Memang benar untuk berbacpacking atau berwisata pada umumnya gak harus nunggu 
infrastruktur tertata baik dulu, berwisata bisa dimulai kapan saja. Tapi kalau 
kita berpikir infrastruktur gak penting, infrastruktur itu penting. Karna 
berapa banyak turis yg betah dengan segala macam tantangan. Dari segi umur, 
kebanyakan org yang mampu berturis ria adalah yg sudah agak berumur, yang tentu 
saja membutuhkan kenyamanan. Tentu saja ada beberapa orang muda yg mampu 
berturis ria, tapi berapa persen. Yang muda2 tentu masih disibukkan dengan 
urusan bayar kredit rumah, nyekolahin anak dll. Dan berapa banyak negara2 yang 
tadinya kurang mampu secara ekonomis menjadi agak mendingan. Contoh di 
Indonesia ya Bali, secara perkapita, pendapatan perkapita tertinggi di Indo di 
Bali, emang tingkat kemakmuran org bali gak rata, contoh paling nyata ya 
Monaco, mereka hidup dari ngeretin orang kaya. Contoh lain, Spain, Greece, 
Kroatia dan Turki. 10 tahun yll Spain masih murah,
 tingkat kesejahteraanya juga masih rendah, sekarang Spain sudah setara dengan 
negara2 eropa lainnya karna tourism nya maju. 2 tahun yll Kroatia masih sangat 
murah, sekarang biaya berwisata disana dah 4 x lipat. Turki juga sedang menuju 
kesana. Contoh paling dekat ya Thailand, Thailand tuh yg dijual apa sih kalo 
gak pariwisata. Sektor yang modalnya paling murah dan yang paling banyak 
menghasilkan banyak uang itu menurutku adalah pariwista. Penjual baju kaki lima 
di Thailand naiknya stadsjeep, sedang di Indo mereka cukup bahagia kalo bisa 
punya motor. Siapa bilang kalo turis2 yang tinggal di hotel berbintang gak mau 
mengunjungi pasar tradisional dan belanja disana, siapa bilang kalo turis kaya 
gak mau makan diwarung2 pinggir jalan. Kalo infrastruktur pariwisata di Indo 
terbangun dengan baik maka banyak turis datang, kalo banyak turis datang maka 
banyak investor bangun hotel, kalo banyak investor bangun hotel maka banyak 
tenaga kerja terserap, kalo banyak
 turis datang maka toko2 souvenir laku, restoran laku, kalo restoran laku, 
pedagang sayuran dipasar laku dan bisa pasang harga lebih tinggi karna hukum 
stock and demand, begitu seterusnya. Dan percayalah, pada saat orang berwisata 
mereka tidak segan2 untuk mengeluarkan uang. Dan mereka biasanya juga gak 
begitu pelit tawar harga karna niatnya emang seneng2. Makanya mari kita ngeyel 
sama pemerintah untuk membangun sektor pariwisata kita. Sayang kalau Indonesia 
yang cantik ini tidak didatangi turis.
 
Ully

--- On Thu, 7/2/09, Indra Btara <[email protected]> wrote:


From: Indra Btara <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Peluang Wisata Indonesia..
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "Ambar Briastuti" <[email protected]>
Date: Thursday, July 2, 2009, 6:55 AM









Dear all,
 
Mari kita pilih Mba Ambar sebagai menteri pariwisata.. .. :) 
(berangan-angan suatu hari ada mentri yang muncul dari IBP... yuukk)
 
Teteep pengen ikut komentar lagi.
 
Pengen coba lihat dari sisi marketing (saya bukan ahli jadi maaf kalo salah).
Kalau kita posisikan tempat wisata sebagai sebuah produk yang mau kita pasarin.
Pasti akan kita lihat apa core competence dari produk itu, siapa target pasar 
yang mau dituju, dengan segmentasi, targeting dll. Lalu produk tersebut kita 
sesuaikan dengan kebutuhan target pasar tersebut.
Nah disini kan kelihatan bahwa siapa pasar dari suatu tempat wisata. Turis 
lokal, turis lokal berduit, turis bule, turis asia, backpacker, pencinta 
adventure, ecotourism dll. 
Tentunya tidak pasti bahwa saat kita tuju satu pasar tertentu, pasar yang lain 
ga boleh dateng, tetep boleh dong, tapi kita kan tetep fokus untuk 
memasarkannya.
Misal Borobudur. Ini target pasarnya luas banget dan pasarnya udah established. 
Tapi saat kita mau memasarkan ke target pasar baru, misal turis berduit dari 
Eropa. Berarti kita harus mengembangkan fasilitas dan memasarkan sesuai dengan 
target pasar baru tersebut. 
 
Trus kalau Orang utan di Kalimantan. Pasarnya adalah orang-orang yang sangat 
mencintai lingkungan, peduli kelestarian alam, dan tidak keberatan dengan 
tinggal di rumah penduduk, bikin tenda dihutan dll. Tentu tidak perlu kita buat 
hotel berbintang lima. Nilai adventure dan lingkungannya akan berubah sama 
sekali. Tapi tetap kita bisa jual dengan cara yang lain. Buat paket yang 
memudahkan wisatawan untuk datang dan guide yang jelas dan bertanggung jawab. 
Di Afrika, di salah satu taman nasionalnya yang pernah saya baca (belum bisa 
kesana sih... hehe), mereka buat penginapan-penginap an yang jenisnya seperti 
rumah tradisional atau tenda-tenda besar yang isi dan pelayanannya bintang 5, 
tanpa meninggalkan unsur lingkungan dan adventure-nya. Dan dijual mahal sekali 
paket wisatanya.
 
Artinya tidak setiap tempat wisata bisa kita perlakukan sama dalam 
pengembangannya, ada kekuatan produknya sendiri, target pasar yang dituju, 
lingkungan, masyarakat sekitar serta kebijakan pemerintah sendiri.
Dan salah satu unsur yang kuat adalah marketing. Bisa melalui word of mouth 
seperti yang dilakukan lewat IBP saat ini, bisa dengan iklan-iklan yang 
dilakukan oleh malaysia secara besar-besaran. Walaupun produk berkualitas 
akhirnya yang akan lebih diminati orang. Tapi kan tetep bagaimana turis mau 
datang kalau sama sekali engga tahu tentang tempat wisata kita. 
 
Toh kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan informasi, transportasi, paket-paket 
perjalanan yang ditawarkan (baik yang naik-naik gunung atau sekedar jalan-jalan 
dikota) semua memegang peranan penting yang membuat wisatawan akhirnya 
memutuskan untuk berkunjung. Tentu dengan tujuannya masing-masing.
 
Infrastruktur dan transportasi? Penting pastinya. Kunjungan ke bandung 
meningkat tajam dari malaysia gara-gara Air Asia. Kita-kita juga jadi hobi ke 
phi phi kalo mau cari pantai, karena bisa lebih murah dari pada ke lombok.
 
Keterlbatan dan mental masyarakat? Penting banget. Mereka harus merasa 
dilibatkan dan diuntungkan dengan adanya wisata. dan jangan sampai turis-turis 
merasa tertipu dan kecewa sama perilaku masyarakat yang memaksa dan mencoba 
ambil untung setinggi-tingginya. Jadi bad marketing. Mereka ga sadar pada 
akhirnya itu merugikan mereka sendiri.
 
Duh kayanya mulai ngelantur nih. Maaf kalo aga ga jelas dan kemana mana.
 
Tujuan akhirnya sih sama seperti semua, berharap wisata di indonesia maju. 
 
Thanks semua.
Indra


 
On 7/2/09, Ambar Briastuti <ambar.briastuti@ gmail.com> wrote: 







Mas Anas, Yosephina, Erika, Diesty, Adi

Sengaja saya memberikan contoh ektrem tentang infrastruktur karena
ingin menegaskan bahwa jika kita menunggu infrastruktur dibangun dulu
baru membangun citra dan imej, rasanya sudah terlambat beberapa
langkah. Saya percaya infrastruktur itu bisa mengikuti asalkan kita
membangun dengan mendengarkan nilai lokal. Poin yang saya ingin
sampaikan, janganlah kita menunggu infrastruktur dengan tidak
melakukan apa-apa. Atau kita menjadi backpacker yang 'manja'. Bukankan
ada tantangan tersendiri mencobai sesuatu yang susah, unknown, dan
terkadang membuat keingin tahuan makin besar?

Poin lain adalah seorang backpacker itu tidak musti kere. Ada nilai
etika yang saya pegang, yakni jika kita melakukan backpacking atau
kegiatan adventures, saya berusaha uang yang saya bayar dirasakan oleh
penduduk tanpa melalui beberapa tangan di tengah. Biarpun mahal, jika
uang itu adalah untuk yang saya tinggali, no problem. Jadi maaf buat
yang selalu mengatakan backpacker itu selalu murah. Sekali lagi saya
tegaskan tidak.

Saya berikan perbandingan antara trekking di Thailand. Dalam tiga hari
dalam kondisi 'tidak layak' tadi saya disuguhi kehangatan penduduk
suku Lisu. Ketidak nyamanan itu 'terbayar' dengan kenangan manis yang
tak akan saya lupakan. Berapa biaya? silakan ditengok disini
http://www.chiangda o.com/nest/ natastrek. htm belum termasuk tambahan
transpor ke lokasi dan penginapan setelahnya.

Jika pemerintah hanya memberikan perhatian pada 'turis kaya' (ie
berduit memilih tempat yang "umum") itu juga cukup menggelikan, karena
terkadang bule miskin aja dikatagorikan kaya hanya karena ia bule.
Padahal pangsa pasar turis 'tak berduit' itu lebar banget, seperti
dari Malaysia, Singapura juga Vietnam. Apakah mereka kaya? wah saya
kira ya mereka ini samalah dengan kita, memanfaatkan free admin fee
dari Airasia atau Tiger Airways. Seorang uncle Ho -supir taksi di
Singapura bahkan ingin berlibur di Jogja setelah ada direct flight
Changi-Adisucipto.

Sebenarnya saya agak pesimis dengan pemerintah. Saya merasakan
keputus-asaan yang sama dengan teman-teman. Harapan saya, presiden
manapun yang terpilih bakal menyadari kekurangan ini. Kita punya
potensi tapi tidak menyadari, atau tidak tahu?

Terus-terang ada poin tersembunyi yang saya ingin capai. Yakni untuk
adik-adik yang memulai backpacking, terutama yang kuliah, sekolah atau
baru pengen mencicip. Mereka diberi kesempatan untuk melihat
negara/tempat lain, sebuah kesempatan yang langka. Saya berharap dari
perjalanan backpacking, akan melahirkan calon-calon birokrat di masa
datang yang lebih peduli dan punya visi kedepan. Apalagi jika mereka
mau mencoba 'ngere' merasakan kegetiran masyarakat bawah. Mungkin
menjadi tidak serakah, mungkin menjadi lebih bijak, mungkin menjadi
seorang peduli lingkungan. Mungkin meluaskan pandangan tentang
Indonesia, melihat dari luar, mencintai lebih dalam. Jadi jangan malu
posting catper yah?

Jika saya bermimpi semua orang jadi backpacker, wah bakalan ambruk
ekonomi. Betul, tidak semua orang bisa mengikuti backpacker yang
sesungguhnya. Setiap orang punya level sendiri-sendiri, dan itu saya
hormati. Ohya sedikit cerita, saya sendiri udah menikah dan malah
makin kenceng backpacking karena mantan pacar kebetulan berhobi yang
sama. Bagi saya, menikah dan (semoga) punya anak tidak akan mengganti
life style backpacking. Ada seorang kawan bilang, jika pengen tahan
sakit ya sering-seringlah keluar. Semakin menghadapi kondisi tak ramah
semakin terbangun antibodi. Nah cuman yang kayak gitu kan tidak
berlaku pada semua orang. He he he...

Backpacker hanya salah satu alternatif saja, yang lebih peduli pada
ecotourism, adventures dan cultural. Tapi bukan berarti orang yang
ngga backpacker juga ngga peduli. Semua kembali kepada kondisi fisik,
kemauan dan seberapa jauh keingin tahuan menjelajah dunia dan
Indonesia.

Salam,
Ambar B

2009/6/30 Yosephine Rima <bluewaterbeachgirl@ yahoo.com>:
> Mba Ambar
> Saya sendiri ga masalah dengan infrastruktur & transport yang seadanya
> karena memang disitulah keluar jiwa seninya seorang backpacker.
> Pernah menginap di gubug yang cuma dilapisin gedeg yang super tipis dengan
> kamar mandi terbuka dan cuma bermodalkan sarung dan malamnya hujan lagi!
> tapi semua dibawa senang hati karena yang berangkat rombongan nekad modal
> dan jiwa.
> Tapi masalahnya yang mau menikmati keindahan Indonesia yang bejibun kan ga
> hanya golongan backpacker aja.


















      

Kirim email ke