Cintia, pertanyaan yang sangat bagus. Saya sendiri dulu agak skeptik dengan Unesco untuk urusan Warisan Dunia (World Heritage) ini. Tapi setelah saya gauli, kok sedikit membuka mata tentang apa sebenarnya yang terjadi dalam khasanah kebudayaan kita.
Ohya cukup menarik karena Warisan Dunia adalah ditangani oleh Unesco (the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), yaitu badan Persatuan Bangsa-Bangsa yang mengurusi masalah pendidikan, sains dan budaya. Tahun 1972 Unesco mengadkan konvensi dan menyetujui untuk menghimpun dana bersama bagi pemeliharaan situs2 bersejarah dan mempunyai nilai tinggi bagi peradaban manusia. Dana World Heritage ada dua macam yakni World Heritage Fund dan Fund in Trust. Untuk yang pertama adalah dana senilai US$4 juta didapat dari iuran dan tarikan (bersifat wajib ataupun tidak wajib bergantung statusnya) dari negara yang ikut serta plus dana dari bantuan pribadi (berupa donatur yang bisa dilakukan langsung di web). Dana diatas digunakan untuk memberikan 'bantuan internasional' bagi situs budaya ataupun alam yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia. Daftar Warisan Dunia Kondisi Berbahaya atau daftar Pilihan Warisan Budaya (belum berstatus penuh tapi udah diajukan oleh pemerintah ybs). Berupa US$30,000 untuk tahap persiapan, konservasi dan edukasi ($US10,000 khusus untuk promosi), dan bantuan darurat (jika situs itu perlu dilindungi segera, misalnya dalam wilayah konflik perang seperti Iraq atau Afghanistan). Fund in Trust adalah dana bantuan dari negara tertentu untuk proyek tertentu yang disalurkan lewat Unesco. Misalnya : France-Unesco adalah kerjasama bentuk teknis dan finansial dari pemerintah Perancis baik dana dan tenaga ahli pada situs tertentu termasuk membantu maintanance. (misalnya Angkor Wat). Betul memang negara yang masuk daftar Konvensi Warisan Dunia 1972 itu dimintai iuran pertahun, tetapi negara2 juga mendapatkan bantuan internasional. Contohnya adalah Borobudur. Jika teman-teman masih ingat Borobudur dan Prambanan era tahun 70an, bentuknya tidak seutuh sekarang. Tetapi berserarakan bebatuan. (Kalau sempat melihat museum di Prambanan, ada sebuah photo ketika ditemukan pertama oleh geolog Belanda). Tenaga ahli didatangkan untuk mem'bangun' kembali dua situs itu berikut dokumentasi. Dalam hal ini saya melihat hubungan negara kita dengan Unesco Warisan Dunia sebagai mutualism, sama-sama menguntungkan. Kita butuh tenaga ahli dan tehnologi sekaligus dana, juga kita dibuat bertanggung jawab terhadap situs alam dan budaya yang ditinggalkan di negara kita. Salah satu contoh klasik pengabaian budaya dunia adalah situs Bamiyan di Afghanistan. Disini di era Taliban, situs patung Buddha raksasa dihancurkan karena dianggap bukan budaya Afghanistan. Walaupun beribu tahun yang silam Afghanistan adalah negara Buddha dan pencampuran dengan China dan Romawi. Mirip dengan Borobudur bukan? Keuntungan lainnya adalah kita diberikan promosi gratis dan bantuan pengelolaan. Borobudur saat ini udah tahap mandiri, sedangkan masih banyak situs-situs di tanah air yang potensial ataupun masuk dalam daftar Pilihan Warisan Dunia (Tentative List-daftarnya udah pernah saya posting di milis). Jadi semacam bola bergulir. Jadi ibarat membesarkan anak. Dimulai dari memberikan bantuan kemudian diharuskan mandiri untuk selanjutnya. Well, jika mikir hanya Borobudur, lantas bagaimana dengan situs yang lain? Salam, ambar penyuka situs warisan dunia --- In [email protected], "Cintia Devi" <cin...@...> wrote: > > Teman-teman IBP semuanya, > > Saya penasaran aja dengan pertanyaan diatas. Mungkin teman2 bisa memberi > pencerahan. > > Selain popularitas yg didpt oleh suatu situs bersejarah, apakah ada yg > lain, mungkin dana pemeliharaan? > > Kemarin sempat Tanya kepada guide di borobudur, katanya pemeliharaan > borobudur itu full oleh pemerintah kita. Malah kita yg harus setor ke > Unesco.Apakah benar begitu ya? Kalo iya, apa untungnya donk ya? > > Thanks semuanya. > > > > Salam, > > > > > > Cintia > > >
