Terimakasih atas perhatiannya bung Rudy...
Berbeda pendapat itu wajar..selalu ada 2 sisi dari satu mata uang... Pihak taliban memang susah dianggap sebagai pihak kredibel (pada saat itu, juga sampai sekarang), itu semua bisa jadi kr propaganda media luar dan negara2 lainnya yg punya kepentingan tertentu thdp Afghanistan.. Kalo mau jujur, sebetulnya pada saat itu pihak Taliban telah berhasil membangun pemerintahan yg baik...1..mereka berhasil menghapus ladang opium di seluruh afghanistan (yg telah ratusan tahun tidak pernah bisa dihapuskan dr bumi afghanistan); 2. melucuti semua senjata dr milisia sisa perang dgn Rusia (Gun for Cash, yg sebelumnya tidak pernah berhasil dan selalu menciptakan instabilitas di kawasan tsb) 3. menegakan hukum dan aturan (karena sebelumnya lawless, penculikan perempuan, anak2 dan perang antar suku selepas chaos akibat perang dgn Rusia) Banyak yang bisa saya ungkapkan tapi saya khawatir bukan di sini tempatnya dan bakal jadi polemik yang tidak pernah selesai. Soal Unesco, Unicef, UNCHR, WHO dllnya mereka semua adalah organisasi di bawah naungan PBB, tentunya apa yg dilakukan adalah untuk mencari perhatian dunia/UN...mudah2an anda memahami logika ini dan tidak terus bingung... Yang saya kemukakan sebelumnya adalah kenyataan, barangkali bisa berguna bagi para traveller dalam menggali informasi ttg kondisi sosioligis yang terjadi di Afghanistan pada brp tahun yg lalu dan apa yg sebenarnya terjadi di sana.. Intinya, jadi pelajaran spy jangan terlalu mudah menghakimi dan menggeneralisasi atas suatu kejadian..Berempati (trying to be in their shoes), lebih baik daripada sekedar skeptis atau bersifat negatif terhadap pihak lain.. Salam Rakaryan ________________________________ From: Rudy Darwin <[email protected]> To: Rakaryan <[email protected]>; [email protected]; ambar.briastuti <[email protected]> Sent: Monday, August 31, 2009 9:56:06 PM Subject: Re: [indobackpacker] Re: Apa untungnya diakui warisan dunia oleh Unesco?? Press release memang gampang menyesatkan. Terus-terang dgn background di media dulu, saya tidak pernah bisa mempercayai press release begitu aja apalagi yg dikeluarkan pemerintah suatu negara. Yg menambah bingung adlh seharusnya dari awal sdh tau kalo UNESCO kan bkn bergerak di bidang pemberian bantuan dana kemanusiaan, msh ada UNICEF dll. Saya msh ingat waktu itu byk sekali yg mau membeli patung tsb tetapi tetap saja dihancurkan. Sayang sekali nilai sejarah akhirnya dihancurkan krn emosi sesaat. Anyway, yg sdh berlalu biarlah berlalu. Semoga kita bisa mempertahankan peninggalan2 yg ada di negara kita termasuk tentunya budaya. Hari ini Kompas mengangkat lumayan byk budaya kita yg diklaim tetangga. Wow... Tapi setidaknya itu menunjukkan msh byk yg hrs dilakukan. Sori jd ngelantur... This mail is sent by Rudy® from mobile device ________________________________ From: Rakaryan Date: Mon, 31 Aug 2009 06:46:28 -0700 (PDT) To: ambar.briastuti<[email protected]>; <[email protected]> Subject: Re: [indobackpacker] Re: Apa untungnya diakui warisan dunia oleh Unesco?? Menarik apa yang diungkapkan oleh Mba Ambar.. Tapi boleh saya berbeda pendapat perihal kalimat2 di bawah ini: "Salah satu contoh klasik pengabaian budaya dunia adalah situs Bamiyan di Afghanistan. Disini di era Taliban, situs patung Buddha raksasa dihancurkan karena dianggap bukan budaya Afghanistan. Walaupun beribu tahun yang silam Afghanistan adalah negara Buddha dan pencampuran dengan China dan Romawi. Mirip dengan Borobudur bukan?..." Sebetulnya kalo membaca sejarahnya, Taliban menghancurkan museum dan situs2 peradaban masa lalu karena marah terhadap Dunia dan Unesco. Di mana pada saat itu anak2, kaum perempuan dan orang tua dibiarkan meninggal kekurangan obat (karena embargo), tapi Unesco sendiri malah sibuk 'menyelamatkan/ restorasi benda2 sejarah masa lalu"...Jadi wajar saja orang afghanistan marah terhadap dunia dan menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai 'berhala-berhala dunia' karena dianggap lebih penting dari nyawa orang2 afghanistan. . Demikian seingat saya press release dari pemerintah taliban pada saat itu (thn 2003-an kalo gk salah) berkaitan dengan penghancuran artefak2 sejarah pada masa pemerintahan Taliban sekitar ...Jadi tidak ada urusannya dengan soal peninggalan agama non islam dlsbnya, karena pada saat itu hampir semuanya benda2 sejarah dirusak sebagai tanda protes thdp dunia yang telah bersikap tidak adil thdp mereka...(Menurut saya, ini sesuatu respon yang wajar dr masyarakat manapun di dunia jika mengalami 'penderitaan' spt itu, bukan karena kebencian terhadap agama lain) Mohon maaf, saya tidak bermaksud mempolitisir, hanya sekedar membagikan apa yang saya ketahui... Wallahu alam.. Kebenaran hanya Tuhan yang tau.. Salam Rakaryan ____________ _________ _________ __ From: ambar.briastuti <ambar.briastuti@ gmail.com> To: indobackpacker@ yahoogroups. com Sent: Monday, August 31, 2009 7:48:08 PM Subject: [indobackpacker] Re: Apa untungnya diakui warisan dunia oleh Unesco?? Cintia, pertanyaan yang sangat bagus. Saya sendiri dulu agak skeptik dengan Unesco untuk urusan Warisan Dunia (World Heritage) ini. Tapi setelah saya gauli, kok sedikit membuka mata tentang apa sebenarnya yang terjadi dalam khasanah kebudayaan kita. Ohya cukup menarik karena Warisan Dunia adalah ditangani oleh Unesco (the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) , yaitu badan Persatuan Bangsa-Bangsa yang mengurusi masalah pendidikan, sains dan budaya. Tahun 1972 Unesco mengadkan konvensi dan menyetujui untuk menghimpun dana bersama bagi pemeliharaan situs2 bersejarah dan mempunyai nilai tinggi bagi peradaban manusia. Dana World Heritage ada dua macam yakni World Heritage Fund dan Fund in Trust. Untuk yang pertama adalah dana senilai US$4 juta didapat dari iuran dan tarikan (bersifat wajib ataupun tidak wajib bergantung statusnya) dari negara yang ikut serta plus dana dari bantuan pribadi (berupa donatur yang bisa dilakukan langsung di web). Dana diatas digunakan untuk memberikan 'bantuan internasional' bagi situs budaya ataupun alam yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia. Daftar Warisan Dunia Kondisi Berbahaya atau daftar Pilihan Warisan Budaya (belum berstatus penuh tapi udah diajukan oleh pemerintah ybs). Berupa US$30,000 untuk tahap persiapan, konservasi dan edukasi ($US10,000 khusus untuk promosi), dan bantuan darurat (jika situs itu perlu dilindungi segera, misalnya dalam wilayah konflik perang seperti Iraq atau Afghanistan) . Fund in Trust adalah dana bantuan dari negara tertentu untuk proyek tertentu yang disalurkan lewat Unesco. Misalnya : France-Unesco adalah kerjasama bentuk teknis dan finansial dari pemerintah Perancis baik dana dan tenaga ahli pada situs tertentu termasuk membantu maintanance. (misalnya Angkor Wat). Betul memang negara yang masuk daftar Konvensi Warisan Dunia 1972 itu dimintai iuran pertahun, tetapi negara2 juga mendapatkan bantuan internasional. Contohnya adalah Borobudur. Jika teman-teman masih ingat Borobudur dan Prambanan era tahun 70an, bentuknya tidak seutuh sekarang. Tetapi berserarakan bebatuan. (Kalau sempat melihat museum di Prambanan, ada sebuah photo ketika ditemukan pertama oleh geolog Belanda). Tenaga ahli didatangkan untuk mem'bangun' kembali dua situs itu berikut dokumentasi. Dalam hal ini saya melihat hubungan negara kita dengan Unesco Warisan Dunia sebagai mutualism, sama-sama menguntungkan. Kita butuh tenaga ahli dan tehnologi sekaligus dana, juga kita dibuat bertanggung jawab terhadap situs alam dan budaya yang ditinggalkan di negara kita. Salah satu contoh klasik pengabaian budaya dunia adalah situs Bamiyan di Afghanistan. Disini di era Taliban, situs patung Buddha raksasa dihancurkan karena dianggap bukan budaya Afghanistan. Walaupun beribu tahun yang silam Afghanistan adalah negara Buddha dan pencampuran dengan China dan Romawi. Mirip dengan Borobudur bukan? Keuntungan lainnya adalah kita diberikan promosi gratis dan bantuan pengelolaan. Borobudur saat ini udah tahap mandiri, sedangkan masih banyak situs-situs di tanah air yang potensial ataupun masuk dalam daftar Pilihan Warisan Dunia (Tentative List-daftarnya udah pernah saya posting di milis). Jadi semacam bola bergulir. Jadi ibarat membesarkan anak. Dimulai dari memberikan bantuan kemudian diharuskan mandiri untuk selanjutnya. Well, jika mikir hanya Borobudur, lantas bagaimana dengan situs yang lain? Salam, ambar penyuka situs warisan dunia --- In indobackpacker@ yahoogroups. com, "Cintia Devi" <cin...@...> wrote: > > Teman-teman IBP semuanya, > > Saya penasaran aja dengan pertanyaan diatas. Mungkin teman2 bisa memberi > pencerahan. > > Selain popularitas yg didpt oleh suatu situs bersejarah, apakah ada yg > lain, mungkin dana pemeliharaan? > > Kemarin sempat Tanya kepada guide di borobudur, katanya pemeliharaan > borobudur itu full oleh pemerintah kita. Malah kita yg harus setor ke > Unesco.Apakah benar begitu ya? Kalo iya, apa untungnya donk ya? > > Thanks semuanya. > > > > Salam, > > > > > > Cintia > > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
