Dear all,

Mari kita pilih Mba Ambar sebagai menteri pariwisata.... :)
(berangan-angan suatu hari ada mentri yang muncul dari IBP... yuukk)

Teteep pengen ikut komentar lagi.

Pengen coba lihat dari sisi marketing (saya bukan ahli jadi maaf kalo
salah).
Kalau kita posisikan tempat wisata sebagai sebuah produk yang mau kita
pasarin.
Pasti akan kita lihat apa core competence dari produk itu, siapa target
pasar yang mau dituju, dengan segmentasi, targeting dll. Lalu produk
tersebut kita sesuaikan dengan kebutuhan target pasar tersebut.
Nah disini kan kelihatan bahwa siapa pasar dari suatu tempat wisata. Turis
lokal, turis lokal berduit, turis bule, turis asia, backpacker, pencinta
adventure, ecotourism dll.
Tentunya tidak pasti bahwa saat kita tuju satu pasar tertentu, pasar yang
lain ga boleh dateng, tetep boleh dong, tapi kita kan tetep fokus untuk
memasarkannya.
Misal Borobudur. Ini target pasarnya luas banget dan pasarnya udah
established. Tapi saat kita mau memasarkan ke target pasar baru, misal turis
berduit dari Eropa. Berarti kita harus mengembangkan fasilitas dan
memasarkan sesuai dengan target pasar baru tersebut.

Trus kalau Orang utan di Kalimantan. Pasarnya adalah orang-orang yang sangat
mencintai lingkungan, peduli kelestarian alam, dan tidak keberatan dengan
tinggal di rumah penduduk, bikin tenda dihutan dll. Tentu tidak perlu kita
buat hotel berbintang lima. Nilai adventure dan lingkungannya akan berubah
sama sekali. Tapi tetap kita bisa jual dengan cara yang lain. Buat paket
yang memudahkan wisatawan untuk datang dan guide yang jelas dan bertanggung
jawab.
Di Afrika, di salah satu taman nasionalnya yang pernah saya baca (belum bisa
kesana sih... hehe), mereka buat penginapan-penginapan yang jenisnya seperti
rumah tradisional atau tenda-tenda besar yang isi dan pelayanannya bintang
5, tanpa meninggalkan unsur lingkungan dan adventure-nya. Dan dijual mahal
sekali paket wisatanya.

Artinya tidak setiap tempat wisata bisa kita perlakukan sama dalam
pengembangannya, ada kekuatan produknya sendiri, target pasar yang dituju,
lingkungan, masyarakat sekitar serta kebijakan pemerintah sendiri.
Dan salah satu unsur yang kuat adalah marketing. Bisa melalui word of mouth
seperti yang dilakukan lewat IBP saat ini, bisa dengan iklan-iklan yang
dilakukan oleh malaysia secara besar-besaran. Walaupun produk berkualitas
akhirnya yang akan lebih diminati orang. Tapi kan tetep bagaimana turis mau
datang kalau sama sekali engga tahu tentang tempat wisata kita.

Toh kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan informasi, transportasi,
paket-paket perjalanan yang ditawarkan (baik yang naik-naik gunung atau
sekedar jalan-jalan dikota) semua memegang peranan penting yang membuat
wisatawan akhirnya memutuskan untuk berkunjung. Tentu dengan tujuannya
masing-masing.

Infrastruktur dan transportasi? Penting pastinya. Kunjungan ke bandung
meningkat tajam dari malaysia gara-gara Air Asia. Kita-kita juga jadi hobi
ke phi phi kalo mau cari pantai, karena bisa lebih murah dari pada ke
lombok.

Keterlbatan dan mental masyarakat? Penting banget. Mereka harus merasa
dilibatkan dan diuntungkan dengan adanya wisata. dan jangan sampai
turis-turis merasa tertipu dan kecewa sama perilaku masyarakat yang memaksa
dan mencoba ambil untung setinggi-tingginya. Jadi bad marketing. Mereka ga
sadar pada akhirnya itu merugikan mereka sendiri.

Duh kayanya mulai ngelantur nih. Maaf kalo aga ga jelas dan kemana mana.

Tujuan akhirnya sih sama seperti semua, berharap wisata di indonesia maju.

Thanks semua.
Indra



On 7/2/09, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote:
>
>
>
> Mas Anas, Yosephina, Erika, Diesty, Adi
>
> Sengaja saya memberikan contoh ektrem tentang infrastruktur karena
> ingin menegaskan bahwa jika kita menunggu infrastruktur dibangun dulu
> baru membangun citra dan imej, rasanya sudah terlambat beberapa
> langkah. Saya percaya infrastruktur itu bisa mengikuti asalkan kita
> membangun dengan mendengarkan nilai lokal. Poin yang saya ingin
> sampaikan, janganlah kita menunggu infrastruktur dengan tidak
> melakukan apa-apa. Atau kita menjadi backpacker yang 'manja'. Bukankan
> ada tantangan tersendiri mencobai sesuatu yang susah, unknown, dan
> terkadang membuat keingin tahuan makin besar?
>
> Poin lain adalah seorang backpacker itu tidak musti kere. Ada nilai
> etika yang saya pegang, yakni jika kita melakukan backpacking atau
> kegiatan adventures, saya berusaha uang yang saya bayar dirasakan oleh
> penduduk tanpa melalui beberapa tangan di tengah. Biarpun mahal, jika
> uang itu adalah untuk yang saya tinggali, no problem. Jadi maaf buat
> yang selalu mengatakan backpacker itu selalu murah. Sekali lagi saya
> tegaskan tidak.
>
> Saya berikan perbandingan antara trekking di Thailand. Dalam tiga hari
> dalam kondisi 'tidak layak' tadi saya disuguhi kehangatan penduduk
> suku Lisu. Ketidak nyamanan itu 'terbayar' dengan kenangan manis yang
> tak akan saya lupakan. Berapa biaya? silakan ditengok disini
> http://www.chiangdao.com/nest/natastrek.htm belum termasuk tambahan
> transpor ke lokasi dan penginapan setelahnya.
>
> Jika pemerintah hanya memberikan perhatian pada 'turis kaya' (ie
> berduit memilih tempat yang "umum") itu juga cukup menggelikan, karena
> terkadang bule miskin aja dikatagorikan kaya hanya karena ia bule.
> Padahal pangsa pasar turis 'tak berduit' itu lebar banget, seperti
> dari Malaysia, Singapura juga Vietnam. Apakah mereka kaya? wah saya
> kira ya mereka ini samalah dengan kita, memanfaatkan free admin fee
> dari Airasia atau Tiger Airways. Seorang uncle Ho -supir taksi di
> Singapura bahkan ingin berlibur di Jogja setelah ada direct flight
> Changi-Adisucipto.
>
> Sebenarnya saya agak pesimis dengan pemerintah. Saya merasakan
> keputus-asaan yang sama dengan teman-teman. Harapan saya, presiden
> manapun yang terpilih bakal menyadari kekurangan ini. Kita punya
> potensi tapi tidak menyadari, atau tidak tahu?
>
> Terus-terang ada poin tersembunyi yang saya ingin capai. Yakni untuk
> adik-adik yang memulai backpacking, terutama yang kuliah, sekolah atau
> baru pengen mencicip. Mereka diberi kesempatan untuk melihat
> negara/tempat lain, sebuah kesempatan yang langka. Saya berharap dari
> perjalanan backpacking, akan melahirkan calon-calon birokrat di masa
> datang yang lebih peduli dan punya visi kedepan. Apalagi jika mereka
> mau mencoba 'ngere' merasakan kegetiran masyarakat bawah. Mungkin
> menjadi tidak serakah, mungkin menjadi lebih bijak, mungkin menjadi
> seorang peduli lingkungan. Mungkin meluaskan pandangan tentang
> Indonesia, melihat dari luar, mencintai lebih dalam. Jadi jangan malu
> posting catper yah?
>
> Jika saya bermimpi semua orang jadi backpacker, wah bakalan ambruk
> ekonomi. Betul, tidak semua orang bisa mengikuti backpacker yang
> sesungguhnya. Setiap orang punya level sendiri-sendiri, dan itu saya
> hormati. Ohya sedikit cerita, saya sendiri udah menikah dan malah
> makin kenceng backpacking karena mantan pacar kebetulan berhobi yang
> sama. Bagi saya, menikah dan (semoga) punya anak tidak akan mengganti
> life style backpacking. Ada seorang kawan bilang, jika pengen tahan
> sakit ya sering-seringlah keluar. Semakin menghadapi kondisi tak ramah
> semakin terbangun antibodi. Nah cuman yang kayak gitu kan tidak
> berlaku pada semua orang. He he he...
>
> Backpacker hanya salah satu alternatif saja, yang lebih peduli pada
> ecotourism, adventures dan cultural. Tapi bukan berarti orang yang
> ngga backpacker juga ngga peduli. Semua kembali kepada kondisi fisik,
> kemauan dan seberapa jauh keingin tahuan menjelajah dunia dan
> Indonesia.
>
> Salam,
> Ambar B
>
> 2009/6/30 Yosephine Rima 
> <[email protected]<bluewaterbeachgirl%40yahoo.com>
> >:
> > Mba Ambar
> > Saya sendiri ga masalah dengan infrastruktur & transport yang seadanya
> > karena memang disitulah keluar jiwa seninya seorang backpacker.
> > Pernah menginap di gubug yang cuma dilapisin gedeg yang super tipis
> dengan
> > kamar mandi terbuka dan cuma bermodalkan sarung dan malamnya hujan lagi!
> > tapi semua dibawa senang hati karena yang berangkat rombongan nekad modal
> > dan jiwa.
> > Tapi masalahnya yang mau menikmati keindahan Indonesia yang bejibun kan
> ga
> > hanya golongan backpacker aja.
> 
>

Kirim email ke