Saya setuju untuk menyederhanakan semua masalah, problemnya teori anda terlalu sederhana sehingga tidak merepresentasikan masalah sesungguhnya.
Devisa dipegang oleh bank sentral, kalau di Indonesia namanya BI. Semua bank sentral di dunia memiliki struktur pemodalan yang menyimpan mata uang-mata uang asing. termasuk BI, yang memiliki beberapa kuantitas tertentu terhadap mata uang asing. Hal ini akan berguna dalam proses 'balancing' jika terjadi pergolakan terhadap mata uang lokal, dalam hal ini rupiah. Hukum yang berlaku di sini adalah hukum permintaan dan penawaran. Jika permintaan terhadap suatu mata uang meningkat, maka nilai mata uang tersebut akan meningkat pula. Jadi logika anda untuk melakukan transaksi dalam rupiah adalah logis. Namun, ada sisi lain, selain permintaan terhadap mata uang tertentu. Bukan hanya faktor permintaan seperti yang ada di benak anda, Namun ada pula sisi aset yang menjadi senjata suatu bank sentral jika terjadi pergolakan. Pergolakan ini terjadi karena adanya perdagangan mata uang lokal dalam pasar dunia yang dikuasai oleh spekulan. Hampir seluruh lembaga keuangan dunia memegang rupiah, dan ini rawan untuk dipermainkan. Hal ini yang kemudian terbukti menjadi krisis berat di sejumlah negara tertentu seperti Indonesia tahun 1997. Waktu itu BI tidak memiliki USD yang cukup untuk menyimbangkan serangan para spekulan, akhirnya rupiah KO. Dari fenomena ini, kepemilikan terhadap mata uang asing sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan nilai mata uang lokal, dalam hal ini adalah rupiah. Jadi substansi masalahnya bukanlah terletak pada mata uang yang akan digunakan dalam transaksi bisnis, namun terletak pada kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk-produk dalam negeri, sehingga devisa (apakah itu mata uang dari negeri hantu, dlsb.) tidak akan banyak lari ke luar negeri. Transaksi dalam rupiah hanya akan membantu nilai rupiah dari sisi permintaan, namun belum tentu akan menguatkan nilai rupiah itu sendiri secara fundamental, karena apakah itu rupiah atau USD, semuanya hanyalah instrumen dari perdagangan. Nah, sedangkan pencetakan rupiah tergantung dari beberapa hal: 1. Tingkat inflasi/deflasi lokal 2. Mengganti fisik rupiah yang telah rusak 3. Menetralisir jumlah uang palsu yang beredar. Jika nilai inflasi bergejolak, maka rupiah harus dikendalikan, agar kondisi tidak terlalu parah. Apakah itu dikurangi atau ditambah. Begitu juga dengan penggantian fisik rupiah, ada beberapa kondisi khusus sehingga fisik dari rupiah harus diperbaiki. Yang diperlukan adalah kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang asing, sehingga tingkat kepastian terhadap rupiah menjadi tinggi, dan terjadilah iklim bisnis yang sehat. Jadi masalahnya tidak sesederhana yang anda uraikan. Salam, Ibnu Utama --- On Wed, 5/7/08, yohan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: yohan <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Teka-teki revenue sharing kekayaan alam Indonesia > To: [email protected] > Date: Wednesday, May 7, 2008, 1:02 PM > Bung Ibnu, > > > > Ada ide-ide yang tidak bisa disebut terlalu sederhana. > Karena ide dasar ini > memang harus sederhana, dan memang demikian adanya. Seperti > halnya ide yang > mengatakan bahwa Energi adalah Massa itu sendiri, yang > dikaitkan dengan > persamaan Einstein E=mC2. Sangat sederhana, meskipun proses > pembuatan > reaktor nuklir yang menggunaan prinsip-prinsip ini memang > jauh lebih rumit > dari penulisan sederhana tersebut. Tetapi prinsipnya mesti > sederhana. > Sederhana bukan berarti terlalu sederhana. Untuk kasus > penjualan kekayaan > alam dalam mata uang yang tepat, ide ini memang tidak rumit > tetapi mewakili > kenyataan transaksi Internasional yang ada saat ini. > > > > Seandainya kita menjual Gas Alam dengan akumulasi senilai > Rp 100 Trilyun, > dengan USD, yang terjadi memang Energi/Nilai ini sudah > menjadi backup untuk > kelahiran alat yang disebut uang USD oleh The FED sebesar > 10,87 Milyar tanpa > menyebabkan perubahan kurs. Kita mendapat USD 10,87 Milyar, > Negara pembeli > dapat Gas, Amrik dapat Yuan/Yen/yang lainnya. > > > > Dan seandainya kita menjual Gas Alam tersebut dengan > Rupiah, yang terjadi > adalah memang Enerti/Nilai ini sudah menjadi backup untuk > kelahiran alat > yang disebut uang Rupiah oleh BI sebesar Rp 100 Trilyun, > tanpa menyebabkan > perubahan kurs. Kita mendapatkan USD 10,87 Milyar atau > Yuan/Yen yang setara, > Negara pembeli dapat GAS, dan Uang Rp 100 Trilyun balik > lagi ke kita. > > > > > > Terlepas dari Itu, strategi untuk prioritas menggunakan > produksi dalam > negeri yang diusulkan, bisa menjadi strategi yang ketiga > setelah : > > 1. Jual kekayaan alam kita dengan rupiah > > 2. tidak mencetak uang lagi, yang membuat angka nol > rupiah dipapan > nilai tukar terlalu banyak dan agak memalukan. > > Salam, > > -yohan S-. > > > > > > > > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ibnu > utama > Sent: Wednesday, May 07, 2008 1:22 AM > To: [email protected] > Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Teka-teki revenue sharing > kekayaan alam > Indonesia > > > > > Bung Yohan, > > > > Logika dan idealisme anda benar, tapi kondisi real > perekonomian tidak > mendukung ide-ide anda, dan ide-ide anda terlalu sederhana > untuk > menggambarkan permasalahan sebenarnya. > > > > Yang diperlukan adalah nilai kurs yang stabil. Kurs stabil > inilah yang > diperlukan dunia usaha untuk bergerak, karena tingkat > ketidakpastian menjadi > rendah. > > > > Jika nilai USD ingin anda turunkan, maka cara yang paling > elegan adalah > memprioritaskan pemakaian produk dalam negeri ketimbang > produk luar negeri. > Dengan memilih produk dalam negeri maka devisa kita tidak > lari kemana-mana. > Selain itu, dengan meng-konsumsi barang dalam negeri maka > kesetimbangan > nilai rupiah akan menguat secara fundamental terhadap mata > uang asing > lainnya. Ini dengan asumsi tidak ada spekulan yang > memainkan nilai rupiah. > > > > Penurunan nilai USD harus dilakukan dengan hati-hati, > karena nilai tambah > yang dihasilkan dari ekspor akan jatuh nilainya akibat > penurunan nilai USD. > Jadi nilai ekspor kita akan semakin turun. Konsekuensinya, > orang-orang akan > cenderung melakukan impor karena adanya penurunan harga > dari produk luar > negeri. Dengan demikian permintaan produksi dalam negeri > akan merosot. > Akibat tidak langsungnya adalah tingkat pengangguran yang > semakin meningkat. > > > > Yang menjadi masalah saat ini adalah uang tersebut telah > menjadi komoditas > yang diperjualbelikan, bukan lagi sekedar gas alam, > batubara, atau kayu. Ini > adalah permainan para spekulan. > > > > Sekali lagi, yang diperlukan adalah kestabilan nilai kurs, > agar produksi > dalam negeri juga akan mendapatkan tempatnya di rumah > sendiri. > > > > > > Salam, > > > > Ibnu Utama > > > > > > --- On Wed, 5/7/08, yohan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: yohan <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Teka-teki revenue sharing > kekayaan alam > Indonesia > To: [EMAIL PROTECTED] > Cc: [EMAIL PROTECTED], [email protected] > Date: Wednesday, May 7, 2008, 12:22 AM > > Dear Rekan-Rekan, > > > > Mungkin jawaban ini tidak menggambarkan keadaan atau > kejadian sebenarnya, > tetapi ini adalah suatu simulasi yang bisa menyederhanakan > dibalik kerumitan > transaksi perdagangan internasional yang menjadi salah satu > penyebab rupiah > tidak kunjung meraih nilainya. Simulasi ini tidak > dimaksudkan untuk > mendiskritkan USD, atau usaha untuk mempercepat penurunan > nilai USD, karena > penurunan nilai USD dimasa-masa yang akan datang adalah > suatu keniscayaan > (dengan atau tanpa kambing hitam seperti subprime mortgage) > dan yang akan > berlangsung sampai tercapai equilibrium baru yang mungkin > tidak dibayangkan > sebelumnya. USD diambil sebagai contoh karena ini adalah > mata uang yang kita > gunakan untuk perdagangan luar negeri kita, termasuk untuk > menjual > barang-barang yang sangat-sangat dibutuhkan oleh Negara > lain untuk mencapai > kemakmurannya. > > > > Kasus pertama : > > > > Mari kita bayangkan seandainya dalam jangka waktu tertentu > kita menjual Gas > Alam dengan akumulasi nilai sebesar Rp 100 Trilyun pada > kurs Rp 9.200 = 1 > USD, menggunakan USD. Yang terjadi dibalik semua kerumitan > jual beli, adalah > kaidah hukum kekekalan energi dan uang adalah alat yang > mewakili energi ini. > Dan pelajaran dasar dalam permintaan pasar adalah pasar > berada diposisi > mana, lebih cenderung ke posisi jual atau lebih cenderung > keposisi beli. > > > > Pada saat Gas Alam dengan akumulasi nilai Rp 100 Trilyun > dilahirkan dari > rahim Ibu Pertiwi, maka bersamaan dengan itu negara-negara > yang membutuhkan > resource yang terbatas ini, dengan segala usaha kerasnya > telah menyebabkan > suatu kondisi yang akan menyebabkan lahirnya USD 10,87 > Milyar dari mesin > cetak uang The FED untuk menjaga equilibrium 1 USD = Rp > 9200,-. Ini adalah > proses kelahiran normal yang elegan, karena Gas ALAM > sejumlah X (dengan > nilai yang belum diuangkan setara dengan Rp 100 Trilyun) > perlu kelahiran > uang yang mewakilinya. Kejadian ini tidak perduli dari > Negara mana yang > membeli Gas Alam tersebut dengan USD. Sederhananya, > seandainya yang membeli > adalah Negara Amerika Sendiri, maka proses kelahiran Energi > dengan nilai Rp > 100 Trilyun, bisa serta-merta secara legal diattach ke USD > yang menyebabkan > USD 10,87 Milyar USD yang mewakili Energi ini, hal ini bisa > jadi karena > pemerintah teramat sangt menginginkan USD 10,87 Milyar ini > dibanding Gas > Alam tersebut, meskipun sudah punya cadangan 58 Milyar USD > misalnya. > > > > Jadi sebelum transaksi jual beli Gas Alam, telah dilahirkan > USD 10,87 Milyar > dari mesin cetak uang The FED. Dan saat transaksi jual > beli, kita > mendapatkan USD 10,87 Milyar yang dicetak tersebut, dan > Amerika atau Negara > yang membeli akan mendapatkan Gas Alam dengan nilai > diawang-awang sebesar Rp > 100 Trilyun. > > Amerika mencetak duit USD 10,87 Milyar dan tetap menjaga > equilibrium Rp > 9.200,- = 1 USD, Negara pembeli mendapat Gas Alam sebesar > X, Kita > mendapatkan USD 10,87 Milyar dari Negara pembeli. > > > > Jika yang membli adalah Amerika : Dari tidak ada apa-apa, > kemudian kita > mendapatkan 10,87 Milyar USD dan Amerika dari tidak ada > apa-apa mendapatkan > Gas Alam dengan nilai yang setara. > > Jikak yang membeli Cina : Dari tidak ada apa-apa, kemudian > kita mendapatkan > 10,87 Milyar USD, Amerika mendaptkan Yuan dengan nilai yang > setara dengan > 10,87 Milyar USD, dan Cina mendapatkan Gas Alam sebesar X. > > > > Terlepas dari siapa yang membeli, termasuk Cina atau > Jepang, yang terjadi > istilahnya kita mendapat 100%, dan Amrik mendapat 100%. > > > > Kasus Kedua : > > > > Mari kita bayangkan seandainya dalam jangka waktu tertentu > kita menjual Gas > Alam dengan akumulasi nilai sebesar Rp 100 Trilyun pada > kurs Rp 9.200 = 1 > USD, munggunakan Rupiah. Yang terjadi dibalik semua > kerumitan jual beli, > adalah kaidah hukum kekekalan energi dan uang adalah alat > yang mewakili > energi ini. Dan pelajaran dasar dalam permintaan pasar > adalah posisi pasar > berada diposisi mana, lebih cenderung ke posisi jual atau > lebih cenderung > keposisi beli. > > > > Dengan kelahiran Gas Alam dari bumi pertiwi tersebut, > sebelum transaksi > penjualan Gas Alam yang terjadi adalah, ada permintaan > pembelian rupiah > menggunakan USD dengan akumulasi total Rp 100 Trilyun. Jika > pengurus BI > bermaksud mempertahankan 1 USD = Rp 9.200,- maka mereka > punya hak legal dan > elegan untuk mencetak mata uang rupiah sebesar Rp 100 > Trilyun. Menjual > rupiah ini kenegara yang membutuhkan rupiah, dan sebagai > gantinya kita > mendaptkan 10,87 Milyar USD bahkan sebelum transaksi jual > beli Gas Alam > terjadi. > > > > Jadi ketika Negara yang membutuhan Gas Alam mendapatkannya, > seperti > jual-beli biasa, kita pun mendapatkan Rp 100 Trilyun tanpa > menyebabkan > perubahan nilai tukar 1 USD = Rp 9.200,-. Jadi untuk kasus > ini kita > mendapatkan Rp 100 Trilyun + 10,87 Milyar USD. Istilahnya > 200%. > > > > Lanjutan kasus kedua : > > > > Itu baru Jika jual gas Alam sebesar Rp 100 trilyun, kalau > jual Batu Bara dan > Kayu yang akumulasinya senilai Rp 1.000 Trilyun, yang > memang saking besarnya > ini bisa tidak kelihatan. Ya memang Gajah kalau terlalu > dekat dikelopak mata > nggak bakalan kelihatan J. > > > > Seandainya kita tidak mencetak uang, dan membiarkan rupiah > menguat? Seberapa > kuatkan dengan transaksi Rp 100 Trilyun tersebut? Jika > transaksi terjadi > dalam 1 tahun, kemungkinan ada permintaan sebesar Rp 8,33 > Trilyun per bulan. > Dengan demikian kemungkinan besar Rupiah akan menguat > sebesar 8,33/138 > Trilyun = kira-kira penguatan sebesar 6 % jika tidak > terjadi > sentiment-sentimenan dalam transaksi bursa mata uang (kalau > ada > sentiment-sentimenan ya pengutannya lebih dari itu). Dalam > waktu satu tahun, > kira-kira rupiahpun akan menguat menjadi 1 USD = Rp > 4.552,-. Ini belum lagi > jika ditambah dengan pelemahan dolar karena energi/pengguna > yang diwakilinya > berkurang. > > > > Inilah salah satu stragegi yang akan membuat 1 Rp = 1 USD > bukan mimpi > disiang bolong, ini adalah sesuatu yang bisa kita capai, > jauh lebih cepat > dari hanya menggunakan 1 strategi biasa: tanpa cetak uang. > Jadi Strategi > kita adalah : > > 1. jual kekayaan alam kita dengan rupiah > > 2. tidak mencetak uang lagi, yang membuat angka nol > rupiah dipapan > nilai tukar terlalu banyak dan agak memalukan. > > > > Jadi lebih baik menghilangkan subsidi BBM daripada mencetak > uang lagi dan > kerepotan membendung penyelundupan BBM atau Minyak Mentah > kenegeri tetangga. > Atau lebih baik menghilangkan subsidi BBM daripada menjual > 'ayam-ayam' > penghasil 'emas' untuk mendapatkan 'emas' > lebih banyak, atau daripada > kemacetan di Jakarta dan pantura semakin parah. Dan kalau > urusan pajak dan > BBM kita minta ikut standar dunia, ya kami sebagai warga > negara minta juga > ke pemerintah kalau ngurus jalan, pendidikan, kesehatan, > standar penghasilan > juga bercita-cita ikut standar dunia J. > > > > > > Salam, > > -yohan S- > > > > > > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of > yohan > Sent: Tuesday, May 06, 2008 3:41 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [email protected] > Subject: [IA-ITB] Teka-teki revenue sharing kekayaan alam > Indonesia > > > > Dear rekan-rekan alumni, > > Berikut teka teki ala loedroek mengenai revenue sharing > hasil jual kekayaan > alam Indonesia yang mungkin saking besarnya tidak > kelihatan, ibarat "gajah > dipelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan > nampak". > > > > Berapakah kira-kira revenue sharing NKRI jika menjual Gas > Alam dengan nilai > Rp 100 Trilyun menggunakan USD? > > Berapakah kira-kira revenue sharing NKRI jika menjual Gas > ALam dengan nilai > Rp 100 Trilyun menggunakan Rupiah? > > > > Salam, > > -yohan S- > > El'93 > > __._,_.___ > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/message/32738;_ylc=X3oDMTM2NmV1Nm12BF9 > TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBG1zZ0lkAzMyNzQyBHN > lYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQR0cGNJZAMzMjczOA--> > Messages in > this topic (3) > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/post;_ylc=X3oDMTJxc3BhczdrBF9TAzk3MzU5 > NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBG1zZ0lkAzMyNzQyBHNlYwNmdHIE > c2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQ--?act=reply&messageNum=32742> > Reply (via > web post) | > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/post;_ylc=X3oDMTJlM3ZsanBqBF9TAzk3MzU5 > NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA250cGMEc3Rp > bWUDMTIxMDA2MzI3NQ--> Start a new topic > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/messages;_ylc=X3oDMTJlcDJsaGgzBF9TAzk3 > MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA21zZ3ME > c3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQ--> Messages > > *** > > Siapa Alumni ITB di Balikpapan, lalu sembunyi di balik > papan tulis ? ;-) > Jawaban ada di Database, > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/database> > http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/database ! > Kontak A Mufti MA79 ([EMAIL PROTECTED]) jika ada > kesulitan teknis > > [EMAIL PROTECTED] = email untuk ikut milis > IA-ITB :-) > > > Members: 4,808 Updated: 1 > May 2008 > ---------------------------------------------------------------------- > *** IA-ITB *** > - Merajut komunitas alumni ITB - > Persahabatan, Iptek, Desain, Seni, Bisnis, & > Kesejahteraan > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB> > http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB > > Managed by: IA-ITB, ITB, & 99Venus International ( > <http://99venus.net/> > http://99Venus.net ) > ---------------------------------------------------------------------- > > Tips: Bebas banjir email dengan ganti-ganti 2 cara terima > berikut > 1. [EMAIL PROTECTED] = untuk terima normal > (individual emails) > 2. [EMAIL PROTECTED] = untuk terima ringkasan > (daily digest) > > > > > <http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJkNXFmc2cxBF9TAzk3NDc2NTkwBGdycElkAzc2M > TMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA2dmcARzdGltZQMxMjEwMDYzMjc1> > Image removed by sender. Yahoo! Groups > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/join;_ylc=X3oDMTJmZmcxYnNrBF9TAzk3NDc2 > NTkwBGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA3N0bmdzBHN0 > aW1lAzEyMTAwNjMyNzU-> Change settings via the Web > (Yahoo! ID required) > Change settings via email: > <mailto:[EMAIL PROTECTED]:%20Digest> > Switch delivery to Daily Digest | > <mailto:[EMAIL PROTECTED] > t:%20Traditional> Switch format to Traditional > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB;_ylc=X3oDMTJkN2dqNDNyBF9TAzk3NDc2NTkwB > GdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA2hwZgRzdGltZQMxM > jEwMDYzMjc1> Visit Your Group | > <http://docs.yahoo.com/info/terms/> Yahoo! > Groups Terms of Use | > <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > Unsubscribe > > Recent Activity > > . 21 > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/members;_ylc=X3oDMTJmbW80Mzk3BF9TAzk3M > zU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZtYnJzB > HN0aW1lAzEyMTAwNjMyNzU-> New Members > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB;_ylc=X3oDMTJlMWdkcjQ2BF9TAzk3MzU5NzE0B > GdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZnaHAEc3RpbWUDM > TIxMDA2MzI3NQ--> Visit Your Group > > Search Ads > > > <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13opmifmd/M=493064.12016308.12445700.8674578/D= > groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=QjiQDULaX.0-/J=1210063275 > 679828/A=3848641/R=0/SIG=1312g85fq/*http:/searchmarketing.yahoo.com/arp/srch > v2.php?o=US2003&cmp=Yahoo&ctv=Groups2&s=Y&s2=&s3=&b=50> > Get new customers. > > List your web site > > in Yahoo! Search. > > Yahoo! Groups > > > <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13ojdcq2n/M=493064.12016262.12445669.8674578/D= > groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=QziQDULaX.0-/J=1210063275 > 679828/A=5028926/R=0/SIG=11e3tma2a/*http:/new.groups.yahoo.com/moderatorcent > ral> Latest product news > > Join Mod. Central > > stay connected. > > Yahoo! Groups > > > <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13o25rer7/M=493064.12016238.12823558.8674578/D= > groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=RDiQDULaX.0-/J=1210063275 > 679828/A=5286675/R=0/SIG=11in3uvr5/*http:/new.groups.yahoo.com/planforabalan > cedlife> Join a program > > to help you find > > balance in your life. > > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
