Bung Ibnu, Coba nanti kita kaji lebih jauh mengenai permintaan dan penawaran tersebut, nampaknya ini juga unsur yang perlu dipertimbangkan. Intinya dalam bagaimana kita menjual adalah : Ada permintaan yang luar biasa atas kekayaan alam yang dimiliki oleh NKRI, ini membawa kita pada posisi memberi penawaran. Contoh Tadi, Karena kita memiliki Gas Alam dengan nilai Rp 100 Trilyun, maka kita jual dalam rupiah. Dengan demikian ada permintaan akan rupiah, permintaan ini dari Negara yang sangat membutuhkan Gas Alam. Mereka bisa membeli rupiah dengan USD atau mata uang Negara yang bersangkutan. Dengan demikian kita tidak perlu membeli USD, tetapi USD datang kekita karena Ada Negara atau spekulan yang perlu Rupiah. Ini adalah kuncinya. Dan saat Negara yang butuh GAS tersebut membeli dengan rupiah, kita akan punya tetap Rp 100 Trilyun ditambah USD 10,87 Milyar (atau mata uang Negara yang membutuhkan). Tetapi dengan satu catatan, posisi uang rupiah menguat dengan penjelasan dalam email sebelumnya.
Rp 100 Trilyun Gas Alam itu khan hanya contoh. APa yang kita punya memang luar biasa, segala Tanah dan Perairan dengan kandungan kekayaan alam Gas, Batubara. Yang bahkan jika terisolasi, 220 juta warganya tidak akan kelaparan seperti di Afrika. Bung Ibnu coba bayangkan, secara Loedrokan, berapa Anggaran Departement Kesehatan Amerika jika 1 USD = 1 Rp. Itu jadi kecil :). Amerika tentu saja akan berusaha mati-matian untuk mengatasi ini. Tapi ini akan menjadi suratan takdir bagi Amrik he...he...Seperti ketika dia ketiban rejeki dan keberuntukan ketika Perang Dunia kedua berakhir. Salam, -yohan- -----Original Message----- ibnu utama (Sent: Wednesday, May 07, 2008 7:22 PM) wrote : Kesimpulan saya: Bung Yohan hanya meneropong masalah hanya dari sisi permintaan, tapi belum meneropong dari sisi penawaran. Bayangkan jika yang terjadi bukanlah permintaan akan rupiah, tapi beberapa pihak di luar sana 'mengobral-obral' rupiah dengan harga murah setelah melakukan permintaan yang semu. Ada baiknya bung Yohan mempelajari teknik para broker/pialang dalam mempermainkan komoditas/saham, dan komoditas kali ini adalah rupiah kita. Hal ini dapat diatasi bila BI memiliki struktur modal USD yang cukup banyak, dan persediaan USD hanya didapat bila kita melakukan eksport kekayaan alam dalam bentuk transaksi mata uang asing (USD contohnya). Nilai Rp. 100 trilyun tidak sebanding dengan perdagangan mata uang asing per harinya. Anda tahu berapa nilai omzet Wal-Mart ? Anda tahu berapa nilai quity Yahoo.com ? Anda tahu berapa nilai equity Exxon ? Anda tahu nilai anggaran departemen kesehatan Amerika per tahun ? ==> Anggaran departemen kesehatan Amerika per tahun jika di rupiahkan mencapai Rp. 5000 Trilyun per tahun !!!! Nilai omzet Wal-Mart per tahun Rp. 1700 Trilyun. Bayangkan, nilai APBN total kita per tahun hanya sekitar Rp. 500 Trilyun per tahun. Secara goblok-goblokan, Wal-Mart akan sangup menggantikan pemerintahan Indonesia dengan mendanainya selama lebih dari 3 Tahun !!! Jika BI hanya memiliki rupiah dari hasil penjualan gas alam tadi, bagaimana mengatasi permainan spekulan tersebut di atas? Justru dengan struktur USD tersebutlah permainan para spekulan dapat diantisipasi. Yang saya tahu BI sudah punya prosedur standard untuk menjaga kestabilan nilai rupiah. Salam, Ibnu Utama --- On Wed, 5/7/08, yohan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: yohan <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Teka-teki revenue sharing kekayaan alam Indonesia > To: [email protected] > Date: Wednesday, May 7, 2008, 5:33 PM > Bung Ibnu, > > Menurut saya teori yang sederhana tersebut bukanlah problem > karena tidak > merepresentasikan masalah rumit dalam perdagangan > internasional dengan > USD-nya. Tetapi kesederhanaan ini adalah suatu keunggulan, > yang > menggambarkan bagaimana suatu nilai uang perlu backup untuk > kelahirannya. > Jika tidak hanya terjadi inflasi saja, karena tidak > mewakili > pengguna/energi/nilai yang bertambah. Proses kelahiran > mata-uang adalah > normal setelah tahun 1970-an. Dulu saat mata uang dibackup > oleh Emas, Amrik > mesti mencari emas sampai kepelosok negeri agar bisa > mencetak Dollar yang > diminati oleh Negara-negara lain setelah Perang Dunai > ke-dua. > > Dalam gambaran tersebut, proses kelahiran mata-uang tetap > perlu backup. > Backup ini berupa pengguna yang semakin banyak, atau > energi/nilai yang lahir > atau diwakili oleh kelahiran mata-uang ini. Sejalan dengan > hal tersebut, > kalau ada proses kelahiran Gas Alam (senilai Rp 100 > Trilyun) dari Bumi > Pertiwi yang tadinya tidak ada, dan kita jual dalam USD, > maka yang terjadi > adalah kelahiran USD oleh the FED bisa dilakukan tanpa > merubah kurs. Amrik > bisa mencetak USD 10,87 Milyar, dan kita menjual Gas dengan > nilai Rp 100 T > dengan tukaran USD 10,87 Milyar. > > Sebaliknya, jika kita menjualnya dalam rupiah, yang terjadi > adalah > permintaan akan rupiah akan naik. Gas Alam yang lahir dari > tidak ada menjadi > ada ini, ibarat raksasa industri yang menghasilkan > barang/produk yang semula > bernilai X kemudian dijual sebesar Y (dengan selisih Y-X = > Rp 100 juta > (kenyataannya dikurangi biaya produksi dll). Jumlah > permintaan akan rupiah > ini dalam kondisi yang disederhanakan tersebut akan setara > dengan Rp 100 > Trilyun. Inilah yang bisa menyebabkan BI bisa mencetak uang > sebesar Rp 100 > Trilyun tanpa mengubah nilai tukar semula, atau membiarkan > rupiah menguat > setidaknya kira-kira sebesar Rp 100T/Uang beredar (jika > tanpa sentimen > positif pasar). > > Salam, > -yohan S- > > > -----Original Message----- > ibnu utama (Sent: Wednesday, May 07, 2008 4:26 PM) wrote : > > Saya setuju untuk menyederhanakan semua masalah, problemnya > teori anda > terlalu sederhana sehingga tidak merepresentasikan masalah > sesungguhnya. > > Devisa dipegang oleh bank sentral, kalau di Indonesia > namanya BI. Semua bank > sentral di dunia memiliki struktur pemodalan yang menyimpan > mata uang-mata > uang asing. termasuk BI, yang memiliki beberapa kuantitas > tertentu terhadap > mata uang asing. Hal ini akan berguna dalam proses > 'balancing' jika terjadi > pergolakan terhadap mata uang lokal, dalam hal ini rupiah. > > Hukum yang berlaku di sini adalah hukum permintaan dan > penawaran. Jika > permintaan terhadap suatu mata uang meningkat, maka nilai > mata uang tersebut > akan meningkat pula. Jadi logika anda untuk melakukan > transaksi dalam rupiah > adalah logis. > > Namun, ada sisi lain, selain permintaan terhadap mata uang > tertentu. Bukan > hanya faktor permintaan seperti yang ada di benak anda, > Namun ada pula sisi > aset yang menjadi senjata suatu bank sentral jika terjadi > pergolakan. > Pergolakan ini terjadi karena adanya perdagangan mata uang > lokal dalam pasar > dunia yang dikuasai oleh spekulan. Hampir seluruh lembaga > keuangan dunia > memegang rupiah, dan ini rawan untuk dipermainkan. Hal ini > yang kemudian > terbukti menjadi krisis berat di sejumlah negara tertentu > seperti Indonesia > tahun 1997. Waktu itu BI tidak memiliki USD yang cukup > untuk menyimbangkan > serangan para spekulan, akhirnya rupiah KO. > > Dari fenomena ini, kepemilikan terhadap mata uang asing > sangat diperlukan > untuk menjaga kestabilan nilai mata uang lokal, dalam hal > ini adalah rupiah. > > Jadi substansi masalahnya bukanlah terletak pada mata uang > yang akan > digunakan dalam transaksi bisnis, namun terletak pada > kesadaran masyarakat > untuk menggunakan produk-produk dalam negeri, sehingga > devisa (apakah itu > mata uang dari negeri hantu, dlsb.) tidak akan banyak lari > ke luar negeri. > > Transaksi dalam rupiah hanya akan membantu nilai rupiah > dari sisi > permintaan, namun belum tentu akan menguatkan nilai rupiah > itu sendiri > secara fundamental, karena apakah itu rupiah atau USD, > semuanya hanyalah > instrumen dari perdagangan. > > Nah, sedangkan pencetakan rupiah tergantung dari beberapa > hal: > 1. Tingkat inflasi/deflasi lokal > 2. Mengganti fisik rupiah yang telah rusak > 3. Menetralisir jumlah uang palsu yang beredar. > > Jika nilai inflasi bergejolak, maka rupiah harus > dikendalikan, agar kondisi > tidak terlalu parah. Apakah itu dikurangi atau ditambah. > Begitu juga dengan > penggantian fisik rupiah, ada beberapa kondisi khusus > sehingga fisik dari > rupiah harus diperbaiki. > > Yang diperlukan adalah kestabilan nilai rupiah terhadap > mata uang asing, > sehingga tingkat kepastian terhadap rupiah menjadi tinggi, > dan terjadilah > iklim bisnis yang sehat. > > Jadi masalahnya tidak sesederhana yang anda uraikan. > > Salam, > > Ibnu Utama > > > --- On Wed, 5/7/08, yohan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > From: yohan <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: [indonesia] Re: Teka-teki revenue sharing > kekayaan alam Indonesia > > To: [email protected] > > Date: Wednesday, May 7, 2008, 1:02 PM > > Bung Ibnu, > > > > > > > > Ada ide-ide yang tidak bisa disebut terlalu sederhana. > > Karena ide dasar ini > > memang harus sederhana, dan memang demikian adanya. > Seperti > > halnya ide yang > > mengatakan bahwa Energi adalah Massa itu sendiri, yang > > dikaitkan dengan > > persamaan Einstein E=mC2. Sangat sederhana, meskipun > proses > > pembuatan > > reaktor nuklir yang menggunaan prinsip-prinsip ini > memang > > jauh lebih rumit > > dari penulisan sederhana tersebut. Tetapi prinsipnya > mesti > > sederhana. > > Sederhana bukan berarti terlalu sederhana. Untuk kasus > > penjualan kekayaan > > alam dalam mata uang yang tepat, ide ini memang tidak > rumit > > tetapi mewakili > > kenyataan transaksi Internasional yang ada saat ini. > > > > > > > > Seandainya kita menjual Gas Alam dengan akumulasi > senilai > > Rp 100 Trilyun, > > dengan USD, yang terjadi memang Energi/Nilai ini sudah > > menjadi backup untuk > > kelahiran alat yang disebut uang USD oleh The FED > sebesar > > 10,87 Milyar tanpa > > menyebabkan perubahan kurs. Kita mendapat USD 10,87 > Milyar, > > Negara pembeli > > dapat Gas, Amrik dapat Yuan/Yen/yang lainnya. > > > > > > > > Dan seandainya kita menjual Gas Alam tersebut dengan > > Rupiah, yang terjadi > > adalah memang Enerti/Nilai ini sudah menjadi backup > untuk > > kelahiran alat > > yang disebut uang Rupiah oleh BI sebesar Rp 100 > Trilyun, > > tanpa menyebabkan > > perubahan kurs. Kita mendapatkan USD 10,87 Milyar atau > > Yuan/Yen yang setara, > > Negara pembeli dapat GAS, dan Uang Rp 100 Trilyun > balik > > lagi ke kita. > > > > > > > > > > > > Terlepas dari Itu, strategi untuk prioritas > menggunakan > > produksi dalam > > negeri yang diusulkan, bisa menjadi strategi yang > ketiga > > setelah : > > > > 1. Jual kekayaan alam kita dengan rupiah > > > > 2. tidak mencetak uang lagi, yang membuat angka > nol > > rupiah dipapan > > nilai tukar terlalu banyak dan agak memalukan. > > > > Salam, > > > > -yohan S-. > > > > > > > > > > > > > > > > From: [EMAIL PROTECTED] > > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of > ibnu > > utama > > Sent: Wednesday, May 07, 2008 1:22 AM > > To: [email protected] > > Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Teka-teki revenue > sharing > > kekayaan alam > > Indonesia > > > > > > > > > > Bung Yohan, > > > > > > > > Logika dan idealisme anda benar, tapi kondisi real > > perekonomian tidak > > mendukung ide-ide anda, dan ide-ide anda terlalu > sederhana > > untuk > > menggambarkan permasalahan sebenarnya. > > > > > > > > Yang diperlukan adalah nilai kurs yang stabil. Kurs > stabil > > inilah yang > > diperlukan dunia usaha untuk bergerak, karena tingkat > > ketidakpastian menjadi > > rendah. > > > > > > > > Jika nilai USD ingin anda turunkan, maka cara yang > paling > > elegan adalah > > memprioritaskan pemakaian produk dalam negeri > ketimbang > > produk luar negeri. > > Dengan memilih produk dalam negeri maka devisa kita > tidak > > lari kemana-mana. > > Selain itu, dengan meng-konsumsi barang dalam negeri > maka > > kesetimbangan > > nilai rupiah akan menguat secara fundamental terhadap > mata > > uang asing > > lainnya. Ini dengan asumsi tidak ada spekulan yang > > memainkan nilai rupiah. > > > > > > > > Penurunan nilai USD harus dilakukan dengan hati-hati, > > karena nilai tambah > > yang dihasilkan dari ekspor akan jatuh nilainya akibat > > penurunan nilai USD. > > Jadi nilai ekspor kita akan semakin turun. > Konsekuensinya, > > orang-orang akan > > cenderung melakukan impor karena adanya penurunan > harga > > dari produk luar > > negeri. Dengan demikian permintaan produksi dalam > negeri > > akan merosot. > > Akibat tidak langsungnya adalah tingkat pengangguran > yang > > semakin meningkat. > > > > > > > > Yang menjadi masalah saat ini adalah uang tersebut > telah > > menjadi komoditas > > yang diperjualbelikan, bukan lagi sekedar gas alam, > > batubara, atau kayu. Ini > > adalah permainan para spekulan. > > > > > > > > Sekali lagi, yang diperlukan adalah kestabilan nilai > kurs, > > agar produksi > > dalam negeri juga akan mendapatkan tempatnya di rumah > > sendiri. > > > > > > > > > > > > Salam, > > > > > > > > Ibnu Utama > > > > > > > > > > > > --- On Wed, 5/7/08, yohan <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > From: yohan <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: [indonesia] Re: [IA-ITB] Teka-teki revenue > sharing > > kekayaan alam > > Indonesia > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Cc: [EMAIL PROTECTED], [email protected] > > Date: Wednesday, May 7, 2008, 12:22 AM > > > > Dear Rekan-Rekan, > > > > > > > > Mungkin jawaban ini tidak menggambarkan keadaan atau > > kejadian sebenarnya, > > tetapi ini adalah suatu simulasi yang bisa > menyederhanakan > > dibalik kerumitan > > transaksi perdagangan internasional yang menjadi salah > satu > > penyebab rupiah > > tidak kunjung meraih nilainya. Simulasi ini tidak > > dimaksudkan untuk > > mendiskritkan USD, atau usaha untuk mempercepat > penurunan > > nilai USD, karena > > penurunan nilai USD dimasa-masa yang akan datang > adalah > > suatu keniscayaan > > (dengan atau tanpa kambing hitam seperti subprime > mortgage) > > dan yang akan > > berlangsung sampai tercapai equilibrium baru yang > mungkin > > tidak dibayangkan > > sebelumnya. USD diambil sebagai contoh karena ini > adalah > > mata uang yang kita > > gunakan untuk perdagangan luar negeri kita, termasuk > untuk > > menjual > > barang-barang yang sangat-sangat dibutuhkan oleh > Negara > > lain untuk mencapai > > kemakmurannya. > > > > > > > > Kasus pertama : > > > > > > > > Mari kita bayangkan seandainya dalam jangka waktu > tertentu > > kita menjual Gas > > Alam dengan akumulasi nilai sebesar Rp 100 Trilyun > pada > > kurs Rp 9.200 = 1 > > USD, menggunakan USD. Yang terjadi dibalik semua > kerumitan > > jual beli, adalah > > kaidah hukum kekekalan energi dan uang adalah alat > yang > > mewakili energi ini. > > Dan pelajaran dasar dalam permintaan pasar adalah > pasar > > berada diposisi > > mana, lebih cenderung ke posisi jual atau lebih > cenderung > > keposisi beli. > > > > > > > > Pada saat Gas Alam dengan akumulasi nilai Rp 100 > Trilyun > > dilahirkan dari > > rahim Ibu Pertiwi, maka bersamaan dengan itu > negara-negara > > yang membutuhkan > > resource yang terbatas ini, dengan segala usaha > kerasnya > > telah menyebabkan > > suatu kondisi yang akan menyebabkan lahirnya USD 10,87 > > Milyar dari mesin > > cetak uang The FED untuk menjaga equilibrium 1 USD = > Rp > > 9200,-. Ini adalah > > proses kelahiran normal yang elegan, karena Gas ALAM > > sejumlah X (dengan > > nilai yang belum diuangkan setara dengan Rp 100 > Trilyun) > > perlu kelahiran > > uang yang mewakilinya. Kejadian ini tidak perduli dari > > Negara mana yang > > membeli Gas Alam tersebut dengan USD. Sederhananya, > > seandainya yang membeli > > adalah Negara Amerika Sendiri, maka proses kelahiran > Energi > > dengan nilai Rp > > 100 Trilyun, bisa serta-merta secara legal diattach ke > USD > > yang menyebabkan > > USD 10,87 Milyar USD yang mewakili Energi ini, hal ini > bisa > > jadi karena > > pemerintah teramat sangt menginginkan USD 10,87 Milyar > ini > > dibanding Gas > > Alam tersebut, meskipun sudah punya cadangan 58 Milyar > USD > > misalnya. > > > > > > > > Jadi sebelum transaksi jual beli Gas Alam, telah > dilahirkan > > USD 10,87 Milyar > > dari mesin cetak uang The FED. Dan saat transaksi jual > > beli, kita > > mendapatkan USD 10,87 Milyar yang dicetak tersebut, > dan > > Amerika atau Negara > > yang membeli akan mendapatkan Gas Alam dengan nilai > > diawang-awang sebesar Rp > > 100 Trilyun. > > > > Amerika mencetak duit USD 10,87 Milyar dan tetap > menjaga > > equilibrium Rp > > 9.200,- = 1 USD, Negara pembeli mendapat Gas Alam > sebesar > > X, Kita > > mendapatkan USD 10,87 Milyar dari Negara pembeli. > > > > > > > > Jika yang membli adalah Amerika : Dari tidak ada > apa-apa, > > kemudian kita > > mendapatkan 10,87 Milyar USD dan Amerika dari tidak > ada > > apa-apa mendapatkan > > Gas Alam dengan nilai yang setara. > > > > Jikak yang membeli Cina : Dari tidak ada apa-apa, > kemudian > > kita mendapatkan > > 10,87 Milyar USD, Amerika mendaptkan Yuan dengan nilai > yang > > setara dengan > > 10,87 Milyar USD, dan Cina mendapatkan Gas Alam > sebesar X. > > > > > > > > Terlepas dari siapa yang membeli, termasuk Cina atau > > Jepang, yang terjadi > > istilahnya kita mendapat 100%, dan Amrik mendapat > 100%. > > > > > > > > Kasus Kedua : > > > > > > > > Mari kita bayangkan seandainya dalam jangka waktu > tertentu > > kita menjual Gas > > Alam dengan akumulasi nilai sebesar Rp 100 Trilyun > pada > > kurs Rp 9.200 = 1 > > USD, munggunakan Rupiah. Yang terjadi dibalik semua > > kerumitan jual beli, > > adalah kaidah hukum kekekalan energi dan uang adalah > alat > > yang mewakili > > energi ini. Dan pelajaran dasar dalam permintaan pasar > > adalah posisi pasar > > berada diposisi mana, lebih cenderung ke posisi jual > atau > > lebih cenderung > > keposisi beli. > > > > > > > > Dengan kelahiran Gas Alam dari bumi pertiwi tersebut, > > sebelum transaksi > > penjualan Gas Alam yang terjadi adalah, ada permintaan > > pembelian rupiah > > menggunakan USD dengan akumulasi total Rp 100 Trilyun. > Jika > > pengurus BI > > bermaksud mempertahankan 1 USD = Rp 9.200,- maka > mereka > > punya hak legal dan > > elegan untuk mencetak mata uang rupiah sebesar Rp 100 > > Trilyun. Menjual > > rupiah ini kenegara yang membutuhkan rupiah, dan > sebagai > > gantinya kita > > mendaptkan 10,87 Milyar USD bahkan sebelum transaksi > jual > > beli Gas Alam > > terjadi. > > > > > > > > Jadi ketika Negara yang membutuhan Gas Alam > mendapatkannya, > > seperti > > jual-beli biasa, kita pun mendapatkan Rp 100 Trilyun > tanpa > > menyebabkan > > perubahan nilai tukar 1 USD = Rp 9.200,-. Jadi untuk > kasus > > ini kita > > mendapatkan Rp 100 Trilyun + 10,87 Milyar USD. > Istilahnya > > 200%. > > > > > > > > Lanjutan kasus kedua : > > > > > > > > Itu baru Jika jual gas Alam sebesar Rp 100 trilyun, > kalau > > jual Batu Bara dan > > Kayu yang akumulasinya senilai Rp 1.000 Trilyun, yang > > memang saking besarnya > > ini bisa tidak kelihatan. Ya memang Gajah kalau > terlalu > > dekat dikelopak mata > > nggak bakalan kelihatan J. > > > > > > > > Seandainya kita tidak mencetak uang, dan membiarkan > rupiah > > menguat? Seberapa > > kuatkan dengan transaksi Rp 100 Trilyun tersebut? Jika > > transaksi terjadi > > dalam 1 tahun, kemungkinan ada permintaan sebesar Rp > 8,33 > > Trilyun per bulan. > > Dengan demikian kemungkinan besar Rupiah akan menguat > > sebesar 8,33/138 > > Trilyun = kira-kira penguatan sebesar 6 % jika tidak > > terjadi > > sentiment-sentimenan dalam transaksi bursa mata uang > (kalau > > ada > > sentiment-sentimenan ya pengutannya lebih dari itu). > Dalam > > waktu satu tahun, > > kira-kira rupiahpun akan menguat menjadi 1 USD = Rp > > 4.552,-. Ini belum lagi > > jika ditambah dengan pelemahan dolar karena > energi/pengguna > > yang diwakilinya > > berkurang. > > > > > > > > Inilah salah satu stragegi yang akan membuat 1 Rp = 1 > USD > > bukan mimpi > > disiang bolong, ini adalah sesuatu yang bisa kita > capai, > > jauh lebih cepat > > dari hanya menggunakan 1 strategi biasa: tanpa cetak > uang. > > Jadi Strategi > > kita adalah : > > > > 1. jual kekayaan alam kita dengan rupiah > > > > 2. tidak mencetak uang lagi, yang membuat angka > nol > > rupiah dipapan > > nilai tukar terlalu banyak dan agak memalukan. > > > > > > > > Jadi lebih baik menghilangkan subsidi BBM daripada > mencetak > > uang lagi dan > > kerepotan membendung penyelundupan BBM atau Minyak > Mentah > > kenegeri tetangga. > > Atau lebih baik menghilangkan subsidi BBM daripada > menjual > > 'ayam-ayam' > > penghasil 'emas' untuk mendapatkan > 'emas' > > lebih banyak, atau daripada > > kemacetan di Jakarta dan pantura semakin parah. Dan > kalau > > urusan pajak dan > > BBM kita minta ikut standar dunia, ya kami sebagai > warga > > negara minta juga > > ke pemerintah kalau ngurus jalan, pendidikan, > kesehatan, > > standar penghasilan > > juga bercita-cita ikut standar dunia J. > > > > > > > > > > > > Salam, > > > > -yohan S- > > > > > > > > > > > > From: [EMAIL PROTECTED] > > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of > > yohan > > Sent: Tuesday, May 06, 2008 3:41 PM > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [email protected] > > Subject: [IA-ITB] Teka-teki revenue sharing kekayaan > alam > > Indonesia > > > > > > > > Dear rekan-rekan alumni, > > > > Berikut teka teki ala loedroek mengenai revenue > sharing > > hasil jual kekayaan > > alam Indonesia yang mungkin saking besarnya tidak > > kelihatan, ibarat "gajah > > dipelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan > > nampak". > > > > > > > > Berapakah kira-kira revenue sharing NKRI jika menjual > Gas > > Alam dengan nilai > > Rp 100 Trilyun menggunakan USD? > > > > Berapakah kira-kira revenue sharing NKRI jika menjual > Gas > > ALam dengan nilai > > Rp 100 Trilyun menggunakan Rupiah? > > > > > > > > Salam, > > > > -yohan S- > > > > El'93 > > > > __._,_.___ > > > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/message/32738;_ylc=X3oDMTM2NmV1Nm12BF9 > > > TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBG1zZ0lkAzMyNzQyBHN > > > lYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQR0cGNJZAMzMjczOA--> > > Messages in > > this topic (3) > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/post;_ylc=X3oDMTJxc3BhczdrBF9TAzk3MzU5 > > > NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBG1zZ0lkAzMyNzQyBHNlYwNmdHIE > > > c2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQ--?act=reply&messageNum=32742> > > Reply (via > > web post) | > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/post;_ylc=X3oDMTJlM3ZsanBqBF9TAzk3MzU5 > > > NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA250cGMEc3Rp > > bWUDMTIxMDA2MzI3NQ--> Start a new topic > > > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/messages;_ylc=X3oDMTJlcDJsaGgzBF9TAzk3 > > > MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA21zZ3ME > > c3RpbWUDMTIxMDA2MzI3NQ--> Messages > > > > *** > > > > Siapa Alumni ITB di Balikpapan, lalu sembunyi di balik > > papan tulis ? ;-) > > Jawaban ada di Database, > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/database> > > http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/database ! > > Kontak A Mufti MA79 ([EMAIL PROTECTED]) jika ada > > kesulitan teknis > > > > [EMAIL PROTECTED] = email untuk ikut > milis > > IA-ITB :-) > > > > > > Members: 4,808 > Updated: 1 > > May 2008 > > > ---------------------------------------------------------------------- > > *** IA-ITB *** > > - Merajut komunitas alumni ITB - > > Persahabatan, Iptek, Desain, Seni, Bisnis, & > > Kesejahteraan > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB> > > http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB > > > > Managed by: IA-ITB, ITB, & 99Venus International ( > > <http://99venus.net/> > > http://99Venus.net ) > > > ---------------------------------------------------------------------- > > > > Tips: Bebas banjir email dengan ganti-ganti 2 cara > terima > > berikut > > 1. [EMAIL PROTECTED] = untuk terima normal > > (individual emails) > > 2. [EMAIL PROTECTED] = untuk terima > ringkasan > > (daily digest) > > > > > > > > > > > <http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJkNXFmc2cxBF9TAzk3NDc2NTkwBGdycElkAzc2M > > > TMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA2dmcARzdGltZQMxMjEwMDYzMjc1> > > Image removed by sender. Yahoo! Groups > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/join;_ylc=X3oDMTJmZmcxYnNrBF9TAzk3NDc2 > > > NTkwBGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA3N0bmdzBHN0 > > aW1lAzEyMTAwNjMyNzU-> Change settings via the Web > > (Yahoo! ID required) > > Change settings via email: > > > <mailto:[EMAIL PROTECTED]:%20Digest> > > Switch delivery to Daily Digest | > > > <mailto:[EMAIL PROTECTED] > > t:%20Traditional> Switch format to Traditional > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB;_ylc=X3oDMTJkN2dqNDNyBF9TAzk3NDc2NTkwB > > > GdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA2hwZgRzdGltZQMxM > > jEwMDYzMjc1> Visit Your Group | > > <http://docs.yahoo.com/info/terms/> Yahoo! > > Groups Terms of Use | > > > <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > > Unsubscribe > > > > Recent Activity > > > > . 21 > > > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/members;_ylc=X3oDMTJmbW80Mzk3BF9TAzk3M > > > zU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZtYnJzB > > HN0aW1lAzEyMTAwNjMyNzU-> New Members > > > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB;_ylc=X3oDMTJlMWdkcjQ2BF9TAzk3MzU5NzE0B > > > GdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZnaHAEc3RpbWUDM > > TIxMDA2MzI3NQ--> Visit Your Group > > > > Search Ads > > > > > > > <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13opmifmd/M=493064.12016308.12445700.8674578/D= > > > groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=QjiQDULaX.0-/J=1210063275 > > > 679828/A=3848641/R=0/SIG=1312g85fq/*http:/searchmarketing.yahoo.com/arp/srch > > > v2.php?o=US2003&cmp=Yahoo&ctv=Groups2&s=Y&s2=&s3=&b=50> > > Get new customers. > > > > List your web site > > > > in Yahoo! Search. > > > > Yahoo! Groups > > > > > > > <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13ojdcq2n/M=493064.12016262.12445669.8674578/D= > > > groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=QziQDULaX.0-/J=1210063275 > > > 679828/A=5028926/R=0/SIG=11e3tma2a/*http:/new.groups.yahoo.com/moderatorcent > > ral> Latest product news > > > > Join Mod. Central > > > > stay connected. > > > > Yahoo! Groups > > > > > > > <http://us.ard.yahoo.com/SIG=13o25rer7/M=493064.12016238.12823558.8674578/D= > > > groups/S=1705240560:NC/Y=YAHOO/EXP=1210070475/L=/B=RDiQDULaX.0-/J=1210063275 > > > 679828/A=5286675/R=0/SIG=11in3uvr5/*http:/new.groups.yahoo.com/planforabalan > > cedlife> Join a program > > > > to help you find > > > > balance in your life. > > > > > > -- > > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah > > ilmu/teknologi serta > > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi > kebahagiaan > > dunia dan akhirat. > > > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > > > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > > > ____________________________________________________________________________ > ________ > Be a better friend, newshound, and > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > > -- > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.23.7/1410 - Release > Date: 5/1/2008 > 5:30 PM > > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt ____________________________________________________________________________ ________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt -- No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.23.7/1410 - Release Date: 5/1/2008 5:30 PM PT.CITRA SARI MAKMUR SATELLITE & TERRESTRIAL NETWORK Connecting the distance - anytime, anywhere, any content http://www.csmcom.com http://www.3g-net.net -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
