Dengan hormat,
Cel surya tidak gagal komersial, buktinya Jerman, Jepang dan pemain baru
China langsung berkiprah. Perancis serta BP tetap berjaya, malah India,
Thailand dan Malaysia menuju komersialisasi tangguh.
Teknologi hibrid antara berbagai pembangkit listrik menuju pembangkit
tersebar sedang ditekuni di dunia. Seyogianya Indonesia berpacu.
On Tue, 29 Apr 2008, Ismail Zaini wrote:
Kenapa kok tidak mengembangkan yg sudah pasti pasti saja dalam program
subtitusi BBM , karena ujung ujungnya faktor ekonomi yang akan menentukan
berkembang atau tdk nya , disiisi lain harga minyak tdk terkendali..
ISM
================================
Sel Surya Gagal Komersial
Pemerintah Tidak Punya Kemauan
Selasa, 29 April 2008 | 01:26 WIB
Jakarta, Kompas - Riset dan pengembangan teknologi sel surya sebagai sumber
energi listrik terbarukan oleh LIPI gagal menuju komersialisasi.
Oh, maaf, judul ini maksudnya untuk LIPI di Indonesia. Kita tidak dapat
mengatakan secara umum bahwa kegagalan suatu usaha komersial dunia, hanya
mengambil contoh usaha tersebut gagal di Indonesia.
Mengantisipasi krisis energi karena harga minyak terus melambung, LIPI
beralih fokus pada riset dan pengembangan sel bahan bakar dengan gas
hidrogen.
Karena krisis energi, maka pengembangan usaha cel surya silikon dapat
ditingkatkan dengan meningkatkan efisiensi celnya dan memperbaiki proses
manufakturnya. Ongkos proses masih ada peluang dikurangi. Peralatan baru
perlu dipertimbangkan dan konsep teknologi nano disisipkan.
Perlu pengalihan teknologi cepat untuk peralatan semi-industri. Berbagai
peralatan baru perlu dijajagi, seperti sambungan berlainan jenis,
penghantar murah, prosedur doping dan mengapa tidak teknologi nano.
?Teknologi sel surya tidak bisa secara penuh menggantikan bahan bakar minyak.
"Sepeda, motor dan mobil tidak dapat menggantikan pesawat terbang".
Maksud saya, di tempat terpencil pembangkit surya berperan, tanpa bahan
bakar, untuk waktu lama dan tak perlu pemeliharaan serta perbaikan.
Masih butuh teknologi baterai yang lebih efisien untuk menyimpan energinya,?
kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie
kepada Kompas, Senin (28/4) di Jakarta.
Prof.Umar Anggara JENIE betul. Maksud saya, marilah ajak pemuda Indonesia
mencari batere lebih baik, rangkaian listrik lebih handal dan proses
pembuatan wafer lebih sempurna dari yang dibuat mereka.
Studi pengelolaan energi dengan kendali merupakan lahan yang terus
dipelajari menuju kesempurnaan sampai kini.
LIPI sejak tahun 1980 menetapkan riset dan pengembangan sel surya untuk
mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi (listrik) dari sumber energi
terbarukan. Sel surya butuh sumber energi sinar matahari sebagai sumber
terbarukan itu.
Energi surya tersedia teratur setiap hari sekitar lima jam. Itu berarti
setiap tahun diperoleh 1800 jam. Untuk satu meter persegi menjadi 1800kWh.
Di bagian bumi subtropis ketersediaan radiasi surya tidak teratur.
Salah seorang peneliti sel surya dari Pusat Penelitian Elektronika dan
Telekomunikasi LIPI, Ika Hartika Ismet, di Bandung ketika dihubungi kemarin
menyatakan, sel surya sudah diteliti sampai tingkat efisiensi 10 persen dalam
mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Standar efisiensi untuk bisa
diproduksi komersial minimal 12-14 persen.
Untuk ibu Ika Hartika ISMET yang rendah hati tidak menyombongkan diri
bahwa beliau dapat dengan mudah melampaui efisiensi 15 %, apalagi dapat
dihimpun bantuan dari Dr.Achyar OEMRI, Dr.Ir.Irman, Prof.Totok SUGANDHI,
Dr.Wilson Walery WENAS, Ir.Herdy WALUYO MBA, Ir.Agus HERMAN, Dr.Ir.Arya
REZAVIDI, Dr.Sutrisno, Prof.Barmawi, Dr.Sukirno serta yang muda seperti
Dr.Brian YULIARTO. Ini baru saya yang lihat.
Masih banyak peneliti dan pekerja handal cel surya dari ITS, seperti
Prof.Edy YAHYA serta kolega lain. Yakin di GAMA dan UI juga banyak.
(Tunggu saja berita bahwa di UPH ada yang paling tercanggih)
Tak ada kemauan
Menurut Ika, selama ini tidak ada kemauan pemerintah untuk mengaplikasikan
dan mengomersialisasikan sel surya secara serius sehingga Indonesia
ketinggalan dibandingkan Singapura atau Malaysia. ?Saya merasa tua di
laboratorium. Tetapi, hasil riset dan pengembangan sel surya hanya berjalan
di tempat,? katanya.
Ini bukan saya yang tulis. Karena KOMPAS yang menulis, maka saya percaya.
Untuk meningkatkan efisiensi dari 10 persen menjadi 12-14 persen tidaklah
sulit. Menurut Ika, dibutuhkan perlengkapan plasma-enhanced chemical vapor
deposition dengan harga di bawah 1 juta dollar AS.
Ibu Ika Hartika ISMET telah menyampaikan pengetahuannya. Jadi, kalau ada
yang berniat maka dengan mudah untuk segera berkiprah.
Selain itu, secara teknis pembentuk sel surya berupa wafer silicon
multikristal dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 0,3 mm harus ditingkatkan, dari
lifetime electron 1-1,5 mikro sekon (?sec) menjadi 5 ?sec.
Ya, sebetulnya selain besaran tersebut, perlu kita pelajari juga sifat
sambungan antara suatu hantaran dengan semihantaran. Teknik hampa tinggi
harus pula kita kuasai. Pendidikan bahan segera menjadi utama.
Mari kita ajak pemuda Indonesia bersemangat untuk menekuni Silikon
monokristal, poli dan amorf, juga Kadmium Sulfida, Galium Arsenida serta
kombinasi lain seperti CuInSe2.
Kuasai juga pengetahuan Nano dan Dye sensitized.
?Peningkatan kemampuan itu tidak butuh biaya yang tinggi, tetapi sampai
sekarang tidak pernah ada investasi pengembangan sel surya,? kata Ika.
Yah, sukar memang meyakinkan walaupun yang berbicara pakar mumpuni.
Diversifikasi harus disegerakan, sambil inventarisasi diteruskan.
Konservasi jangan dilupakan.
Menurut Umar, tidak hanya kelengkapan teknologi sel surya yang masih
menghadapi kendala, tetapi faktor pendukung seperti baterai sebagai penyimpan
arus listrik yang dihasilkan dari pengubahan sinar matahari tersebut sampai
sekarang belum diperoleh teknologi yang optimal.
Mengapa kita berhenti saat kita menghadapi kendala? Kesulitan kita atasi.
Kita cari penyelesaian. Kita galang kerjasama di dalam negeri.
Akibat gagalnya sel surya, LIPI sekarang memfokuskan diri pada pengembangan
teknologi sel bahan bakar. ?LIPI telah mengembangkan pembuatan membran
sebagai media reaksi hidrogen dengan oksigen untuk menghasilkan energi,? ujar
Umar.
Sel bahan bakar perlu dikuasai, demikian pula cel surya. Kita seyogianya
berada di depan untuk semua penguasaan energi.
Saat ini di beberapa negara seperti China sudah dikembangkan jenis kendaraan
dengan sumber bahan bakar gas hidrogen dengan limbah paling ramah lingkungan,
yaitu air murni.
China juga mengembangken cel surya dengan bantuan Australia.
Fuel Cell sangat perlu di Indonesia. Ini merupakan keharusan untuk
dikembangkan juga oleh kita.
LIPI sekarang mengembangkan kendaraan marlip (singkatan dari marmut listrik
LIPI)?semula berbahan bakar listrik dari baterai, sekarang akan diganti
dengan gas hidrogen. (NAW)
Prinsip baterai dan sel bahan bakar serupa walaupun tidak sama, demkian
pula dengan hidrogen.
(Mengapa gas hidrogen? Kapan dengan penyimpan cairan hidrogen?)
Vivat LIPI,
AM