Mas Anas, Sari, Yosephine, Dani, Yuanz, Indra,  Tari,

Sebelumnya makasih bangets atas koreksi tentang World Heritage Sites di
Vietnam yang tercatat punya 5 buah, bukan nol seperti di email sebelumnya.
Buat temen2 yang pengen tahu daftar lengkapnya bisa dilihat disini
http://whc.unesco.org/en/list

Pertanyaan mudah : Apa sih yang membuat kita pengen mengunjungi sebuah
tempat? Duluuuu saya percaya bahwa infrastruktur adalah kunci utama. Kalau
ngga ada jalan, mana ada sih orang mo datang. Kalau ngga ada toilet mana ada
sih orang mo singgah.  Hingga kemudian saya mencoba backpacker, ke
tempat-tempat yang dianggap "tidak layak" tadi. Ada yang nyari transport aja
susah bukan main, apalagi tempat menginap.

Seorang kawan di kaki Merapi pernah menjawab ragu ketika saya usulkan
membuat jalur treking (ngga musti muncak). Tanyanya, "Trus mereka ini mau
diinepin dimana mbak?". Saya bilang, "Yah di tempat penduduk, dengan
fasilitas yang lebih baik". Dia masih sangsi, karena sebagian penduduk
disana, antara rumah dan kandang ternak terkadang menjadi satu.

Lantas saya cerita pengalaman saya trekking di Thailand Selatan, di Chiang
Do. Tiga hari trek itu, saya menginap di gubuk beratap jerami, dengan tempat
tidur beralas biasa. Karena dingin, cuma diberi sleeping bag tipis. Tidak
ada listrik, jadi hanya lilin. Tidak ada kendaraan, jadi dipesankan pick up
chevrolet dengan jalanan yang 'menyenangkan'.  Kelima kawan saya (semuanya
foreigners, dua dari Australia, dua dari Malaysia, dan satu Inggris)
menyatakan berbahagia dengan kondisi ini. Walau tak jauh dari situ ada
kandang babi dan kambing. Mereka tentu sudah 'diperingatkan' bahwa ini bukan
sembarang travelling.

Nah kembali ke infrastruktur. Siapa sih yang membutuhkan infrastruktur?
Apakah jalan yang mulus akan menjadi jaminan tempat itu laris manis. Atau
hotel dan kawasan menarik akan membuta pengunjung kesana?
Belajar dari mentalitas bangsa Asia (maaf kalau tersinggung), kita ini suka
membuat dan membangun hal yang baru, tetap lupa memelihara. Padahal
memelihara itu mungkin usahanya 10x dari membangun, karena membutuhkan
kesabaran, passion dan kesungguhan.

Kebanyakan infrastruktur pariwisata dibangun berdasar azas 'trickle down
effect' yakni dari yang punya duit turun ke lapisan bawah atau pelaku
wisata. Akibatnya begitu dibuatkan fasilitas, tidak ada yang merasa
mempunyai, terlebih mau memelihara. Kan itu tanggung jawab pemerintah,
mereka to yang bikin. Ngapain saya yang bersih2.

Beda dengan wisata di Bali misalnya. Tanpa mengurangi peran pemerintah, di
era awal pariwisata kebanyakan dilakukan oleh kawasan bawah dengan modal
seadanya. Tergiur berita keindahan Bali, para turis datang dan memilih
tinggal dengan penduduk. Lahirlah homestay, bed n breakfast atau hostel.

Sungguh sangat sulit meyakinkan pubilk Indonesia bahwa tanpa infratruktur
memadai-pun kita bisa. Bukannya menafikkan, tetapi itu bukanlah "the only
factor" yang membuat sebuah negara maju di bidang pariwisata. Lihatlah
Malaysia. Dibanding Indonesia, penginapan dan jalan disana bisa dibilang
ngga ada apa2. Tapi karena terkoneksi dengan baik dan merasa percaya diri
dengan asset mereka, toh dijual dengan mengesankan.

Karena itu kenapa ada backpacker, bukannya traveller. Karena mindset seorang
backpacker berbeda dengan traveller. Ia tidak mengharuskan transport yang
mapan, penginapan yang empuk atau makanan yang super lezat. Mereka adalah
orang2 yang bersedia menjadi bagian dari pangsa pasar yang berbeda dari
"ordinary tourist". Kita jadi bertanya, apakah memang kita bisa
dikatagorikan seperti itu? Jika tidak, berarti memang perpektif kita masih
seperti dulu, yang mengandalkan mass-market, bukannya untuk adventures,
ecotourism dan cultural yang lebih ke small group dan personal.

Karena itu saya salut banget dengan upaya daerah yang mengeliat, mencoba
memberikan wacana baru. Seperti Jember dan Blitar misalnya. Siapa sih yang
mau kesana tiga tahun silam?  Ibarat orang jualan soto klethak di Bantul,
biarpun kudu masuk kampung, jalanan jelek tetep mau datang.

Mas Anas : salut dengan blog kalimantan-nya, semoga makin rajin posting
tentang potensi daerah. Ngga perlu malu, ngga perlu minder. Seperti Pak
Petrus di Ujung Genteng, yang akhirnya membujuk orang untuk datang.

Salam,
Ambar B


2009/6/29 Indra Btara <[email protected]>

>
>
>
> mempromosikan dengan serius.
>
> Pengen banget usul kalo bisa fokus pada beberapa hal dulu, jangan sekaligus
> membangun seluruh tempat wisata.
> Misal 2-3 tahun depan kita fokus ke world heritage (seperti yang Mba Ambar
> bilang ada 7). Promosiin itu abis-abisan, perbaiki infrastruktur di 7 area
> tersebut, permudah penerbangan ke 7 area tersebut, persiapkan mental
> masyarakat di area tersebut, dll. Soalnya kalau terlalu banyak yang mau kita
> promosiin jadinya masing2 dipromo tapi kecil-kecil, nanggung.
> Giliran wisata budaya, di beberapa tahun ke depan. Pilih beberapa budaya
> yang layak kita jual. Kesannya pilih kasih, tapi kita perlu fokus dulu. Kalo
> sudah banyak yang datang toh nantinya mereka juga akan tahu bahwa masih
> banyak pilihan mereka.
>
>

Kirim email ke