Maaf sebelum pembicaraan tentang Warisan Dunia ini bergeser ke masalah agama 
(saya tidak menyinggung agama apapun kecuali hanya menginformasikan bahwa 
negara Afghanistan dahulu dipengaruhi Buddha dan Romawi, sama halnya dengan 
Indonesia yang secara kebetulan mempunyai sejarah Buddha & Hindu). Tentang 
Taliban dsb, terlepas dari alasan apapun, perusakan situs budaya oleh siapapun 
dimanapun adalah kejahatan dan juga pengingkaran atas eksistensi peradaban 
manusia terdahulu. (well, jika ditilik sejarah lebih jauh para geolog dulu 
harus berpacu dengan para pencuri barang kuno, sama seperti yang terjadi di 
Indonesia ataupun di belahan bumi lainnya).

Apa yang kita lihat sekarang (now, present) adalah buah dari peradaban manusia 
sebelumnya. Ribuan tahun silam. Entahlah itu berupa tehnologi ataupun bangunan. 

Setahun yang lalu saya nonton pameran eksibisi Hidden Treasures From National 
Museum Kabul yang diselenggarakan oleh National Geographic di museum Asian Art 
di San Francisco. Luar biasa upaya para pekerja museum untuk menyembunyikan 
peninggalan nenek moyang mereka dari konflik dan jarahan orang tak bertanggung 
jawab. 

Salah satu koleksi yang membikin saya terbelalak adalah mahkota dan perhiasan 
dari emas yang begitu cantik peninggalan suku-suku Afghanistan terdahulu (kalau 
bicara Afghan, banyak sekali suku-suku disana dan sebagian masih menganut 
animisme/dinamisme). Peninggalan emas itu disembunyikan dalam sebuah kotak oleh 
staf museum. Isu membilang artifak itu dijual ataupun digunakan untuk membeli 
senjata. Sampai 2003 ketika situasi membaik pemerintah Afghan mencari dan 
membuka kembali koleksi indah tsb.

Masalah budaya itu sangat kompleks, apalagi jika situs itu dalam wilayah 
konflik. Karena itu melindungi artifak itu bersifat darurat. Seorang yang 
peduli akan lebih memilih melindungi ketimbang bersinggungan dengan kekinian 
yang bersifat politik. 

Jadi mohon sekali lagi, lihat lebih mendalam terutama sejarah dan latar 
belakang negara tertentu. Seperti Iraq sekarang, komunitas arkeologi dunia 
sangat peduli pada peninggalan situs disana. Iraq dahulu adalah sebuah 
peradaban besar Mesopotamia yang pusatnya bernama Babylon (300tahun sebelum 
masehi). 

Salam,
ambar



PS: buat temen-temen yang mau melihat video dan photo2 koleksi Afghanistan 
ribuan tahun yang silam silakan dilihat di 
http://www.nationalgeographic.com/mission/afghanistan-treasures/index.html



--- In [email protected], Rakaryan <rakar...@...> wrote:
>
> Menarik apa yang diungkapkan oleh Mba Ambar..
> Tapi boleh saya berbeda pendapat perihal kalimat2 di bawah ini:
> 
> "Salah satu contoh klasik pengabaian budaya dunia adalah situs Bamiyan
> di Afghanistan. Disini di era Taliban, situs patung Buddha raksasa
> dihancurkan karena dianggap bukan budaya Afghanistan. Walaupun beribu
> tahun yang silam Afghanistan adalah negara Buddha dan pencampuran
> dengan China dan Romawi. Mirip dengan Borobudur bukan?..."
> 
> Sebetulnya kalo membaca sejarahnya, Taliban menghancurkan museum dan situs2 
> peradaban masa lalu karena marah terhadap Dunia dan Unesco. Di mana pada saat 
> itu anak2, kaum perempuan dan orang tua dibiarkan meninggal kekurangan obat 
> (karena embargo), tapi Unesco sendiri malah sibuk 'menyelamatkan/restorasi 
> benda2 sejarah masa lalu"...Jadi wajar saja orang afghanistan marah terhadap 
> dunia dan menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai 'berhala-berhala 
> dunia' karena dianggap lebih penting dari nyawa orang2 afghanistan..
> 
> Demikian seingat saya press release dari pemerintah taliban pada saat itu 
> (thn 2003-an kalo gk salah) berkaitan dengan penghancuran artefak2 sejarah 
> pada masa pemerintahan Taliban sekitar ...Jadi tidak ada urusannya dengan 
> soal peninggalan agama non islam dlsbnya, karena pada saat itu hampir 
> semuanya benda2 sejarah dirusak sebagai tanda protes thdp dunia yang telah 
> bersikap tidak adil thdp mereka...(Menurut saya, ini sesuatu respon yang 
> wajar dr masyarakat manapun di dunia jika mengalami 'penderitaan' spt itu, 
> bukan karena kebencian terhadap agama lain)
> 
> Mohon maaf, saya tidak bermaksud mempolitisir, hanya sekedar membagikan apa 
> yang saya ketahui...
> Wallahu alam.. Kebenaran hanya Tuhan yang tau..
> 
> Salam
> 
> 
>  Rakaryan
> 
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: ambar.briastuti <ambar.briast...@...>
> To: [email protected]
> Sent: Monday, August 31, 2009 7:48:08 PM
> Subject: [indobackpacker] Re: Apa untungnya diakui warisan dunia oleh Unesco??
> 
>   
> Cintia, pertanyaan yang sangat bagus. Saya sendiri dulu agak skeptik dengan 
> Unesco untuk urusan Warisan Dunia (World Heritage) ini. Tapi setelah saya 
> gauli, kok sedikit membuka mata tentang apa sebenarnya yang terjadi dalam 
> khasanah kebudayaan kita.
> 
> Ohya cukup menarik karena Warisan Dunia adalah ditangani oleh Unesco (the 
> United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) , yaitu 
> badan Persatuan Bangsa-Bangsa yang mengurusi masalah pendidikan, sains dan 
> budaya. Tahun 1972 Unesco mengadkan konvensi dan menyetujui untuk menghimpun 
> dana bersama bagi pemeliharaan situs2 bersejarah dan mempunyai nilai tinggi 
> bagi peradaban manusia. 
> 
> Dana World Heritage ada dua macam yakni World Heritage Fund dan Fund in 
> Trust. Untuk yang pertama adalah dana senilai US$4 juta didapat dari iuran 
> dan tarikan (bersifat wajib ataupun tidak wajib bergantung statusnya) dari 
> negara yang ikut serta plus dana dari bantuan pribadi (berupa donatur yang 
> bisa dilakukan langsung di web). 
> 
> Dana diatas digunakan untuk memberikan 'bantuan internasional' bagi situs 
> budaya ataupun alam yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia. Daftar Warisan 
> Dunia Kondisi Berbahaya atau daftar Pilihan Warisan Budaya (belum berstatus 
> penuh tapi udah diajukan oleh pemerintah ybs). Berupa US$30,000 untuk tahap 
> persiapan, konservasi dan edukasi ($US10,000 khusus untuk promosi), dan 
> bantuan darurat (jika situs itu perlu dilindungi segera, misalnya dalam 
> wilayah konflik perang seperti Iraq atau Afghanistan) . 
> 
> Fund in Trust adalah dana bantuan dari negara tertentu untuk proyek tertentu 
> yang disalurkan lewat Unesco. Misalnya : France-Unesco adalah kerjasama 
> bentuk teknis dan finansial dari pemerintah Perancis baik dana dan tenaga 
> ahli pada situs tertentu termasuk membantu maintanance. (misalnya Angkor Wat).
> 
> Betul memang negara yang masuk daftar Konvensi Warisan Dunia 1972 itu 
> dimintai iuran pertahun, tetapi negara2 juga mendapatkan bantuan 
> internasional. Contohnya adalah Borobudur. Jika teman-teman masih ingat 
> Borobudur dan Prambanan era tahun 70an, bentuknya tidak seutuh sekarang. 
> Tetapi berserarakan bebatuan. (Kalau sempat melihat museum di Prambanan, ada 
> sebuah photo ketika ditemukan pertama oleh geolog Belanda).  Tenaga ahli 
> didatangkan untuk mem'bangun' kembali dua situs itu berikut dokumentasi. 
> 
> Dalam hal ini saya melihat hubungan negara kita dengan Unesco Warisan Dunia 
> sebagai mutualism, sama-sama menguntungkan. Kita butuh tenaga ahli dan 
> tehnologi sekaligus dana, juga kita dibuat bertanggung jawab terhadap situs 
> alam dan budaya yang ditinggalkan di negara kita.
> 
> Salah satu contoh klasik pengabaian budaya dunia adalah situs Bamiyan di 
> Afghanistan. Disini di era Taliban, situs patung Buddha raksasa dihancurkan 
> karena dianggap bukan budaya Afghanistan. Walaupun beribu tahun yang silam 
> Afghanistan adalah negara Buddha dan pencampuran dengan China dan Romawi. 
> Mirip dengan Borobudur bukan?
> 
> Keuntungan lainnya adalah kita diberikan promosi gratis dan bantuan 
> pengelolaan. Borobudur saat ini udah tahap mandiri, sedangkan masih banyak 
> situs-situs di tanah air yang potensial ataupun masuk dalam daftar Pilihan 
> Warisan Dunia (Tentative List-daftarnya udah pernah saya posting di milis). 
> Jadi semacam bola bergulir. 
> 
> Jadi ibarat membesarkan anak. Dimulai dari memberikan bantuan kemudian 
> diharuskan mandiri untuk selanjutnya. Well, jika mikir hanya Borobudur, 
> lantas bagaimana dengan situs yang lain?
> 
> Salam,
> ambar
> penyuka situs warisan dunia
> 
> --- In indobackpacker@ yahoogroups. com, "Cintia Devi" <cintia@> wrote:
> >
> > Teman-teman IBP semuanya,
> > 
> > Saya penasaran aja dengan pertanyaan diatas. Mungkin teman2 bisa memberi
> > pencerahan.
> > 
> > Selain popularitas yg didpt oleh suatu situs bersejarah, apakah ada yg
> > lain, mungkin dana pemeliharaan?
> > 
> > Kemarin sempat Tanya kepada guide di borobudur, katanya pemeliharaan
> > borobudur itu full oleh pemerintah kita. Malah kita yg harus setor ke
> > Unesco.Apakah benar begitu ya? Kalo iya, apa untungnya donk ya?
> > 
> > Thanks semuanya.
> > 
> > 
> > 
> > Salam,
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Cintia
> > 
> > 
> > 
> 
> 
>    
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke