Lha anda cuma mau nyalahkan petani aja tuh ...:p (sorry no offense)
Masalahnya pemerintah tidak melihat ini suatu hal yang holistik
hanya program program gak jelas tanpa sustainability yang jelas ...
tidak ada kelanjutan satu program dengan program lain ...
lha petani ya jelas gak mau om ...
yang ngerasakan di lapangan khan mereka
yang membayar hutang kalau panen gagal atau apapun tetap aja mereka ,
bukan yang lain
kadang saya berpikir orang orang peng ijon itu lebih manusiawi
dibandingkan pemerintah itu sendiri (sorry no offense lagi ,hehehe) ..
kadang tengkulak atau preman pasar lebih manusiawi dibanding pemerintah ...
tengkulak atau preman pasar memberi "Kepastian" , sedangkan pemerintah
hanya memberi janji ...
makanya jangan salah fenomena yang terjadi di Jabar beberapa hari lalu ,
Kalau hanya berdiskusi dan jadi wacana deskriptif ,
ya tidak terjadi apa apa ....
gini aja lah kongkritnya ...
saya ditawari untuk membantu 500 Ha sawah baru oleh para petani ...lahan
tersebut lahan perhutani ,perum III , dengan pola PHBM (Penanaman hutan
bersama masyarakat) , lahan tersebut digunakan /ditanam jati emas ,
kontrak 2 tahun ,
mereka bersedia untuk dibimbing , bersedia melakukan apa yang saya minta
..rata-rata per Ha butuh dana sekiar Rp 9 Juta utk per 3 bulan an ..(ini
masih bisa di tekan cost nya ) ..
ayo gimana ?
kalau kurang , saya masih punya daerah lain di jabar , masih ada 12.000
lahan 'nganggur' yang bisa dimanfaatkan
hehehe ...
terima kasih
-bsd-
Iskandar K wrote:
Saya rasa pendapat Mas Sulis bukan bermaksud menyalahkan, tetapi memang
fenomena itu ada di petani-2 kita, yang telah menjadi kebiasaan. Tinggal
bagaimana kita bisa meyakinkan para petani-2 itu untuk mengubah kebiasaan
mereka.
Pernah dgr curhat staf Deperindag Jatim sepuluh tahun lalu tentang bagaimana
sulitnya mengubah kebiasaan pengrajin/UKM-2 binaan di daerah-2.
Ketika diperkenalkan teknologi alat potong pembuat kripik singkong berupa
piringan mata pisau yang berputar, mereka menolak. Mereka mau pakai kalau
dikasih gratis. Akhirnya dikasih gratis, tapi hanya bertahan beberapa bulan,
dgn alasan lebih enak pakai pisau tangan, lebih sreg.
Petani-2 kita terlalu takut mencoba hal baru dari biasanya. Perlu ada
sawah-2 percontohan yang bisa menunjukkan keberhasilan, apakah dgn metode
baru, pupuk baru, bibit baru. Tinggal, harus ada sukarelawan yang berani
terjun ke lapangan, bersimbah keringat selama berbulan-2.
Pernah dgr cerita keberhasilan seorang mantan kepala Bank yang terjun
mengelola dana pinjaman modal mikro untuk membina para petani di Sulawesi
Selatan. Dia harus bangun pagi-2 mengajak para petani rajin bekerja (dia
ancam petani yang malas tidak bakal dapat pinjaman lunak lagi untuk tanam
berikutnya). Dia beli gabah mitra dgn harga lebih tinggi dari harga
tengkulak dan mem-bypass jalur distribusi untuk suplai ke pulau Jawa.
Resiko yang dia terima, dibacok dari belakang oleh seorang tengkulak yang
merasa nafkahnya direbut (dia menunjukkan ada bekas luka di punggung).
Siapa yang mau (menggapai kebahagiaan ini)?
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt