Menarik apa yang diungkapkan oleh Mba Ambar..
Tapi boleh saya berbeda pendapat perihal kalimat2 di bawah ini:

"Salah satu contoh klasik pengabaian budaya dunia adalah situs Bamiyan
di Afghanistan. Disini di era Taliban, situs patung Buddha raksasa
dihancurkan karena dianggap bukan budaya Afghanistan. Walaupun beribu
tahun yang silam Afghanistan adalah negara Buddha dan pencampuran
dengan China dan Romawi. Mirip dengan Borobudur bukan?..."

Sebetulnya kalo membaca sejarahnya, Taliban menghancurkan museum dan situs2 
peradaban masa lalu karena marah terhadap Dunia dan Unesco. Di mana pada saat 
itu anak2, kaum perempuan dan orang tua dibiarkan meninggal kekurangan obat 
(karena embargo), tapi Unesco sendiri malah sibuk 'menyelamatkan/restorasi 
benda2 sejarah masa lalu"...Jadi wajar saja orang afghanistan marah terhadap 
dunia dan menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai 'berhala-berhala dunia' 
karena dianggap lebih penting dari nyawa orang2 afghanistan..

Demikian seingat saya press release dari pemerintah taliban pada saat itu (thn 
2003-an kalo gk salah) berkaitan dengan penghancuran artefak2 sejarah pada masa 
pemerintahan Taliban sekitar ...Jadi tidak ada urusannya dengan soal 
peninggalan agama non islam dlsbnya, karena pada saat itu hampir semuanya 
benda2 sejarah dirusak sebagai tanda protes thdp dunia yang telah bersikap 
tidak adil thdp mereka...(Menurut saya, ini sesuatu respon yang wajar dr 
masyarakat manapun di dunia jika mengalami 'penderitaan' spt itu, bukan karena 
kebencian terhadap agama lain)

Mohon maaf, saya tidak bermaksud mempolitisir, hanya sekedar membagikan apa 
yang saya ketahui...
Wallahu alam.. Kebenaran hanya Tuhan yang tau..

Salam


 Rakaryan





________________________________
From: ambar.briastuti <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, August 31, 2009 7:48:08 PM
Subject: [indobackpacker] Re: Apa untungnya diakui warisan dunia oleh Unesco??

  
Cintia, pertanyaan yang sangat bagus. Saya sendiri dulu agak skeptik dengan 
Unesco untuk urusan Warisan Dunia (World Heritage) ini. Tapi setelah saya 
gauli, kok sedikit membuka mata tentang apa sebenarnya yang terjadi dalam 
khasanah kebudayaan kita.

Ohya cukup menarik karena Warisan Dunia adalah ditangani oleh Unesco (the 
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) , yaitu badan 
Persatuan Bangsa-Bangsa yang mengurusi masalah pendidikan, sains dan budaya. 
Tahun 1972 Unesco mengadkan konvensi dan menyetujui untuk menghimpun dana 
bersama bagi pemeliharaan situs2 bersejarah dan mempunyai nilai tinggi bagi 
peradaban manusia. 

Dana World Heritage ada dua macam yakni World Heritage Fund dan Fund in Trust. 
Untuk yang pertama adalah dana senilai US$4 juta didapat dari iuran dan tarikan 
(bersifat wajib ataupun tidak wajib bergantung statusnya) dari negara yang ikut 
serta plus dana dari bantuan pribadi (berupa donatur yang bisa dilakukan 
langsung di web). 

Dana diatas digunakan untuk memberikan 'bantuan internasional' bagi situs 
budaya ataupun alam yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia. Daftar Warisan Dunia 
Kondisi Berbahaya atau daftar Pilihan Warisan Budaya (belum berstatus penuh 
tapi udah diajukan oleh pemerintah ybs). Berupa US$30,000 untuk tahap 
persiapan, konservasi dan edukasi ($US10,000 khusus untuk promosi), dan bantuan 
darurat (jika situs itu perlu dilindungi segera, misalnya dalam wilayah konflik 
perang seperti Iraq atau Afghanistan) . 

Fund in Trust adalah dana bantuan dari negara tertentu untuk proyek tertentu 
yang disalurkan lewat Unesco. Misalnya : France-Unesco adalah kerjasama bentuk 
teknis dan finansial dari pemerintah Perancis baik dana dan tenaga ahli pada 
situs tertentu termasuk membantu maintanance. (misalnya Angkor Wat).

Betul memang negara yang masuk daftar Konvensi Warisan Dunia 1972 itu dimintai 
iuran pertahun, tetapi negara2 juga mendapatkan bantuan internasional. 
Contohnya adalah Borobudur. Jika teman-teman masih ingat Borobudur dan 
Prambanan era tahun 70an, bentuknya tidak seutuh sekarang. Tetapi berserarakan 
bebatuan. (Kalau sempat melihat museum di Prambanan, ada sebuah photo ketika 
ditemukan pertama oleh geolog Belanda).  Tenaga ahli didatangkan untuk 
mem'bangun' kembali dua situs itu berikut dokumentasi. 

Dalam hal ini saya melihat hubungan negara kita dengan Unesco Warisan Dunia 
sebagai mutualism, sama-sama menguntungkan. Kita butuh tenaga ahli dan 
tehnologi sekaligus dana, juga kita dibuat bertanggung jawab terhadap situs 
alam dan budaya yang ditinggalkan di negara kita.

Salah satu contoh klasik pengabaian budaya dunia adalah situs Bamiyan di 
Afghanistan. Disini di era Taliban, situs patung Buddha raksasa dihancurkan 
karena dianggap bukan budaya Afghanistan. Walaupun beribu tahun yang silam 
Afghanistan adalah negara Buddha dan pencampuran dengan China dan Romawi. Mirip 
dengan Borobudur bukan?

Keuntungan lainnya adalah kita diberikan promosi gratis dan bantuan 
pengelolaan. Borobudur saat ini udah tahap mandiri, sedangkan masih banyak 
situs-situs di tanah air yang potensial ataupun masuk dalam daftar Pilihan 
Warisan Dunia (Tentative List-daftarnya udah pernah saya posting di milis). 
Jadi semacam bola bergulir. 

Jadi ibarat membesarkan anak. Dimulai dari memberikan bantuan kemudian 
diharuskan mandiri untuk selanjutnya. Well, jika mikir hanya Borobudur, lantas 
bagaimana dengan situs yang lain?

Salam,
ambar
penyuka situs warisan dunia

--- In indobackpacker@ yahoogroups. com, "Cintia Devi" <cin...@...> wrote:
>
> Teman-teman IBP semuanya,
> 
> Saya penasaran aja dengan pertanyaan diatas. Mungkin teman2 bisa memberi
> pencerahan.
> 
> Selain popularitas yg didpt oleh suatu situs bersejarah, apakah ada yg
> lain, mungkin dana pemeliharaan?
> 
> Kemarin sempat Tanya kepada guide di borobudur, katanya pemeliharaan
> borobudur itu full oleh pemerintah kita. Malah kita yg harus setor ke
> Unesco.Apakah benar begitu ya? Kalo iya, apa untungnya donk ya?
> 
> Thanks semuanya.
> 
> 
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> 
> 
> Cintia
> 
> 
> 


   


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke