Dear Anthony,
Sebelumnya saya mengucapkan turut bersedih akan kejadian yg menimpa anda
sekaligus berterimakasih karena pengalaman anda akan sangat berguna sekali bagi
backpacker lainnya terutama yang ingin melakukan perjalanan ke luar negri
terutama Eropa. Tadinya saya juga berencana akan mengunjungi Family di Paris
melalui London. Namun dengar berita bahwa di Eropa sering terjadi badai salju
maka saya urungkan niat saya tersebut.
Dari pengalaman yang sudah2, memang tidak semua orang Eropa itu care pada
wisatawan terutama bagi mereka yg merasa bahwa mereka memiliki derajat yg
tinggi. Hal ini saya rasakan ketika di Paris, London, dan benar di Italia.
Namun ada pengalaman juga di Sydney Australia. Ya saya hanya berpikir positive
saja mungkin krn budaya mereka, namun tyt rasialis masih ada juga. Kejadian
kecopetan istri anda di Italia dirasakan pula oleh keluarga saya, namun hal ini
menimpa nenek saya yang pas kebetulan sedang berjalan di boulevard pusat
perbelanjaan di Roma. Pencopetnya bekerja dengan berkelompok dan memang yg
diincar adalah para wisatawan, karena mereka berpikir para wisatawan membawa
uang banyak untuk berbelanja disini. Saat itu nenek saya dipepet oleh dua
wanita berperawakan besar dan dibawa kepinggir, untunglah kakek saya bersama
temannya mendorong pencopet tersebut.Namun kasian teman kakek saya, malah dia
yg kehilangan dompetnya, ternyata memang banyak
copet yang lain berkeliaran...maka hati2 lah. Hal ini kami laporkan pula pada
kepolisian di Italia, seperti yg anda ceritakan tidak ada kepedulian sama
sekali dan justru kita disalahkan krn tdk hati2. Saran anda mengenai meng-scan
dokumen2 dan menyimpannya di e-mail memang dirasakan perlu, tidak mungkin kita
membawa copian berkas2 penting tersebut sekaligus, iya kalo aman kalo ikut
hilang maka kita akan sulit. Dan siap sedia nomer telp penting terutama Kedubes
RI di negara bersangkutan. Ok mungkin hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua.
Regards,
Harry
________________________________
Dari: anthonyrayindra <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 25 Desember, 2009 14:48:33
Judul: [indobackpacker] Catper "Kacau Balau" (alias apa saja yang harus
disiapkan kalau pergi jauh)
Dear Friends,
Barangkali pengalaman kami bisa dijadikan pelajaran, dan berguna dalam
mempersiapkan segala sesuatunya saat jalan2 jauh.
Tanggal 10 Desember yang lalu saya dan istri cuti dan liburan ke Eropa.
Hari-hari awal berlangsung sangat indah, mulai dari London, terus ke Paris,
lanjut ke Lourdes.
Sedikit catatan bagi yang ke Lourdes, Desember di Lourdes sangat sepi, nyaris
kota mati. Restoran juga buka cuma jam makan siang saja, dan menu-nya terbatas.
Tapi kami menikmati suasana hening dan sangat pribadi di sana.
1. Maling Roma
Kemudian kami sampai di Roma.
Di semua buku dan panduan mengatakan harus hati-hati saat berjalan-jalan di
Roma, karena banyak copet.
TERNYATA, baru mulai breakfast di dalam hotel, tas istri lenyap. Semua hilang:
paspor, uang, kartu kredit, kamera, perhiasan dll. Kami benar2 tidak sadar
kapan pencurian itu terjadi.
Hotelnya Windrose, di jalan Via Gaeta, dan orang2nya SANGAT tidak peduli.
Mereka cuma mengatakan "I don't know, I don't know", tidak mau menunjukkan
CCTV, bahkan kata maaf atau menawarkan minum untuk menenangkan istri saya yang
panik juga tidak. Mereka cuma menyuruh saya pergi ke polisi untuk buat laporan.
Untungnya (orang Jawa selalu bilang Untung), orang2 Kedubes RI di Roma
sangat-sangat kooperatif, terutama pak Febby dan Pak Jun, Konsul RI di Roma.
Walau hari itu Sabtu (Kedubes tutup), mereka bersedia datang ke kantor untuk
mengurus pembuatan paspor sementara, karena besok paginya saya harus balik ke
Amsterdam untuk pulang.
Untuk membuat paspor, diperlukan foto dan berbagai dokumen seperti fotokopi
paspor lama.
Panik karena uang di dompet tinggal sedikit, saya berusaha mencari cash advance
dulu (untuk bayar taksi, foto dll), dan setelah itu mencari-cari tempat foto,
yang akhirnya ketemu di dalam terminal, yaitu loket buat pasfoto untuk anak
muda itu. Untuk Cash Advance, Sabtu bank tutup namun untung beberapa Money
Changer bisa menukar cash Advance dengan kartu MasterCard saya.
Saat mengurus paspor baru, orang2 Kedubes mengatakan bahwa pencurian di Roma
sangat sering terjadi. Bahkan seorang pengusaha kehilangan seluruh barang
berharganya yang disimpannya di dalam brankas (Safe Deposit Box) di dalam
kamarnya, karena seluruh brankasnya digondol maling!! Jadi benar2 tidak ada
tempat yang aman di Roma... lha di dalam kamar hotel saja dibobol...? Kan tidak
mungkin menyeret2 koper ke mana2... lebih diincar lagi dong?
2. Badai Salju
Akhirnya, dengan bantuan luar biasa pak Jun, konsul RI di Roma, paspor selesai
sore itu juga. Kami pun segera bersiap pulang lewat Amsterdam (naik KLM ke
Jakarta). Hati gelisah dan tidak betah, dan istri sangat was-was, jadi jam 6
pagi esoknya kami langsung ke airport Fiumicino untuk penerbangan jam 10,
Roma-Amsterdam, dengan Easy Jet.
Ternyata penerbangan dibatalkan karena badai salju. Kami harus menunggu di
airport sampai jam 6 sore baru akhirnya mendapat kamar hotel.
Anehnya, di airport itu tidak ada internet, sedangkan pengubahan jadwal Easy
Jet hanya bisa lewat internet. Di sana juga sama sekali tidak ada petugas di
gerai Easy Jet, dan semua petugas di sana adalah petugas outsourcing (bukan
orang Easy Jet), jadi mereka sama sekali tidak bisa bantu mengubah jadwal.
Cuma dikasih nomor telepon Customer Service Easy Jet, yang hanya menjawab dalam
bahasa Itali, dan itupun hanya bisa merujuk ke website Easy Jet.
Karena takut tidak mendapat seat di penerbangan Easy Jet yang berikutnya, kami
berusaha mencari seat atau mengatur seat KLM kami yang Amsterdam-Jakarta.
Ternyata konter KLM di Roma itu kecil saja, dan petugasnya juga belepotan
bahasa Inggrisnya dan tidak dapat membantu banyak. Saya juga men-SMS saudara di
Indonesia untuk bantu chance flight di website Easy Jet, tapi mereka mengatakan
fitur penggantian itu belum ada di website, satu2nya cara beli tiket lagi.
Setelah mendapat kamar hotel malam itu, saya segera berusaha mencari seat untuk
esok hari (tanggal 21 Des), tapi benar, kami tidak dapat mengubah hari meskipun
ada cancellation, dan penerbangan 21 Des juga sudah penuh.
Untung lagi, ada orang India yang juga stranded mengatakan ada pesawat lain,
Ryan Air, yang juga ke Belanda, tapi turunnya di Eindhoven.
Kami langsung memutuskan untuk membeli lagi tiket Ryan Air ke Eindhoven,
penerbangan pertama jam 6 pagi, harga 240 Euro berdua. (BTW kami juga lihat
masih ada kursi dengan KLM atau Alitalia, tapi harganya 900 Euro perorang!)
Jam 2 pagi buta kami sudah bergegas ke bandara Ciampino, 35 km dari Fiumicino,
dengan taksi habis 70 Euro. Kami harus pagi2 karena berdasarkan pengalaman di
Easy Jet kemarin kami harus urus paspor baru agak lama (karena Visa Schengen
ikut hilang bersama paspor lama).
Hati kembali cemas melihat banyaknya orang yang mengantri di Fiumicino, karena
ternyata Ryan Air juga banyak cancel kemarin. Namun akhirnya berhasil naik juga
menuju Eindhoven.
3. Chaos
Badai salju kali ini benar2 melumpuhkan transportasi Eropa. 5 kereta canggih
Eurostar London-Paris bahkan mogok di bawah laut, dan perlu waktu sampai 5-12
jam untuk menyelamatkan ribuan penumpang yang terkurung dalam kegelapan,
kedinginan, kelaparan dan kekurangan oksigen.
Akibat lainnya: jalur kereta biasa juga cancel, dan jalur lalu lintas macet
total.
Itulah yang terjadi saat kami tiba di Eindhoven, dan naik bis ke Amsterdam.
Jarak tempuh yang biasanya cuma 2 jam menjadi hampir 5 jam.
Sesampainya di bandara Schiphol, kekacauan tampak jelas. Para penumpang yang
pesawatnya cancel antri mengular untuk mengatur keberangkatan, dan banyak yang
sudah kelelahan tidur di bandara. Kasihan yang anak2, menangis kelelahan.
Komputer dan jalur bagasi bandara ikut2an rusak, jadi suasana makin tidak
keruan.
Sore harinya akhirnya semua bisa diatasi dan kami siap boarding. Namun hati
tetap was-was karena badai salju masih tampak jelas mengamuk di luar. Namun
akhirnya pesawat tetap berangkat meski delay 1 jam karena harus dihangatkan
dulu untuk membuang salju yang menumpuk di sayap.
Sekitar 15 jam kemudian akhirnya kami sampai di tanah air (23 Des). Total waktu
kami bergerak tanpa tidur yang layak mulai dari Roma sampai Jakarta mungkin
sekitar 40 jam lebih...
Pelajaran yang mungkin bisa kita ambil
1) Miliki kartu kredit Visa atau MasterCard.
Sangat berguna kalau kepepet.
2) Pisahkan paspor (dan dokumen perjalanan lain) dengan uang.
Yang diincar katanya uang saja, yang lain sebenarnya tidak..
3) Pakai body wallet.
Kami sebenarnya sudah punya, tapi karena terus2an harus ambil paspor dan uang
(misalnya untuk check in), jadinya malah takut dokumennya jatuh dan akhirnya
ditaruh di tas.
4) Fotokopi semua dokumen penting: Paspor, Visa (misalnya Schengen dan UK),
KTP, SIM, tiket, dan nomor2 penting (bank, KBRI, PIN, dll). Dan bawa di tempat
terpisah.
Kalau perlu di-scan dan dikirim ke email, jadi bisa di-print ulang (seperti
kami mencetak ulang tiket).
5) Telepon yang dapat diandalkan.
Maksudnya yang dapat digunakan untuk mengirim SMS ke Indonesia.
6) Orang yang dapat diandalkan di Indonesia.
Untuk membantu memblokir kartu kredit, dll.
BTW: kartu Amex tidak dapat diblokir dari Roma, harus dari Indonesia. Jadi kita
harus interlokal ke Indonesia.
7) Asians stick with Asians.
Bukan maksudnya rasis, tapi pengalaman kami menunjukkan orang2 Barat tidak
peduli dengan nasib orang Asia. Yang membantu kami ya sesama orang2 Asia,
seperti dari sesama bangsa di Kedubes RI, orang India, dan Filipina. Yang
paling parah ya orang Italia sendiri, memberi informasi saja hanya dalam bahasa
Italia, sampai kami harus meminta-2 dalam bahasa Inggris.
8) Hampir tidak ada tempat yang aman di Italia
Kata buku2, tempat yang tidak aman adalah di tempat2 keramaian wisata dan di
jalan2, tapi seperti cerita di atas, di dalam kamar hotel saja bisa dibobol.
Ada pula yang kehilangan tas di dalam bis group turnya sendiri.
Salah satu tamu hotel juga mengatakan tas kameranya dicuri saat di dalam
Vatikan. Jadi benar2 sudah tidak ada tempat yang dianggap suci lagi, pokoknya
turis ya dibabat (Tapi kalau dibilang hanya mengincar turis juga kurang tepat,
karena pada saat saya membuat laporan di polisi, ada 4 orang Italia yang juga
melaporkan kehilangan).
Apalagi kalau pakai spell (kayak gendam), ya mau hati-2 bagaimanapun juga tetap
susah, kalau sudah diincar ya tinggal tunggu lengah saja (atau dibuat lengah).
Sekali lagi, yang menyakitkan hati saya adalah ketidakpedulian orang Italia
terhadap kesulitan yang dihadapi orang (atau malah bagian dari komplotan?)
Saya tidak menemukan saran apa agar aman di Italia... mungkin tinggal di hotel
yang sangat mahal (agar security terjamin)? Tapi kami waktu kami tinggal di
Marriot pun penuh dengan wejangan agar hati2, bahkan sampai bilang "don't open
door if a stranger knocks your door"... wah wah wah...
9) Gunakan merek2 yang dapat diandalkan.
Saya sedang mempertimbangkan ganti bank, karena bank ini aneh sekali prosedur
pemblokirannya. Dia berulang kali meminta "harus orangnya langsung yang
memblokir". Lha kami di Roma, bagaimana? Jawabannya "kirim kartu keluarga", lha
gimana caranya??? Akhirnya dia bersedia memblokir sementara (24 jam).
10) Beli Asuransi.
Kami membeli asuransi, dan berharap dapat ganti sebagian dari kerugian kami
(Note: asuransi tidak mengganti seluruh nilai barang yang hilang, tapi hanya
senilai tertentu sesuai tabel polis). Proses pengurusan masih berlangsung,
kalau ada yang funny-funny business akan saya laporkan di email mendatang.
11) Perhatikan musim dan faktor di luar kuasa kita.
Jika pergi ke negara yang tidak dapat kita kendalikan (misalnya bahasanya),
perhatikan sekali berita. Misalnya cuacanya, dan apakah ada pemogokan (strike).
12) Harga = kualitas
Pesawat Low Cost ya kualitasnya cenderung Low, terutama saat krisis.
Service-nya juga low, kemampuan petugasnya low (bahkan jumlah petugasnya very
low).
Pertimbangkan hal ini saat mengatur budget, apalagi jika membawa orang yang
lebih lemah (misalnya anak2 atau lansia).
Apalagi ya... ?
Sekian catper kami, yang awalnya berjudul "honeymoon package" berubah menjadi
"for better for worse test package".... :)
Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/
[Non-text portions of this message have been removed]