This is a multipart message in MIME format.
Bung Ibnu,
Ada ide-ide yang tidak bisa disebut terlalu sederhana. Karena ide dasar ini memang harus sederhana, dan memang demikian adanya. Seperti halnya ide yang mengatakan bahwa Energi adalah Massa itu sendiri, yang dikaitkan dengan persamaan Einstein E=mC2. Sangat sederhana, meskipun proses pembuatan reaktor nuklir yang menggunaan prinsip-prinsip ini memang jauh lebih rumit dari penulisan sederhana tersebut. Tetapi prinsipnya mesti sederhana. Sederhana bukan berarti terlalu sederhana. Untuk kasus penjualan kekayaan alam dalam mata uang yang tepat, ide ini memang tidak rumit tetapi mewakili kenyataan transaksi Internasional yang ada saat ini. Seandainya kita menjual Gas Alam dengan akumulasi senilai Rp 100 Trilyun, dengan USD, yang terjadi memang Energi/Nilai ini sudah menjadi backup untuk kelahiran alat yang disebut uang USD oleh The FED sebesar 10,87 Milyar tanpa menyebabkan perubahan kurs. Kita mendapat USD 10,87 Milyar, Negara pembeli dapat Gas, Amrik dapat Yuan/Yen/yang lainnya. Dan seandainya kita menjual Gas Alam tersebut dengan Rupiah, yang terjadi adalah memang Enerti/Nilai ini sudah menjadi backup untuk kelahiran alat yang disebut uang Rupiah oleh BI sebesar Rp 100 Trilyun, tanpa menyebabkan perubahan kurs. Kita mendapatkan USD 10,87 Milyar atau Yuan/Yen yang setara, Negara pembeli dapat GAS, dan Uang Rp 100 Trilyun balik lagi ke kita. Terlepas dari Itu, strategi untuk prioritas menggunakan produksi dalam negeri yang diusulkan, bisa menjadi strategi yang ketiga setelah : 1. Jual kekayaan alam kita dengan rupiah 2. tidak mencetak uang lagi, yang membuat angka nol rupiah dipapan nilai tukar terlalu banyak dan agak memalukan. Salam, -yohan S-. From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ibnu utama Sent: Wednesday, May 07, 2008 1:22 AM To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Teka-teki revenue sharing kekayaan alam Indonesia Bung Yohan, Logika dan idealisme anda benar, tapi kondisi real perekonomian tidak mendukung ide-ide anda, dan ide-ide anda terlalu sederhana untuk menggambarkan permasalahan sebenarnya. Yang diperlukan adalah nilai kurs yang stabil. Kurs stabil inilah yang diperlukan dunia usaha untuk bergerak, karena tingkat ketidakpastian menjadi rendah. Jika nilai USD ingin anda turunkan, maka cara yang paling elegan adalah memprioritaskan pemakaian produk dalam negeri ketimbang produk luar negeri. Dengan memilih produk dalam negeri maka devisa kita tidak lari kemana-mana. Selain itu, dengan meng-konsumsi barang dalam negeri maka kesetimbangan nilai rupiah akan menguat secara fundamental terhadap mata uang asing lainnya. Ini dengan asumsi tidak ada spekulan yang memainkan nilai rupiah. Penurunan nilai USD harus dilakukan dengan hati-hati, karena nilai tambah yang dihasilkan dari ekspor akan jatuh nilainya akibat penurunan nilai USD. Jadi nilai ekspor kita akan semakin turun. Konsekuensinya, orang-orang akan cenderung melakukan impor karena adanya penurunan harga dari produk luar negeri. Dengan demikian permintaan produksi dalam negeri akan merosot. Akibat tidak langsungnya adalah tingkat pengangguran yang semakin meningkat. Yang menjadi masalah saat ini adalah uang tersebut telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan, bukan lagi sekedar gas alam, batubara, atau kayu. Ini adalah permainan para spekulan. Sekali lagi, yang diperlukan adalah kestabilan nilai kurs, agar produksi dalam negeri juga akan mendapatkan tempatnya di rumah sendiri. Salam, Ibnu Utama --- On Wed, 5/7/08, yohan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: yohan <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Teka-teki revenue sharing kekayaan alam Indonesia To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED], [email protected] Date: Wednesday, May 7, 2008, 12:22 AM Dear Rekan-Rekan, Mungkin jawaban ini tidak menggambarkan keadaan atau kejadian sebenarnya, tetapi ini adalah suatu simulasi yang bisa menyederhanakan dibalik kerumitan transaksi perdagangan internasional yang menjadi salah satu penyebab rupiah tidak kunjung meraih nilainya. Simulasi ini tidak dimaksudkan untuk mendiskritkan USD, atau usaha untuk mempercepat penurunan nilai USD, karena penurunan nilai USD dimasa-masa yang akan datang adalah suatu keniscayaan (dengan atau tanpa kambing hitam seperti subprime mortgage) dan yang akan berlangsung sampai tercapai equilibrium baru yang mungkin tidak dibayangkan sebelumnya. USD diambil sebagai contoh karena ini adalah mata uang yang kita gunakan untuk perdagangan luar negeri kita, termasuk untuk menjual barang-barang yang sangat-sangat dibutuhkan oleh Negara lain untuk mencapai kemakmurannya. Kasus pertama : Mari kita bayangkan seandainya dalam jangka waktu tertentu kita menjual Gas Alam dengan akumulasi nilai sebesar Rp 100 Trilyun pada kurs Rp 9.200 = 1 USD, menggunakan USD. Yang terjadi dibalik semua kerumitan jual beli, adalah kaidah hukum kekekalan energi dan uang adalah alat yang mewakili energi ini. Dan pelajaran dasar dalam permintaan pasar adalah pasar berada diposisi mana, lebih cenderung ke posisi jual atau lebih cenderung keposisi beli. Pada saat Gas Alam dengan akumulasi nilai Rp 100 Trilyun dilahirkan dari rahim Ibu Pertiwi, maka bersamaan dengan itu negara-negara yang membutuhkan resource yang terbatas ini, dengan segala usaha kerasnya telah menyebabkan suatu kondisi yang akan menyebabkan lahirnya USD 10,87 Milyar dari mesin cetak uang The FED untuk menjaga equilibrium 1 USD = Rp 9200,-. Ini adalah proses kelahiran normal yang elegan, karena Gas ALAM sejumlah X (dengan nilai yang belum diuangkan setara dengan Rp 100 Trilyun) perlu kelahiran uang yang mewakilinya. Kejadian ini tidak perduli dari Negara mana yang membeli Gas Alam tersebut dengan USD. Sederhananya, seandainya yang membeli adalah Negara Amerika Sendiri, maka proses kelahiran Energi dengan nilai Rp 100 Trilyun, bisa serta-merta secara legal diattach ke USD yang menyebabkan USD 10,87 Milyar USD yang mewakili Energi ini, hal ini bisa jadi karena pemerintah teramat sangt menginginkan USD 10,87 Milyar ini dibanding Gas Alam tersebut, meskipun sudah punya cadangan 58 Milyar USD misalnya. Jadi sebelum transaksi jual beli Gas Alam, telah dilahirkan USD 10,87 Milyar dari mesin cetak uang The FED. Dan saat transaksi jual beli, kita mendapatkan USD 10,87 Milyar yang dicetak tersebut, dan Amerika atau Negara yang membeli akan mendapatkan Gas Alam dengan nilai diawang-awang sebesar Rp 100 Trilyun. Amerika mencetak duit USD 10,87 Milyar dan tetap menjaga equilibrium Rp 9.200,- = 1 USD, Negara pembeli mendapat Gas Alam sebesar X, Kita mendapatkan USD 10,87 Milyar dari Negara pembeli. Jika yang membli adalah Amerika : Dari tidak ada apa-apa, kemudian kita mendapatkan 10,87 Milyar USD dan Amerika dari tidak ada apa-apa mendapatkan Gas Alam dengan nilai yang setara. Jikak yang membeli Cina : Dari tidak ada apa-apa, kemudian kita mendapatkan 10,87 Milyar USD, Amerika mendaptkan Yuan dengan nilai yang setara dengan 10,87 Milyar USD, dan Cina mendapatkan Gas Alam sebesar X. Terlepas dari siapa yang membeli, termasuk Cina atau Jepang, yang terjadi istilahnya kita mendapat 100%, dan Amrik mendapat 100%. Kasus Kedua : Mari kita bayangkan seandainya dalam jangka waktu tertentu kita menjual Gas Alam dengan akumulasi nilai sebesar Rp 100 Trilyun pada kurs Rp 9.200 = 1 USD, munggunakan Rupiah. Yang terjadi dibalik semua kerumitan jual beli, adalah kaidah hukum kekekalan energi dan uang adalah alat yang mewakili energi ini. Dan pelajaran dasar dalam permintaan pasar adalah posisi pasar berada diposisi mana, lebih cenderung ke posisi jual atau lebih cenderung keposisi beli. Dengan kelahiran Gas Alam dari bumi pertiwi tersebut, sebelum transaksi penjualan Gas Alam yang terjadi adalah, ada permintaan pembelian rupiah menggunakan USD dengan akumulasi total Rp 100 Trilyun. Jika pengurus BI bermaksud mempertahankan 1 USD = Rp 9.200,- maka mereka punya hak legal dan elegan untuk mencetak mata uang rupiah sebesar Rp 100 Trilyun. Menjual rupiah ini kenegara yang membutuhkan rupiah, dan sebagai gantinya kita mendaptkan 10,87 Milyar USD bahkan sebelum transaksi jual beli Gas Alam terjadi. Jadi ketika Negara yang membutuhan Gas Alam mendapatkannya, seperti jual-beli biasa, kita pun mendapatkan Rp 100 Trilyun tanpa menyebabkan perubahan nilai tukar 1 USD = Rp 9.200,-. Jadi untuk kasus ini kita mendapatkan Rp 100 Trilyun + 10,87 Milyar USD. Istilahnya 200%. Lanjutan kasus kedua : Itu baru Jika jual gas Alam sebesar Rp 100 trilyun, kalau jual Batu Bara dan Kayu yang akumulasinya senilai Rp 1.000 Trilyun, yang memang saking besarnya ini bisa tidak kelihatan. Ya memang Gajah kalau terlalu dekat dikelopak mata nggak bakalan kelihatan J. Seandainya kita tidak mencetak uang, dan membiarkan rupiah menguat? Seberapa kuatkan dengan transaksi Rp 100 Trilyun tersebut? Jika transaksi terjadi dalam 1 tahun, kemungkinan ada permintaan sebesar Rp 8,33 Trilyun per bulan. Dengan demikian kemungkinan besar Rupiah akan menguat sebesar 8,33/138 Trilyun = kira-kira penguatan sebesar 6 % jika tidak terjadi sentiment-sentimenan dalam transaksi bursa mata uang (kalau ada sentiment-sentimenan ya pengutannya lebih dari itu). Dalam waktu satu tahun, kira-kira rupiahpun akan menguat menjadi 1 USD = Rp 4.552,-. Ini belum lagi jika ditambah dengan pelemahan dolar karena energi/pengguna yang diwakilinya berkurang. Inilah salah satu stragegi yang akan membuat 1 Rp = 1 USD bukan mimpi disiang bolong, ini adalah sesuatu yang bisa kita capai, jauh lebih cepat dari hanya menggunakan 1 strategi biasa: tanpa cetak uang. Jadi Strategi kita adalah : 1. jual kekayaan alam kita dengan rupiah 2. tidak mencetak uang lagi, yang membuat angka nol rupiah dipapan nilai tukar terlalu banyak dan agak memalukan. Jadi lebih baik menghilangkan subsidi BBM daripada mencetak uang lagi dan kerepotan membendung penyelundupan BBM atau Minyak Mentah kenegeri tetangga. Atau lebih baik menghilangkan subsidi BBM daripada menjual 'ayam-ayam' penghasil 'emas' untuk mendapatkan 'emas' lebih banyak, atau daripada kemacetan di Jakarta dan pantura semakin parah. Dan kalau urusan pajak dan BBM kita minta ikut standar dunia, ya kami sebagai warga negara minta juga ke pemerintah kalau ngurus jalan, pendidikan, kesehatan, standar penghasilan juga bercita-cita ikut standar dunia J. Salam, -yohan S- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of yohan Sent: Tuesday, May 06, 2008 3:41 PM To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED]; [email protected] Subject: [IA-ITB] Teka-teki revenue sharing kekayaan alam Indonesia Dear rekan-rekan alumni, Berikut teka teki ala loedroek mengenai revenue sharing hasil jual kekayaan alam Indonesia yang mungkin saking besarnya tidak kelihatan, ibarat "gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan nampak". Berapakah kira-kira revenue sharing NKRI jika menjual Gas Alam dengan nilai Rp 100 Trilyun menggunakan USD? Berapakah kira-kira revenue sharing NKRI jika menjual Gas ALam dengan nilai Rp 100 Trilyun menggunakan Rupiah? Salam, -yohan S- El'93 __._,_.___ <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/message/32738;_ylc=X3oDMTM2NmV1Nm12BF9 TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBG1zZ0lkAzMyNzQyBHN lYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQR0cGNJZAMzMjczOA--> Messages in this topic (3) <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/post;_ylc=X3oDMTJxc3BhczdrBF9TAzk3MzU5 NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBG1zZ0lkAzMyNzQyBHNlYwNmdHIE c2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQ--?act=reply&messageNum=32742> Reply (via web post) | <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/post;_ylc=X3oDMTJlM3ZsanBqBF9TAzk3MzU5 NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA250cGMEc3Rp bWUDMTIxMDA2MzI3NQ--> Start a new topic <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/messages;_ylc=X3oDMTJlcDJsaGgzBF9TAzk3 MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA21zZ3ME c3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQ--> Messages *** Siapa Alumni ITB di Balikpapan, lalu sembunyi di balik papan tulis ? ;-) Jawaban ada di Database, <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/database> http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/database ! Kontak A Mufti MA79 ([EMAIL PROTECTED]) jika ada kesulitan teknis [EMAIL PROTECTED] = email untuk ikut milis IA-ITB :-) Members: 4,808 Updated: 1 May 2008 ---------------------------------------------------------------------- *** IA-ITB *** - Merajut komunitas alumni ITB - Persahabatan, Iptek, Desain, Seni, Bisnis, & Kesejahteraan <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB> http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB Managed by: IA-ITB, ITB, & 99Venus International ( <http://99venus.net/> http://99Venus.net ) ---------------------------------------------------------------------- Tips: Bebas banjir email dengan ganti-ganti 2 cara terima berikut 1. [EMAIL PROTECTED] = untuk terima normal (individual emails) 2. [EMAIL PROTECTED] = untuk terima ringkasan (daily digest) <http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJkNXFmc2cxBF9TAzk3NDc2NTkwBGdycElkAzc2M TMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA2dmcARzdGltZQMxMjEwMDYzMjc1> Image removed by sender. Yahoo! Groups <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/join;_ylc=X3oDMTJmZmcxYnNrBF9TAzk3NDc2 NTkwBGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA3N0bmdzBHN0 aW1lAzEyMTAwNjMyNzU-> Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: <mailto:[EMAIL PROTECTED]:%20Digest> Switch delivery to Daily Digest | <mailto:[EMAIL PROTECTED] t:%20Traditional> Switch format to Traditional <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB;_ylc=X3oDMTJkN2dqNDNyBF9TAzk3NDc2NTkwB GdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA2hwZgRzdGltZQMxM jEwMDYzMjc1> Visit Your Group | <http://docs.yahoo.com/info/terms/> Yahoo! Groups Terms of Use | <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe Recent Activity . 21 <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/members;_ylc=X3oDMTJmbW80Mzk3BF9TAzk3M zU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZtYnJzB HN0aW1lAzEyMTAwNjMyNzU-> New Members <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB;_ylc=X3oDMTJlMWdkcjQ2BF9TAzk3MzU5NzE0B GdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZnaHAEc3RpbWUDM TIxMDA2MzI3NQ--> Visit Your Group Search Ads <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13opmifmd/M=493064.12016308.12445700.8674578/D= groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=QjiQDULaX.0-/J=1210063275 679828/A=3848641/R=0/SIG=1312g85fq/*http:/searchmarketing.yahoo.com/arp/srch v2.php?o=US2003&cmp=Yahoo&ctv=Groups2&s=Y&s2=&s3=&b=50> Get new customers. List your web site in Yahoo! Search. Yahoo! Groups <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13ojdcq2n/M=493064.12016262.12445669.8674578/D= groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=QziQDULaX.0-/J=1210063275 679828/A=5028926/R=0/SIG=11e3tma2a/*http:/new.groups.yahoo.com/moderatorcent ral> Latest product news Join Mod. Central stay connected. Yahoo! Groups <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13o25rer7/M=493064.12016238.12823558.8674578/D= groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=RDiQDULaX.0-/J=1210063275 679828/A=5286675/R=0/SIG=11in3uvr5/*http:/new.groups.yahoo.com/planforabalan cedlife> Join a program to help you find balance in your life. -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
