At 14:39 30/04/2008, Basuki Suhardiman wrote:
gini aja lah kongkritnya ...
saya ditawari untuk membantu 500 Ha sawah baru oleh para petani
...lahan tersebut lahan perhutani ,perum III , dengan pola PHBM
(Penanaman hutan bersama masyarakat) , lahan tersebut digunakan
/ditanam jati emas , kontrak 2 tahun ,
mereka bersedia untuk dibimbing , bersedia melakukan apa yang saya
minta ..rata-rata per Ha butuh dana sekiar Rp 9 Juta utk per 3 bulan
an ..(ini masih bisa di tekan cost nya ) ..
ayo gimana ?
kalau kurang , saya masih punya daerah lain di jabar , masih ada
12.000 lahan 'nganggur' yang bisa dimanfaatkan
hehehe ...
Mas Basuki, bisakah tulisannya dirubah dari "hanya" membantu petani
tetapi dirubah menjadi bersinergy kerjasama dengan petani sehingga
menguntungkan semua pihak ? supaya tidak ada kesan jika kita bantu
hanya dapat keringat saja ? :-( sehingga yang berminat lebih banyak ?
Setelah itu kita ketemu bersama untuk mencoba memecahkan yang rumit
tersebut ? mudah2an dengan sinergy bersama bisa! :-)
Salam,
Zaenal
terima kasih
-bsd-
Iskandar K wrote:
Saya rasa pendapat Mas Sulis bukan bermaksud menyalahkan, tetapi memang
fenomena itu ada di petani-2 kita, yang telah menjadi kebiasaan. Tinggal
bagaimana kita bisa meyakinkan para petani-2 itu untuk mengubah kebiasaan
mereka.
Pernah dgr curhat staf Deperindag Jatim sepuluh tahun lalu tentang bagaimana
sulitnya mengubah kebiasaan pengrajin/UKM-2 binaan di daerah-2.
Ketika diperkenalkan teknologi alat potong pembuat kripik singkong berupa
piringan mata pisau yang berputar, mereka menolak. Mereka mau pakai kalau
dikasih gratis. Akhirnya dikasih gratis, tapi hanya bertahan beberapa bulan,
dgn alasan lebih enak pakai pisau tangan, lebih sreg.
Petani-2 kita terlalu takut mencoba hal baru dari biasanya. Perlu ada
sawah-2 percontohan yang bisa menunjukkan keberhasilan, apakah dgn metode
baru, pupuk baru, bibit baru. Tinggal, harus ada sukarelawan yang berani
terjun ke lapangan, bersimbah keringat selama berbulan-2.
Pernah dgr cerita keberhasilan seorang mantan kepala Bank yang terjun
mengelola dana pinjaman modal mikro untuk membina para petani di Sulawesi
Selatan. Dia harus bangun pagi-2 mengajak para petani rajin bekerja (dia
ancam petani yang malas tidak bakal dapat pinjaman lunak lagi untuk tanam
berikutnya). Dia beli gabah mitra dgn harga lebih tinggi dari harga
tengkulak dan mem-bypass jalur distribusi untuk suplai ke pulau Jawa.
Resiko yang dia terima, dibacok dari belakang oleh seorang tengkulak yang
merasa nafkahnya direbut (dia menunjukkan ada bekas luka di punggung).
Siapa yang mau (menggapai kebahagiaan ini)?
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt
--
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG. Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.6/1402 -
Release Date: 28/04/2008 13:29