>
> ujung2nya, semua ukuran itu kembali ke diri kita sendiri... yang penting :
> kita enjoy, kita happy (seperti kata denisa) dan setiap trip kita memiliki
> arti bagi hidup kita....
>
> regards,
> dessy
>
>
> ----- Original Message -----
> From: denisa mayasari
> To: Yuanz
> Cc: indobackpacker@ yahoogroups. com
> Sent: Wednesday, July 01, 2009 10:12
> Subject: Re: susahnya merubah mindset seseorang ::sebelumnya:
> :[indobackpacker ] Peluang Wisata Indonesia..
> Mba Yuans dan rekan2 IBP,
>
> Memang susah mengukur tingkat ke"backpacker" an satu orang dengan yang lain.
> KIta masing2 memiliki level/cara/gaya sendiri untuk bisa merasakan
> kenikmatan atau kepuasan pada saat kita travelling.
>
> Saya pribadi, semakin hari semakin senang menemukan hal2 baru, atau tempat2
> baru tentunya dengan cara backpacker ala saya. Tetapi jujur walaupun saya
> mencoba ala backpacker, faktor kenyamanan dan kenikmatan tetap saya junjung
> tinggi dan hal inilah yang berbeda2 dirasakan tiap2 orang. Contoh, saya
> tetap mencari hostel dgn bed yang nyaman, ber AC dan bukan sekedar cari yg
> murah dengan hanya bed dan kipas angin saja walaupun jauh lebih irit
> tentunya. Yang pastinya bukan cari hotel.
>
> Untuk transportasi, kemana2 mencoba transportasi umum di tempat tsb. Tapi
> tidak sampai menumpang mobil bak terbuka para pedagang sayur misalnya,
> karena faktor kenyamanan tadi. Kalaupun lokasi yg dituju agak susah
> transportasinya, saya berusaha cari alternatif lain dari awal rencana
> keberangkatan.
>
> Saya ngga tau apakah dengan cara diatas masuk kategori backpacker atau
> bukan. Tapi boleh kan saya bilang, ini loh..backpacker ala saya. Perhitungan
> dan kecermatan biaya tetap penting bagi saya, tapi yg utama tetap nyaman.
> Bagi saya, yg namanya jalan2 musti enjoy, musti nikmatin, musti hepi dengan
> cara apapun....cara turis, traveller, atau backpacker.
>
> Kalau kita mencoba mengikuti gaya seseorang tapi kita ngga comfy, maka amat
> sangat disayangkan kan. Jangan sampe perjalanan kita menjadi sia-sia..
>
> salam,
> denisa
>
>
>
>
> --- On Wed, 1/7/09, Yuanz <mallind...@gmail. com> wrote:
>
> From: Yuanz mallind...@gmail. com
>
> akhirnya, kami hanya bisa berwisata ketempat-tempat yg sudah terpelihara
> dengan baik. seperti Solo, Jogja, Bali, Bandung. kesannya manja
> bangetttttttttt. .. tapi mau bagaimana lagi... untuk sekarang, saya belum
> bisa menjadi seorang backpacker sejati. sekarang saya harus "cukup puas"
> menjelajahi tempat wisata yg berinfrastruktur baik sebagai turis. padahal
> saya juga sering mendengar betapa exoticnya tempat-tempat yg masih perawan
> bikin ngiler pengen mengunjungi. apa daya.. sekarang saya tidak single lagi.
> dan saya tidak bisa egois lagi seperti dulu..
>
> -Yz -
>
> 2009/7/1 Ambar Briastuti <ambar.briastuti@ gmail.com>
>
>
>> Pertanyaan mudah : Apa sih yang membuat kita pengen mengunjungi sebuah
>> tempat? Duluuuu saya percaya bahwa infrastruktur adalah kunci utama. Kalau
>> ngga ada jalan, mana ada sih orang mo datang. Kalau ngga ada toilet mana
>> ada
>> sih orang mo singgah. Hingga kemudian saya mencoba backpacker, ke
>> tempat-tempat yang dianggap "tidak layak" tadi. Ada yang nyari transport
>> aja
>> susah bukan main, apalagi tempat menginap.
>>

Kirim email ke