Saya setuju dengan pak Aman, terbukti negara - negara Eropa justru mengalami 
booming pasar modul surya PV. Berita gagalnya komersial ini memang ditulis 
Kompas tgl 29 April lalu dari hasil wawancara bu Ika Hartika (LIPI) yang merasa 
frustasi akibat hasil penelitiannya tidak menjadi/ mendorong industri di 
Indonesia. Untuk hal ini sebenarnya saya sudah luruskan kepada wartawan Kompas 
yang menulis artikel tsb, tentang apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Ada 
beberapa hal yang menurut saya menjadikan beberapa pihak menjadi frustasi dan 
inilah beberapa poin yang saya sampaikan kpd wartawan Kompas tsb:
- Sejak awal penerapan energi surya PV di Indonesia, memang dimotori oleh 
institusi pemerintah. Mengingat masih banyaknya daerah-daerah di Indonesia yang 
belum berlistrik (data th 2007: baru 58% rumah tangga berlistrik), maka fokus 
program pemerintah memang kepada daerah-daerah ini, karena dianggap penerapan 
PV sangat cocok untuk daerah yang sangat remote, tersebar dan penggunaan modul 
surya PV dapat mudah serta cepat diinstalasi tanpa perlu perencanaan 
berlama-lama karena sifatnya yang sangat modular. Sayangnya daerah-daerah ini 
adalah daerah marjinal yang pendapatan penduduknya sangat kecil. Akibatnya 
proyek listrik daerah terpencil harus selalu disupport oleh pendanaan 
pemerintah.
- Awalnya kami mengharapkan bahwa para pengusaha yang melihat peluang ini mampu 
menciptakan pasar dan tidak hanya tergantung pada program-program pemerintah. 
Namun sayangnya harapan untuk menciptakan pasar di luar program pemerintah ini 
terhambat oleh beberapa kebijakan pemerintah sendiri (pada saat itu) yang tidak 
pro pada energi terbarukan. Salah satunya adalah pemerintah justru mensubsidi 
BBM yang berasal dari fosil dan beberapa hambatan2 lainnya.
- Namun demikian kondisi ini makin diperparah karena ulah para pengusaha 
Indonesia sendiri yang menurut saya sangat manja. Mereka memang mau cari 
gampangnya saja sehingga kurang kreatif menciptakan peluang pasar sendiri. 
Buktinya hampir semua pengusaha modul PV hidup dari program-program pemerintah 
yang artinya hanya melihat pasar di dalam negeri (pemerintah). Padahal 
kemampuan pengusaha di negara-negara tetangga mendorong industri PV adalah 
karena mereka tidak hanya melihat pasar domestik mereka, tapi juga pasar 
regional dan internasional. Memang tentu saja ini ditunjang kebijakan 
pemerintahnya yang pro energi terbarukan, seperti di Malaysia yang saat ini sdh 
punya 2 industri dan Singapore yang notabene pasarnya kecil juga punya 2 
industri. Ini karena mereka memperoleh tax holiday dari pemerintahnya selama 20 
tahun.
- Namun demikian ada juga beberapa pengusaha Indonesia yang justru menangkap 
peluang ini dan tidak mengandalkan pasar domestik dan program pemerintah. 
Diantaranya adalah PT Sundaya yang justru mengekspor sebagian produk komponen 
penunjang sistem pembangkit PV ke Asia dan Eropa. Jadi memang ada 1-2 pengusaha 
yang masih cukup jeli dan tidak manja serta menggantungkan pada proyek-proyek 
pemerintah. Mohon maaf saja saya melihat bahwa PT-LEN Industri (BUMN) termasuk 
diantara perusahaan yang sangat manja dan selalu menggantungan pada 
proyek-proyek pemerintah. Ini adalah perusahaan tempat bu Ika Hartika dulu 
bekerja.
- Saya juga sebenarnya mengkritik para peneliti di Indonesia yang tidak mampu 
menggiring para pengusaha untuk bersama-sama sejak awal merencanakan 
pembangunan industri PV ini di Indonesia. Contohnya apa yang dilakukan oleh 
LIPI adalah contoh klasik dimana para peneliti asyik dengan dunia penelitiannya 
sendiri, sementara mereka lupa bahwa untuk menjadikan sebuah hasil penelitian 
menjadi produk industri maka sejak awal harus melibatkan 3 pihak yakni: 
pengusaha/ industriawan, dunia keuangan/finance serta penentu kebijakan, 
disamping tentu saja para penelitinya sendiri. Kalau para peneliti mampu 
menggabungkan ketiga pihak ini, maka insya'allah tidak akan ada peneliti yang 
frustasi lagi.
- Di masa mendatang kami di BPPT sedang mendorong tumbuhnya market PV yang 
lebih komersial dan tidak tergantung pada program-program pemerintah saja. 
Salah satunya adalah mengubah approach pemanfaatan PV dari mengisi kekosongan 
di daerah-daerah remote (terpencil) kepada konsep untuk mengurangi emisi karbon 
dan memberikan share kpd pemerintah untuk mengurangi subsidi listrik. 
Pendekatan ini harus dilakukan justru kepada masyarakat di perkotaan/ urban 
area yang justru mereka sudah terjangkau aliran listrik. Saya sara ini sangat 
wajar karena justru masyarakat perkotaanlah yang lebih boros menggunakan energi 
dibandingkan masyarakat di perdesaan dan sudah seharusnya lebih besar 
menanggung beban kenaikan harga energi. Berkurangnya subsidi pemerintah untuk 
masyarakat di perkotaan akan berdampak pada meningkatnya kemampuan pemerintah 
membuat proyek kelistrikan di perdesaan yang belum berlistrik. 
- Harus kita sadari bahwa booming market PV di Eropa dan Jepang adalah akibat 
dorongan kebijakan pemerintahnya yang mendorong penduduk yang notabene sudah 
menikmati listrik dan mau menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan. Jadi 
sejak awal pendekatan di negara kita dan negara-negara Eropa memang berbeda. 
Kita masih memiliki masalah dengan penduduk yang memang belum berlistrik dan 
miskin, sementara Eropa tidak memiliki masalah ini. 
- Kami juga sedang berusaha mendorong pemerintah mengeluarkan 
kebijakan-kebijakan yang lebih kondusif untuk membuka peluang pasar energi 
terbarukan. Naiknya harga minyak dunia juga menjadi 'blessing in disguise' 
untuk energi terbarukan di Indonesia. Dengan sendirinya pemerintah juga semakin 
berat kalau harus mensubsidi BBM dan listrik (yang juga sebagian besar masih 
menggunakan BBM), sehingga kalau harga-harga ini sudah mendekati harga 
keekonomisannya, maka disparitas dengan harga energi terbarukan semakin kecil
- Yang perlu masih effort adalah bagaimana agar dunia usaha bisa memanfaatkan 
pendanaan yang sebenarnya cukup banyak di Indonesia untuk membangun industri 
energi terbarukan seperti modul PV. Inilah yang menjadi tantangan kita untuk 
meyakinkan mereka agar mereka mampu menangkap peluang yang sedang terbuka di 
hadapan kita. Kiranya ini memerlukan usaha dari para peneliti kita juga serta 
pemerintah sendiri, karena pada dasarnya para pengusaha dan pemilik modal 
bukannya tidak mau, namun mereka kurang informasi. Inilah sebenarnya tantangan 
terbesar kita. Tentu saja ini harus dimulai dengan memberikan contoh dan juga 
membuat regulasi-regulasi yang mampu menarik baik para pengusaha maupun 
individu-individu yang memiliki penghasilan lebih baik.
- Kami di BPPT juga tidak mau bermanja-manja menunggu anggaran pemerintah saja. 
Saat ini kami sedang melakukan beberapa approach kepada para developer untuk 
segera memasukkan sistem PV  ke dalam perencanaan kelistrikan di beberapa real 
estate, diantaranya adalah penggunaan PJU dan public utility serta menawarkan 
Grid-connected PV kepada customernya dengan konsep sebagai back-up system atau 
fully-integrated PV system. Keuntungan para developer ini adalah, kalau mereka 
bisa menggunakan 30% sistem kelistrikannnya dari PV, maka  nantinya mereka bisa 
meng-claim carbon creditnya melalui skema CDM, dan dana yang diperoleh dari 
penjualan sertifikat reduksi emisi karbon-nya akan cukup signifikan. Ide ini 
sudah mulai ditangkap oleh beberapa developer dabn kami juga akan melakukan 
presentasi di hadapan REI. Kami juga sudah melakukan presentasi di kantor 
Menpera untuk mendorong komersialisasi PV di Indonesia ini.

Demikian saya sampaikan beberapa poin yang saya sampaikan kpd wartawan Kompas 
tsb. agar tidak menimbulkan salah persepsi.

Wassalam,
Arya Rezavidi
PTKKE - BPPT

----- Original Message ----
From: Aman Mostavan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, April 30, 2008 0:34:46
Subject: [indonesia] Re: Sel Surya Gagal Komersial

Dengan hormat,

Cel surya tidak gagal komersial, buktinya Jerman, Jepang dan pemain baru 
China langsung berkiprah. Perancis serta BP tetap berjaya, malah India, 
Thailand dan Malaysia menuju komersialisasi tangguh.
Teknologi hibrid antara berbagai pembangkit listrik menuju pembangkit 
tersebar sedang ditekuni di dunia. Seyogianya Indonesia berpacu.

On Tue, 29 Apr 2008, Ismail Zaini wrote:
> Kenapa kok tidak mengembangkan yg sudah pasti pasti saja dalam program 
> subtitusi BBM , karena ujung ujungnya faktor ekonomi yang akan menentukan 
> berkembang atau tdk nya , disiisi lain harga minyak tdk terkendali..
>
> ISM
>
> ================================
> Sel Surya Gagal Komersial
> Pemerintah Tidak Punya Kemauan
> Selasa, 29 April 2008 | 01:26 WIB
>
> Jakarta, Kompas - Riset dan pengembangan teknologi sel surya sebagai sumber 
> energi listrik terbarukan oleh LIPI gagal menuju komersialisasi. 
>
Oh, maaf, judul ini maksudnya untuk LIPI di Indonesia. Kita tidak dapat 
mengatakan secara umum bahwa kegagalan suatu usaha komersial dunia, hanya 
mengambil contoh usaha tersebut gagal di Indonesia.
>
> Mengantisipasi krisis energi karena harga minyak terus melambung, LIPI 
> beralih fokus pada riset dan pengembangan sel bahan bakar dengan gas 
> hidrogen.
>
Karena krisis energi, maka pengembangan usaha cel surya silikon dapat 
ditingkatkan dengan meningkatkan efisiensi celnya dan memperbaiki proses 
manufakturnya. Ongkos proses masih ada peluang dikurangi. Peralatan baru 
perlu dipertimbangkan dan konsep teknologi nano disisipkan.
Perlu pengalihan teknologi cepat untuk peralatan semi-industri. Berbagai 
peralatan baru perlu dijajagi, seperti sambungan berlainan jenis, 
penghantar murah, prosedur doping dan mengapa tidak teknologi nano.
>
> ”Teknologi sel surya tidak bisa secara penuh menggantikan bahan bakar minyak. 
>
"Sepeda, motor dan mobil tidak dapat menggantikan pesawat terbang".
Maksud saya, di tempat terpencil pembangkit surya berperan, tanpa bahan 
bakar, untuk waktu lama dan tak perlu pemeliharaan serta perbaikan.
>
> Masih butuh teknologi baterai yang lebih efisien untuk menyimpan energinya,” 
> kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie 
> kepada Kompas, Senin (28/4) di Jakarta.
>
Prof.Umar Anggara JENIE betul. Maksud saya, marilah ajak pemuda Indonesia 
mencari batere lebih baik, rangkaian listrik lebih handal dan proses 
pembuatan wafer lebih sempurna dari yang dibuat mereka.
Studi pengelolaan energi dengan kendali merupakan lahan yang terus 
dipelajari menuju kesempurnaan sampai kini.
>
> LIPI sejak tahun 1980 menetapkan riset dan pengembangan sel surya untuk 
> mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi (listrik) dari sumber energi 
> terbarukan. Sel surya butuh sumber energi sinar matahari sebagai sumber 
> terbarukan itu.
>
Energi surya tersedia teratur setiap hari sekitar lima jam. Itu berarti 
setiap tahun diperoleh 1800 jam. Untuk satu meter persegi menjadi 1800kWh.
Di bagian bumi subtropis ketersediaan radiasi surya tidak teratur.
>
> Salah seorang peneliti sel surya dari Pusat Penelitian Elektronika dan 
> Telekomunikasi LIPI, Ika Hartika Ismet, di Bandung ketika dihubungi kemarin 
> menyatakan, sel surya sudah diteliti sampai tingkat efisiensi 10 persen dalam 
> mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Standar efisiensi untuk bisa 
> diproduksi komersial minimal 12-14 persen.
>
Untuk ibu Ika Hartika ISMET yang rendah hati tidak menyombongkan diri 
bahwa beliau dapat dengan mudah melampaui efisiensi 15 %, apalagi dapat 
dihimpun bantuan dari Dr.Achyar OEMRI, Dr.Ir.Irman, Prof.Totok SUGANDHI, 
Dr.Wilson Walery WENAS, Ir.Herdy WALUYO MBA, Ir.Agus HERMAN, Dr.Ir.Arya 
REZAVIDI, Dr.Sutrisno, Prof.Barmawi, Dr.Sukirno serta yang muda seperti 
Dr.Brian YULIARTO. Ini baru saya yang lihat.
Masih banyak peneliti dan pekerja handal cel surya dari ITS, seperti 
Prof.Edy YAHYA serta kolega lain. Yakin di GAMA dan UI juga banyak.
(Tunggu saja berita bahwa di UPH ada yang paling tercanggih)
>
> Tak ada kemauan
>
> Menurut Ika, selama ini tidak ada kemauan pemerintah untuk mengaplikasikan 
> dan mengomersialisasikan sel surya secara serius sehingga Indonesia 
> ketinggalan dibandingkan Singapura atau Malaysia. ”Saya merasa tua di 
> laboratorium. Tetapi, hasil riset dan pengembangan sel surya hanya berjalan 
> di tempat,” katanya.
>
Ini bukan saya yang tulis. Karena KOMPAS yang menulis, maka saya percaya.
>
> Untuk meningkatkan efisiensi dari 10 persen menjadi 12-14 persen tidaklah 
> sulit. Menurut Ika, dibutuhkan perlengkapan plasma-enhanced chemical vapor 
> deposition dengan harga di bawah 1 juta dollar AS.
>
Ibu Ika Hartika ISMET telah menyampaikan pengetahuannya. Jadi, kalau ada 
yang berniat maka dengan mudah untuk segera berkiprah.
>
> Selain itu, secara teknis pembentuk sel surya berupa wafer silicon 
> multikristal dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 0,3 mm harus ditingkatkan, dari 
> lifetime electron 1-1,5 mikro sekon (µsec) menjadi 5 µsec.
>
Ya, sebetulnya selain besaran tersebut, perlu kita pelajari juga sifat 
sambungan antara suatu hantaran dengan semihantaran. Teknik hampa tinggi 
harus pula kita kuasai. Pendidikan bahan segera menjadi utama.
Mari kita ajak pemuda Indonesia bersemangat untuk menekuni Silikon 
monokristal, poli dan amorf, juga Kadmium Sulfida, Galium Arsenida serta 
kombinasi lain seperti CuInSe2.
Kuasai juga pengetahuan Nano dan Dye sensitized.
>
> ”Peningkatan kemampuan itu tidak butuh biaya yang tinggi, tetapi sampai 
> sekarang tidak pernah ada investasi pengembangan sel surya,” kata Ika.
>
Yah, sukar memang meyakinkan walaupun yang berbicara pakar mumpuni.
Diversifikasi harus disegerakan, sambil inventarisasi diteruskan. 
Konservasi jangan dilupakan.
>
> Menurut Umar, tidak hanya kelengkapan teknologi sel surya yang masih 
> menghadapi kendala, tetapi faktor pendukung seperti baterai sebagai penyimpan 
> arus listrik yang dihasilkan dari pengubahan sinar matahari tersebut sampai 
> sekarang belum diperoleh teknologi yang optimal.
>
Mengapa kita berhenti saat kita menghadapi kendala? Kesulitan kita atasi. 
Kita cari penyelesaian. Kita galang kerjasama di dalam negeri.
>
> Akibat gagalnya sel surya, LIPI sekarang memfokuskan diri pada pengembangan 
> teknologi sel bahan bakar. ”LIPI telah mengembangkan pembuatan membran 
> sebagai media reaksi hidrogen dengan oksigen untuk menghasilkan energi,” ujar 
> Umar.
>
Sel bahan bakar perlu dikuasai, demikian pula cel surya. Kita seyogianya 
berada di depan untuk semua penguasaan energi.
>
> Saat ini di beberapa negara seperti China sudah dikembangkan jenis kendaraan 
> dengan sumber bahan bakar gas hidrogen dengan limbah paling ramah lingkungan, 
> yaitu air murni.
>
China juga mengembangken cel surya dengan bantuan Australia.
Fuel Cell sangat perlu di Indonesia. Ini merupakan keharusan untuk 
dikembangkan juga oleh kita.
>
> LIPI sekarang mengembangkan kendaraan marlip (singkatan dari marmut listrik 
> LIPI)—semula berbahan bakar listrik dari baterai, sekarang akan diganti 
> dengan gas hidrogen. (NAW)
>
Prinsip baterai dan sel bahan bakar serupa walaupun tidak sama, demkian 
pula dengan hidrogen.
(Mengapa gas hidrogen? Kapan dengan penyimpan cairan hidrogen?)

Vivat LIPI,
AM

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke