Rekans2 Ysh., Daripada kita pasang didesa-desa terpencil yang masih belum paham bagaimana maintenance nya , bagaimana kalau kita pasang di atap2 gedung di BPPT atau gedung2 Pemerintah di Jakarta ,...? Kita hitung berapa penghematan listrik yang terjadi setelah beberapa bulan .
Salam hangat, PriyoPS -----Original Message----- From: rezavidi arya <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected], IA ITB <[EMAIL PROTECTED]>, alumni tfitb <[EMAIL PROTECTED]> Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Date: Thu, 1 May 2008 21:03:52 -0700 (PDT) Subject: [indonesia] Re: Sel Surya Gagal Komersial > Saya setuju dengan pak Aman, terbukti negara - negara Eropa justru > mengalami booming pasar modul surya PV. Berita gagalnya komersial ini > memang ditulis Kompas tgl 29 April lalu dari hasil wawancara bu Ika > Hartika (LIPI) yang merasa frustasi akibat hasil penelitiannya tidak > menjadi/ mendorong industri di Indonesia. Untuk hal ini sebenarnya saya > sudah luruskan kepada wartawan Kompas yang menulis artikel tsb, tentang > apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Ada beberapa hal yang menurut > saya menjadikan beberapa pihak menjadi frustasi dan inilah beberapa > poin yang saya sampaikan kpd wartawan Kompas tsb: > - Sejak awal penerapan energi surya PV di Indonesia, memang dimotori > oleh institusi pemerintah. Mengingat masih banyaknya daerah-daerah di > Indonesia yang belum berlistrik (data th 2007: baru 58% rumah tangga > berlistrik), maka fokus program pemerintah memang kepada daerah-daerah > ini, karena dianggap penerapan PV sangat cocok untuk daerah yang sangat > remote, tersebar dan penggunaan modul surya PV dapat mudah serta cepat > diinstalasi tanpa perlu perencanaan berlama-lama karena sifatnya yang > sangat modular. Sayangnya daerah-daerah ini adalah daerah marjinal yang > pendapatan penduduknya sangat kecil. Akibatnya proyek listrik daerah > terpencil harus selalu disupport oleh pendanaan pemerintah. > - Awalnya kami mengharapkan bahwa para pengusaha yang melihat peluang > ini mampu menciptakan pasar dan tidak hanya tergantung pada > program-program pemerintah. Namun sayangnya harapan untuk menciptakan > pasar di luar program pemerintah ini terhambat oleh beberapa kebijakan > pemerintah sendiri (pada saat itu) yang tidak pro pada energi > terbarukan. Salah satunya adalah pemerintah justru mensubsidi BBM yang > berasal dari fosil dan beberapa hambatan2 lainnya. > - Namun demikian kondisi ini makin diperparah karena ulah para > pengusaha Indonesia sendiri yang menurut saya sangat manja. Mereka > memang mau cari gampangnya saja sehingga kurang kreatif menciptakan > peluang pasar sendiri. Buktinya hampir semua pengusaha modul PV hidup > dari program-program pemerintah yang artinya hanya melihat pasar di > dalam negeri (pemerintah). Padahal kemampuan pengusaha di negara-negara > tetangga mendorong industri PV adalah karena mereka tidak hanya melihat > pasar domestik mereka, tapi juga pasar regional dan internasional. > Memang tentu saja ini ditunjang kebijakan pemerintahnya yang pro energi > terbarukan, seperti di Malaysia yang saat ini sdh punya 2 industri dan > Singapore yang notabene pasarnya kecil juga punya 2 industri. Ini > karena mereka memperoleh tax holiday dari pemerintahnya selama 20 > tahun. > - Namun demikian ada juga beberapa pengusaha Indonesia yang justru > menangkap peluang ini dan tidak mengandalkan pasar domestik dan program > pemerintah. Diantaranya adalah PT Sundaya yang justru mengekspor > sebagian produk komponen penunjang sistem pembangkit PV ke Asia dan > Eropa. Jadi memang ada 1-2 pengusaha yang masih cukup jeli dan tidak > manja serta menggantungkan pada proyek-proyek pemerintah. Mohon maaf > saja saya melihat bahwa PT-LEN Industri (BUMN) termasuk diantara > perusahaan yang sangat manja dan selalu menggantungan pada > proyek-proyek pemerintah. Ini adalah perusahaan tempat bu Ika Hartika > dulu bekerja. > - Saya juga sebenarnya mengkritik para peneliti di Indonesia yang tidak > mampu menggiring para pengusaha untuk bersama-sama sejak awal > merencanakan pembangunan industri PV ini di Indonesia. Contohnya apa > yang dilakukan oleh LIPI adalah contoh klasik dimana para peneliti > asyik dengan dunia penelitiannya sendiri, sementara mereka lupa bahwa > untuk menjadikan sebuah hasil penelitian menjadi produk industri maka > sejak awal harus melibatkan 3 pihak yakni: pengusaha/ industriawan, > dunia keuangan/finance serta penentu kebijakan, disamping tentu saja > para penelitinya sendiri. Kalau para peneliti mampu menggabungkan > ketiga pihak ini, maka insya'allah tidak akan ada peneliti yang > frustasi lagi. > - Di masa mendatang kami di BPPT sedang mendorong tumbuhnya market PV > yang lebih komersial dan tidak tergantung pada program-program > pemerintah saja. Salah satunya adalah mengubah approach pemanfaatan PV > dari mengisi kekosongan di daerah-daerah remote (terpencil) kepada > konsep untuk mengurangi emisi karbon dan memberikan share kpd > pemerintah untuk mengurangi subsidi listrik. Pendekatan ini harus > dilakukan justru kepada masyarakat di perkotaan/ urban area yang justru > mereka sudah terjangkau aliran listrik. Saya sara ini sangat wajar > karena justru masyarakat perkotaanlah yang lebih boros menggunakan > energi dibandingkan masyarakat di perdesaan dan sudah seharusnya lebih > besar menanggung beban kenaikan harga energi. Berkurangnya subsidi > pemerintah untuk masyarakat di perkotaan akan berdampak pada > meningkatnya kemampuan pemerintah membuat proyek kelistrikan di > perdesaan yang belum berlistrik. > - Harus kita sadari bahwa booming market PV di Eropa dan Jepang adalah > akibat dorongan kebijakan pemerintahnya yang mendorong penduduk yang > notabene sudah menikmati listrik dan mau menggunakan energi yang lebih > ramah lingkungan. Jadi sejak awal pendekatan di negara kita dan > negara-negara Eropa memang berbeda. Kita masih memiliki masalah dengan > penduduk yang memang belum berlistrik dan miskin, sementara Eropa tidak > memiliki masalah ini. > - Kami juga sedang berusaha mendorong pemerintah mengeluarkan > kebijakan-kebijakan yang lebih kondusif untuk membuka peluang pasar > energi terbarukan. Naiknya harga minyak dunia juga menjadi 'blessing in > disguise' untuk energi terbarukan di Indonesia. Dengan sendirinya > pemerintah juga semakin berat kalau harus mensubsidi BBM dan listrik > (yang juga sebagian besar masih menggunakan BBM), sehingga kalau > harga-harga ini sudah mendekati harga keekonomisannya, maka disparitas > dengan harga energi terbarukan semakin kecil > - Yang perlu masih effort adalah bagaimana agar dunia usaha bisa > memanfaatkan pendanaan yang sebenarnya cukup banyak di Indonesia untuk > membangun industri energi terbarukan seperti modul PV. Inilah yang > menjadi tantangan kita untuk meyakinkan mereka agar mereka mampu > menangkap peluang yang sedang terbuka di hadapan kita. Kiranya ini > memerlukan usaha dari para peneliti kita juga serta pemerintah sendiri, > karena pada dasarnya para pengusaha dan pemilik modal bukannya tidak > mau, namun mereka kurang informasi. Inilah sebenarnya tantangan > terbesar kita. Tentu saja ini harus dimulai dengan memberikan contoh > dan juga membuat regulasi-regulasi yang mampu menarik baik para > pengusaha maupun individu-individu yang memiliki penghasilan lebih > baik. > - Kami di BPPT juga tidak mau bermanja-manja menunggu anggaran > pemerintah saja. Saat ini kami sedang melakukan beberapa approach > kepada para developer untuk segera memasukkan sistem PV ke dalam > perencanaan kelistrikan di beberapa real estate, diantaranya adalah > penggunaan PJU dan public utility serta menawarkan Grid-connected PV > kepada customernya dengan konsep sebagai back-up system atau > fully-integrated PV system. Keuntungan para developer ini adalah, kalau > mereka bisa menggunakan 30% sistem kelistrikannnya dari PV, maka > nantinya mereka bisa meng-claim carbon creditnya melalui skema CDM, dan > dana yang diperoleh dari penjualan sertifikat reduksi emisi karbon-nya > akan cukup signifikan. Ide ini sudah mulai ditangkap oleh beberapa > developer dabn kami juga akan melakukan presentasi di hadapan REI. Kami > juga sudah melakukan presentasi di kantor Menpera untuk mendorong > komersialisasi PV di Indonesia ini. > > Demikian saya sampaikan beberapa poin yang saya sampaikan kpd wartawan > Kompas tsb. agar tidak menimbulkan salah persepsi. > > Wassalam, > Arya Rezavidi > PTKKE - BPPT > > ----- Original Message ---- > From: Aman Mostavan <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, April 30, 2008 0:34:46 > Subject: [indonesia] Re: Sel Surya Gagal Komersial > > Dengan hormat, > > Cel surya tidak gagal komersial, buktinya Jerman, Jepang dan pemain > baru > China langsung berkiprah. Perancis serta BP tetap berjaya, malah India, > Thailand dan Malaysia menuju komersialisasi tangguh. > Teknologi hibrid antara berbagai pembangkit listrik menuju pembangkit > tersebar sedang ditekuni di dunia. Seyogianya Indonesia berpacu. > > On Tue, 29 Apr 2008, Ismail Zaini wrote: > > Kenapa kok tidak mengembangkan yg sudah pasti pasti saja dalam > program > > subtitusi BBM , karena ujung ujungnya faktor ekonomi yang akan > menentukan > > berkembang atau tdk nya , disiisi lain harga minyak tdk terkendali.. > > > > ISM > > > > ================================ > > Sel Surya Gagal Komersial > > Pemerintah Tidak Punya Kemauan > > Selasa, 29 April 2008 | 01:26 WIB > > > > Jakarta, Kompas - Riset dan pengembangan teknologi sel surya sebagai > sumber > > energi listrik terbarukan oleh LIPI gagal menuju komersialisasi. > > > Oh, maaf, judul ini maksudnya untuk LIPI di Indonesia. Kita tidak dapat > mengatakan secara umum bahwa kegagalan suatu usaha komersial dunia, > hanya > mengambil contoh usaha tersebut gagal di Indonesia. > > > > Mengantisipasi krisis energi karena harga minyak terus melambung, > LIPI > > beralih fokus pada riset dan pengembangan sel bahan bakar dengan gas > > hidrogen. > > > Karena krisis energi, maka pengembangan usaha cel surya silikon dapat > ditingkatkan dengan meningkatkan efisiensi celnya dan memperbaiki > proses > manufakturnya. Ongkos proses masih ada peluang dikurangi. Peralatan > baru > perlu dipertimbangkan dan konsep teknologi nano disisipkan. > Perlu pengalihan teknologi cepat untuk peralatan semi-industri. > Berbagai > peralatan baru perlu dijajagi, seperti sambungan berlainan jenis, > penghantar murah, prosedur doping dan mengapa tidak teknologi nano. > > > > ”Teknologi sel surya tidak bisa secara penuh menggantikan bahan > bakar minyak. > > > "Sepeda, motor dan mobil tidak dapat menggantikan pesawat terbang". > Maksud saya, di tempat terpencil pembangkit surya berperan, tanpa bahan > bakar, untuk waktu lama dan tak perlu pemeliharaan serta perbaikan. > > > > Masih butuh teknologi baterai yang lebih efisien untuk menyimpan > energinya,” > > kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara > Jenie > > kepada Kompas, Senin (28/4) di Jakarta. > > > Prof.Umar Anggara JENIE betul. Maksud saya, marilah ajak pemuda > Indonesia > mencari batere lebih baik, rangkaian listrik lebih handal dan proses > pembuatan wafer lebih sempurna dari yang dibuat mereka. > Studi pengelolaan energi dengan kendali merupakan lahan yang terus > dipelajari menuju kesempurnaan sampai kini. > > > > LIPI sejak tahun 1980 menetapkan riset dan pengembangan sel surya > untuk > > mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi (listrik) dari sumber > energi > > terbarukan. Sel surya butuh sumber energi sinar matahari sebagai > sumber > > terbarukan itu. > > > Energi surya tersedia teratur setiap hari sekitar lima jam. Itu berarti > setiap tahun diperoleh 1800 jam. Untuk satu meter persegi menjadi > 1800kWh. > Di bagian bumi subtropis ketersediaan radiasi surya tidak teratur. > > > > Salah seorang peneliti sel surya dari Pusat Penelitian Elektronika > dan > > Telekomunikasi LIPI, Ika Hartika Ismet, di Bandung ketika dihubungi > kemarin > > menyatakan, sel surya sudah diteliti sampai tingkat efisiensi 10 > persen dalam > > mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Standar efisiensi > untuk bisa > > diproduksi komersial minimal 12-14 persen. > > > Untuk ibu Ika Hartika ISMET yang rendah hati tidak menyombongkan diri > bahwa beliau dapat dengan mudah melampaui efisiensi 15 %, apalagi dapat > dihimpun bantuan dari Dr.Achyar OEMRI, Dr.Ir.Irman, Prof.Totok > SUGANDHI, > Dr.Wilson Walery WENAS, Ir.Herdy WALUYO MBA, Ir.Agus HERMAN, Dr.Ir.Arya > REZAVIDI, Dr.Sutrisno, Prof.Barmawi, Dr.Sukirno serta yang muda seperti > Dr.Brian YULIARTO. Ini baru saya yang lihat. > Masih banyak peneliti dan pekerja handal cel surya dari ITS, seperti > Prof.Edy YAHYA serta kolega lain. Yakin di GAMA dan UI juga banyak. > (Tunggu saja berita bahwa di UPH ada yang paling tercanggih) > > > > Tak ada kemauan > > > > Menurut Ika, selama ini tidak ada kemauan pemerintah untuk > mengaplikasikan > > dan mengomersialisasikan sel surya secara serius sehingga Indonesia > > ketinggalan dibandingkan Singapura atau Malaysia. ”Saya merasa tua > di > > laboratorium. Tetapi, hasil riset dan pengembangan sel surya hanya > berjalan > > di tempat,” katanya. > > > Ini bukan saya yang tulis. Karena KOMPAS yang menulis, maka saya > percaya. > > > > Untuk meningkatkan efisiensi dari 10 persen menjadi 12-14 persen > tidaklah > > sulit. Menurut Ika, dibutuhkan perlengkapan plasma-enhanced chemical > vapor > > deposition dengan harga di bawah 1 juta dollar AS. > > > Ibu Ika Hartika ISMET telah menyampaikan pengetahuannya. Jadi, kalau > ada > yang berniat maka dengan mudah untuk segera berkiprah. > > > > Selain itu, secara teknis pembentuk sel surya berupa wafer silicon > > multikristal dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 0,3 mm harus ditingkatkan, > dari > > lifetime electron 1-1,5 mikro sekon (µsec) menjadi 5 µsec. > > > Ya, sebetulnya selain besaran tersebut, perlu kita pelajari juga sifat > sambungan antara suatu hantaran dengan semihantaran. Teknik hampa > tinggi > harus pula kita kuasai. Pendidikan bahan segera menjadi utama. > Mari kita ajak pemuda Indonesia bersemangat untuk menekuni Silikon > monokristal, poli dan amorf, juga Kadmium Sulfida, Galium Arsenida > serta > kombinasi lain seperti CuInSe2. > Kuasai juga pengetahuan Nano dan Dye sensitized. > > > > ”Peningkatan kemampuan itu tidak butuh biaya yang tinggi, tetapi > sampai > > sekarang tidak pernah ada investasi pengembangan sel surya,” kata > Ika. > > > Yah, sukar memang meyakinkan walaupun yang berbicara pakar mumpuni. > Diversifikasi harus disegerakan, sambil inventarisasi diteruskan. > Konservasi jangan dilupakan. > > > > Menurut Umar, tidak hanya kelengkapan teknologi sel surya yang masih > > menghadapi kendala, tetapi faktor pendukung seperti baterai sebagai > penyimpan > > arus listrik yang dihasilkan dari pengubahan sinar matahari tersebut > sampai > > sekarang belum diperoleh teknologi yang optimal. > > > Mengapa kita berhenti saat kita menghadapi kendala? Kesulitan kita > atasi. > Kita cari penyelesaian. Kita galang kerjasama di dalam negeri. > > > > Akibat gagalnya sel surya, LIPI sekarang memfokuskan diri pada > pengembangan > > teknologi sel bahan bakar. ”LIPI telah mengembangkan pembuatan > membran > > sebagai media reaksi hidrogen dengan oksigen untuk menghasilkan > energi,” ujar > > Umar. > > > Sel bahan bakar perlu dikuasai, demikian pula cel surya. Kita > seyogianya > berada di depan untuk semua penguasaan energi. > > > > Saat ini di beberapa negara seperti China sudah dikembangkan jenis > kendaraan > > dengan sumber bahan bakar gas hidrogen dengan limbah paling ramah > lingkungan, > > yaitu air murni. > > > China juga mengembangken cel surya dengan bantuan Australia. > Fuel Cell sangat perlu di Indonesia. Ini merupakan keharusan untuk > dikembangkan juga oleh kita. > > > > LIPI sekarang mengembangkan kendaraan marlip (singkatan dari marmut > listrik > > LIPI)—semula berbahan bakar listrik dari baterai, sekarang akan > diganti > > dengan gas hidrogen. (NAW) > > > Prinsip baterai dan sel bahan bakar serupa walaupun tidak sama, demkian > pula dengan hidrogen. > (Mengapa gas hidrogen? Kapan dengan penyimpan cairan hidrogen?) > > Vivat LIPI, > AM > > Send instant messages to your online friends > http://uk.messenger.yahoo.com -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt
