Mbak Shifa dan mbak Sari,

Dalam beberapa pengalaman booking tiket budget di maskapai murah, selalu ada 
disclosure dari si maskapai tersebut. Yakni si calon penumpang harus sudah 
mempunyai dokumen perjalanan yaitu paspor dan visa sebelum terbang. Jadi saya 
kira pemberitahuan oleh maskapai cukup jelas (saya contohkan di Airasia selalu 
muncul pop up windows yang berisi soal visa tadi sebelum kita membeli). 

Mungkin yang bisa disarankan kepada maskapai adalah si calon penumpang harus 
memberikan nomor visa ketika memesan tiket. Tetapi ini sangat tidak praktikal 
karena memerlukan koordinasi dengan Kedutaan yang mengeluarkan visa tadi untuk 
cek dan ricek.  Dalam kenyataannya di lapangan, sebelum terbang si calon 
penumpang ketika cek in akan ditanyakan syarat dokumen. Pihak maskapai berhak 
tidak menerbangkan penumpang jika dokumennya tidak lengkap. (coba dibaca di 
terms and conditions di tiket). 

Di satu sisi, kedutaan2 yang pernah berurusan dengan saya selalu menyatakan 
agar TIDAK MEMBELI TIKET sebelum visa digranted (disetujui, tetapi belum 
diterbitkan). Pihak kedutaan biasanya memasang pengumuman ini di website/situs 
mereka, terutama negara-negara yang memerlukan long haul flight -lebih dari 3 
jam penerbangan.

Dalam proses visa, biasanya melalui beberapa tahap dan proses. Ada visa yang 
disetujui dengan syarat (conditions) misalnya menunjukkan tiket pp atau 
menunjukkan akomodasi setelah dicek background/latarbelakang si pelamar visa 
(punya kerjaan, punya asset, pendidikan etc) . Jadi proses visa menjadi: 
apply-granted-tiket/syarat-issued (terbit). Bukannya sekali apply lantas 
ditolak atau disetuji. 

Seringkali si calon pejalan berasumsi bahwa dengan tiket pp ditangan akan 
menjadi garansi untuk bisa mendapatkan visa. Karena dengan menunjukkan mampu 
membeli tiket berarti mampu bepergian. Padahal banyak aspek lain yang dilihat. 
Terlebih era budget flight membuat biaya travelling jauh lebih murah. 

So, saya sendiri menegaskan tiket murah bukan berarti jaminan bisa backpacking. 
Dokumen juga sama pentingnya. Baik paspor dan visa. Bagi backpakcer yang mau 
jalan, membeli tiket murah sangat disarankan, tetapi perlu berhati-hati melihat 
apakah tiket tadi bisa direfund atau digeser waktunya atau diganti nama 
penumpangnya. 

Saya pernah menulis Guidelines Memesan Tiket Murah Airasia: Freeseat dan 
Marketing Gimmick disini:
http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/message/32842 

Isinya adalah bagaimana mewaspadai bentuk marketing dari budget airlines dan 
menyikapinya walaupun di tulisan diatas lebih ditekankan pada hidden fees dan 
aturan si maskapai itu sendiri. 


Semoga membantu.

Salam,
ambar



--- In [email protected], Dvi Shifa <dstuasi...@...> wrote:
>
> Halo,
> 
> Untuk alasan apapun, baik itu kasus teman saya maupun kasus-kasus lain yang 
> pernah diutarakan di milis ini, bagi saya yang paling penting adalah, "jangan 
> mudah tergiur oleh penawaran murah". Strategi marketing perusahaan 
> penerbangan LCC kan tidak dibuat mengikuti aturan permohonan visa suatu 
> negara. Yang satu demi income sebanyak mungkin sedangkan yang lain demi 
> alasan keamanan dan hubungan politik dua negara. 
> 
> Karena itu semua terletak ketelitian si calon pelancong. Juga rajin-rajin 
> bertanya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya.
> 

Kirim email ke