Dear Friends, Barangkali pengalaman kami bisa dijadikan pelajaran, dan berguna dalam mempersiapkan segala sesuatunya saat jalan2 jauh.
Tanggal 10 Desember yang lalu saya dan istri cuti dan liburan ke Eropa. Hari-hari awal berlangsung sangat indah, mulai dari London, terus ke Paris, lanjut ke Lourdes. Sedikit catatan bagi yang ke Lourdes, Desember di Lourdes sangat sepi, nyaris kota mati. Restoran juga buka cuma jam makan siang saja, dan menu-nya terbatas. Tapi kami menikmati suasana hening dan sangat pribadi di sana. 1. Maling Roma Kemudian kami sampai di Roma. Di semua buku dan panduan mengatakan harus hati-hati saat berjalan-jalan di Roma, karena banyak copet. TERNYATA, baru mulai breakfast di dalam hotel, tas istri lenyap. Semua hilang: paspor, uang, kartu kredit, kamera, perhiasan dll. Kami benar2 tidak sadar kapan pencurian itu terjadi. Hotelnya Windrose, di jalan Via Gaeta, dan orang2nya SANGAT tidak peduli. Mereka cuma mengatakan "I don't know, I don't know", tidak mau menunjukkan CCTV, bahkan kata maaf atau menawarkan minum untuk menenangkan istri saya yang panik juga tidak. Mereka cuma menyuruh saya pergi ke polisi untuk buat laporan. Untungnya (orang Jawa selalu bilang Untung), orang2 Kedubes RI di Roma sangat-sangat kooperatif, terutama pak Febby dan Pak Jun, Konsul RI di Roma. Walau hari itu Sabtu (Kedubes tutup), mereka bersedia datang ke kantor untuk mengurus pembuatan paspor sementara, karena besok paginya saya harus balik ke Amsterdam untuk pulang. Untuk membuat paspor, diperlukan foto dan berbagai dokumen seperti fotokopi paspor lama. Panik karena uang di dompet tinggal sedikit, saya berusaha mencari cash advance dulu (untuk bayar taksi, foto dll), dan setelah itu mencari-cari tempat foto, yang akhirnya ketemu di dalam terminal, yaitu loket buat pasfoto untuk anak muda itu. Untuk Cash Advance, Sabtu bank tutup namun untung beberapa Money Changer bisa menukar cash Advance dengan kartu MasterCard saya. Saat mengurus paspor baru, orang2 Kedubes mengatakan bahwa pencurian di Roma sangat sering terjadi. Bahkan seorang pengusaha kehilangan seluruh barang berharganya yang disimpannya di dalam brankas (Safe Deposit Box) di dalam kamarnya, karena seluruh brankasnya digondol maling!! Jadi benar2 tidak ada tempat yang aman di Roma... lha di dalam kamar hotel saja dibobol...? Kan tidak mungkin menyeret2 koper ke mana2... lebih diincar lagi dong? 2. Badai Salju Akhirnya, dengan bantuan luar biasa pak Jun, konsul RI di Roma, paspor selesai sore itu juga. Kami pun segera bersiap pulang lewat Amsterdam (naik KLM ke Jakarta). Hati gelisah dan tidak betah, dan istri sangat was-was, jadi jam 6 pagi esoknya kami langsung ke airport Fiumicino untuk penerbangan jam 10, Roma-Amsterdam, dengan Easy Jet. Ternyata penerbangan dibatalkan karena badai salju. Kami harus menunggu di airport sampai jam 6 sore baru akhirnya mendapat kamar hotel. Anehnya, di airport itu tidak ada internet, sedangkan pengubahan jadwal Easy Jet hanya bisa lewat internet. Di sana juga sama sekali tidak ada petugas di gerai Easy Jet, dan semua petugas di sana adalah petugas outsourcing (bukan orang Easy Jet), jadi mereka sama sekali tidak bisa bantu mengubah jadwal. Cuma dikasih nomor telepon Customer Service Easy Jet, yang hanya menjawab dalam bahasa Itali, dan itupun hanya bisa merujuk ke website Easy Jet. Karena takut tidak mendapat seat di penerbangan Easy Jet yang berikutnya, kami berusaha mencari seat atau mengatur seat KLM kami yang Amsterdam-Jakarta. Ternyata konter KLM di Roma itu kecil saja, dan petugasnya juga belepotan bahasa Inggrisnya dan tidak dapat membantu banyak. Saya juga men-SMS saudara di Indonesia untuk bantu chance flight di website Easy Jet, tapi mereka mengatakan fitur penggantian itu belum ada di website, satu2nya cara beli tiket lagi. Setelah mendapat kamar hotel malam itu, saya segera berusaha mencari seat untuk esok hari (tanggal 21 Des), tapi benar, kami tidak dapat mengubah hari meskipun ada cancellation, dan penerbangan 21 Des juga sudah penuh. Untung lagi, ada orang India yang juga stranded mengatakan ada pesawat lain, Ryan Air, yang juga ke Belanda, tapi turunnya di Eindhoven. Kami langsung memutuskan untuk membeli lagi tiket Ryan Air ke Eindhoven, penerbangan pertama jam 6 pagi, harga 240 Euro berdua. (BTW kami juga lihat masih ada kursi dengan KLM atau Alitalia, tapi harganya 900 Euro perorang!) Jam 2 pagi buta kami sudah bergegas ke bandara Ciampino, 35 km dari Fiumicino, dengan taksi habis 70 Euro. Kami harus pagi2 karena berdasarkan pengalaman di Easy Jet kemarin kami harus urus paspor baru agak lama (karena Visa Schengen ikut hilang bersama paspor lama). Hati kembali cemas melihat banyaknya orang yang mengantri di Fiumicino, karena ternyata Ryan Air juga banyak cancel kemarin. Namun akhirnya berhasil naik juga menuju Eindhoven. 3. Chaos Badai salju kali ini benar2 melumpuhkan transportasi Eropa. 5 kereta canggih Eurostar London-Paris bahkan mogok di bawah laut, dan perlu waktu sampai 5-12 jam untuk menyelamatkan ribuan penumpang yang terkurung dalam kegelapan, kedinginan, kelaparan dan kekurangan oksigen. Akibat lainnya: jalur kereta biasa juga cancel, dan jalur lalu lintas macet total. Itulah yang terjadi saat kami tiba di Eindhoven, dan naik bis ke Amsterdam. Jarak tempuh yang biasanya cuma 2 jam menjadi hampir 5 jam. Sesampainya di bandara Schiphol, kekacauan tampak jelas. Para penumpang yang pesawatnya cancel antri mengular untuk mengatur keberangkatan, dan banyak yang sudah kelelahan tidur di bandara. Kasihan yang anak2, menangis kelelahan. Komputer dan jalur bagasi bandara ikut2an rusak, jadi suasana makin tidak keruan. Sore harinya akhirnya semua bisa diatasi dan kami siap boarding. Namun hati tetap was-was karena badai salju masih tampak jelas mengamuk di luar. Namun akhirnya pesawat tetap berangkat meski delay 1 jam karena harus dihangatkan dulu untuk membuang salju yang menumpuk di sayap. Sekitar 15 jam kemudian akhirnya kami sampai di tanah air (23 Des). Total waktu kami bergerak tanpa tidur yang layak mulai dari Roma sampai Jakarta mungkin sekitar 40 jam lebih... Pelajaran yang mungkin bisa kita ambil 1) Miliki kartu kredit Visa atau MasterCard. Sangat berguna kalau kepepet. 2) Pisahkan paspor (dan dokumen perjalanan lain) dengan uang. Yang diincar katanya uang saja, yang lain sebenarnya tidak. 3) Pakai body wallet. Kami sebenarnya sudah punya, tapi karena terus2an harus ambil paspor dan uang (misalnya untuk check in), jadinya malah takut dokumennya jatuh dan akhirnya ditaruh di tas. 4) Fotokopi semua dokumen penting: Paspor, Visa (misalnya Schengen dan UK), KTP, SIM, tiket, dan nomor2 penting (bank, KBRI, PIN, dll). Dan bawa di tempat terpisah. Kalau perlu di-scan dan dikirim ke email, jadi bisa di-print ulang (seperti kami mencetak ulang tiket). 5) Telepon yang dapat diandalkan. Maksudnya yang dapat digunakan untuk mengirim SMS ke Indonesia. 6) Orang yang dapat diandalkan di Indonesia. Untuk membantu memblokir kartu kredit, dll. BTW: kartu Amex tidak dapat diblokir dari Roma, harus dari Indonesia. Jadi kita harus interlokal ke Indonesia. 7) Asians stick with Asians. Bukan maksudnya rasis, tapi pengalaman kami menunjukkan orang2 Barat tidak peduli dengan nasib orang Asia. Yang membantu kami ya sesama orang2 Asia, seperti dari sesama bangsa di Kedubes RI, orang India, dan Filipina. Yang paling parah ya orang Italia sendiri, memberi informasi saja hanya dalam bahasa Italia, sampai kami harus meminta-2 dalam bahasa Inggris. 8) Hampir tidak ada tempat yang aman di Italia Kata buku2, tempat yang tidak aman adalah di tempat2 keramaian wisata dan di jalan2, tapi seperti cerita di atas, di dalam kamar hotel saja bisa dibobol. Ada pula yang kehilangan tas di dalam bis group turnya sendiri. Salah satu tamu hotel juga mengatakan tas kameranya dicuri saat di dalam Vatikan. Jadi benar2 sudah tidak ada tempat yang dianggap suci lagi, pokoknya turis ya dibabat (Tapi kalau dibilang hanya mengincar turis juga kurang tepat, karena pada saat saya membuat laporan di polisi, ada 4 orang Italia yang juga melaporkan kehilangan). Apalagi kalau pakai spell (kayak gendam), ya mau hati-2 bagaimanapun juga tetap susah, kalau sudah diincar ya tinggal tunggu lengah saja (atau dibuat lengah). Sekali lagi, yang menyakitkan hati saya adalah ketidakpedulian orang Italia terhadap kesulitan yang dihadapi orang (atau malah bagian dari komplotan?) Saya tidak menemukan saran apa agar aman di Italia... mungkin tinggal di hotel yang sangat mahal (agar security terjamin)? Tapi kami waktu kami tinggal di Marriot pun penuh dengan wejangan agar hati2, bahkan sampai bilang "don't open door if a stranger knocks your door".. wah wah wah... 9) Gunakan merek2 yang dapat diandalkan. Saya sedang mempertimbangkan ganti bank, karena bank ini aneh sekali prosedur pemblokirannya. Dia berulang kali meminta "harus orangnya langsung yang memblokir". Lha kami di Roma, bagaimana? Jawabannya "kirim kartu keluarga", lha gimana caranya??? Akhirnya dia bersedia memblokir sementara (24 jam). 10) Beli Asuransi. Kami membeli asuransi, dan berharap dapat ganti sebagian dari kerugian kami (Note: asuransi tidak mengganti seluruh nilai barang yang hilang, tapi hanya senilai tertentu sesuai tabel polis). Proses pengurusan masih berlangsung, kalau ada yang funny-funny business akan saya laporkan di email mendatang. 11) Perhatikan musim dan faktor di luar kuasa kita. Jika pergi ke negara yang tidak dapat kita kendalikan (misalnya bahasanya), perhatikan sekali berita. Misalnya cuacanya, dan apakah ada pemogokan (strike). 12) Harga = kualitas Pesawat Low Cost ya kualitasnya cenderung Low, terutama saat krisis. Service-nya juga low, kemampuan petugasnya low (bahkan jumlah petugasnya very low). Pertimbangkan hal ini saat mengatur budget, apalagi jika membawa orang yang lebih lemah (misalnya anak2 atau lansia). Apalagi ya... ? Sekian catper kami, yang awalnya berjudul "honeymoon package" berubah menjadi "for better for worse test package".... :)
